Menu

Mode Gelap

Opini · 9 Mar 2022 10:00 WIB ·

Memperkuat Kearifan Lokal Untuk Menjaga Agama Yang Damai


					Memperkuat Kearifan Lokal Untuk Menjaga Agama Yang Damai Perbesar

Jalanhijrah.comDalam masyarakat Indonesia yang beranekaragam tentu ada konflik yang dipicu atas nama agama. Padahal sejatinya agama sudah mengajarkan tentang sikap hormat dan saling menghormati sesama. Yang memicu adanya konflik seperti kepentingan suatu kelompok untuk mendapat kekuasaan. Untuk menjaga konflik yang mengatasnamakan agama maka perlunya moderasi beragama sehingga tidak salah paham dalam memahami agama.

Ketegangan konflik di tengah masyarakat dalam kehidupan yang modern ini tentu ada. Baiksecara individu antar individu atau kelompok antar kelompok. Maka disinilah perlu adanya pendekatan kultural dengan cara memperkuat kearifan lokal untuk menciptakan ajaran agama dan sikap dalam beragama yang damai. Karena di dalam kearifan lokal ada pesan-pesan luhuryang dalam tentang ajaran kedamaian.

Akan tetapi cara pertama melalui pendekatan kultural tidak bisa dikatakan langsung berhasil tanpa dibarengi dengan paham keagamaan dengan cara yang tepat dan bijak. Pesanpesan agama bisa menjadi sesuatu yang mendasar untuk menjadi pijakan masyarakat dalam bertingkah laku. Sedangkan masyarakat yang berbeda-beda suku tentu ada sikap yang berbeda-beda bertisifat fanatik dengan keyakinannya. Maka dengan cara pendekatan keagamaan menjadi pilihan untuk bisa membangun ummat yang harmonis.

Pendekatan kultural tentu pendekatan yang disebut sikap beragama yang damai artinya adalah sesuai dengan kultur kehidupan masyarakat itu sendiri. Melalui pendekatan inilah moderasi beragama akan tercipta sifat yang ramah, toleran, terbuka dan tidak mudah menyalahkan.

Baca Juga  Dampak Media Sosial dan Bagaimana Cara Mensyukurinya

Bila melihat sejarah tentang moderasi Islam telah di contohkan oleh para Nabi, Sahabat, Ulama-Ulama yang berlaku adil dengan mencontohkan tanpa harus melihat latar belakang agama, ras, suku dan bahasa.  Datangnya Islam tentu melalui interaksi budaya dan tradisi sehingga sampai saat ini Islam dapat diterima sebagai agama yang santun dan rahmah. Dengan demikian perlu adanya kesadaran multikultural pada bangsa kita sendiri, dengan adanya kesadaran kultural akan memupuk sikap moderasi beragama. Karena di dalam mewujudkan moderasi beragama perluadanya dukungan dari semua lapisan masyarakat baik dari pemerintah, para tokoh bangsa, ulama, dan para penyuluh-penyuluh agama yang tersebar di setiap penjuru daerah.

Menumbuhkan sikap moderat pada masyarakat dengan cara pendekatan agama dan pendekatan multikultural. Melalui prosedur pendekatan agama, kemudian menyadari bahwa pentingnya kesadaran dalam melihat suatu budaya yang ada.

Konsep tawasuth yang sering di sampaikan di dalam forum – forum acara keagamaan mempunyai arti yang sama yaitu moderat. Islam mempunyai ajaran yang moderat, dengan ajaran untuk tidak berlebih-lebihan dalam beragama atau yang biasa disebut dengan sikap ekstream(ghuluw). Kemudian setelah adanya moderat sikap selanjutnya adalah tawazun (seimbang) dengan arti yang sama mengarah kepada sikap yang netral tidak memihak ke kanan dan ke kiri dengan memahami agama sebagai keselamatan dengan tidak saling menyalahkan setiap orang dan menganggap golongan lain benar melalui cara-cara yang ekstream.

Baca Juga  Khilafah dan Jihad Itu Boleh, Mengapa Harus Diberantas?

Berangkat dari sikap washatiyah yang mempunyai arti seimbang. Washatiyah dalam konteks keIndonesiaan adalah keseimbangan antara menjaga agama dan menjaga kitab suci dengan penerapan kontekstual agar memahami suatu teks dan agama melihat kepada realita dan zaman yang ada. Moderasi Islam sangat esensial karena ajarannya mudah dan dapat diterima. Ajaran yang melihat ketaatan kepada Allah SWT dengan cara beribadah dan menjauhi larangan, kepedulian kepada sesama manusia serta cinta kepada alam.

Moderasi Islam mengedepankan persaudaraan dengan landasan asas kemanusiaan, asas keimanan dan asas kebangsaan. Sehingga disadari di dalam Islam kepeduliaan kepada sesamadan ketaatan kepada Sang Pencipta adalah bagian dari moderasi beragama. Kearifan lokal yang ada di nusantara Indonesia adalah peninggalan leluhur yang terkandung nilai-nilai luhur seperti tradisi, adat dan kebudayaan masyarakat yang masih ada sampai saat ini seperti pertunjukan seni wayang adalah salah satu media penyebaran agama Islam yang damai dan diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Maka, diperlukan peran pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk terus mensosialisasikan pentingnya moderasi beragama untuk menumbuhkan dan mengembangkan inovasi-inovasi beragama dengan damai tanpa kekerasan. Dalam rangka untuk mewujudkan keharmonisan dan kedamaian. Sosialisasi moderasi beragama melalui seminar kebangsaan, sarasehan agama, pengajian, dialog kebangsaan dengan lingkup acara besar maupun kecil asalterus berjalan dengan niat untuk merawat kebhinnekaan dan menjaga hubungan antar umat beragama yang damai, sejahtera dan saling menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan setiap manusia.

Artikel ini telah dibaca 23 kali

Baca Lainnya

Mengkaji Konsep al-ikrah (Paksaan) dalam Kekerasan Seksual

24 Juni 2022 - 09:53 WIB

Mengkaji Konsep al-ikrah (Paksaan) dalam Kekerasan Seksual

Catatan Perkuliahan Agama, Seksusalitas dan Gender Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Analisis Ketidak Adilan Gender

11 Mei 2022 - 12:00 WIB

Catatan Perkuliahan Agama, Seksusalitas dan Gender Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Analisis Ketidak Adilan Gender

Masyarakat Urban, Alienasi, dan Sinergi Tiga Dialektika Keberagamaan

4 Mei 2022 - 15:00 WIB

Masyarakat Urban, Alienasi, dan Sinergi Tiga Dialektika Keberagamaan

Couple Prenatal Gentle Yoga: Bentuk Komunikasi Suportif Suami Istri pada Masa Kehamilan

21 April 2022 - 12:00 WIB

Couple Prenatal Gentle Yoga: Bentuk Komunikasi Suportif Suami Istri pada Masa Kehamilan

Perempuan dan Pendidikan

24 Maret 2022 - 09:00 WIB

Perempuan dan Pendidikan

Etos Semangat Kerja: Belajar dari Lebah

12 Maret 2022 - 10:00 WIB

Etos Semangat Kerja: Belajar dari Lebah
Trending di Opini