Beranda / Milenial / Luka Palestina: Melawan Narasi Mitos Zionis

Luka Palestina: Melawan Narasi Mitos Zionis

jalanhijrah.id – Sinar matahari menyentuh daun zaitun di sebuah sore yang perlahan menyelimuti lembah Palestina pada akhir abad ke-19. Cahaya itu memantul dari kubah sebuah masjid kecil dan meresap ke dalam pasar tempat orang-orang bertransaksi gandum, kain, dan rempah-rempah. Anak-anak berlarian di antara rumah-rumah batu berwarna kapur, sementara suara azan bergema bersahutan dengan dentingan lonceng gereja.

Palestina bukanlah wilayah kosong tanpa kehidupan. Ia adalah tempat yang hidup, penuh dengan jejak langkah dan doa. Namun, dalam bayangan sebagian kaum Zionis awal, tanah ini dianggap sebagai tabula rasa, kertas putih yang menunggu untuk diisi dengan impian mereka.

Ungkapan terkenal, “sebuah tanah tanpa rakyat untuk sebuah rakyat tanpa tanah”, lebih dari sekedar slogan. Ia merupakan mantra politik yang menyangkal fakta, membungkus kolonialisme dengan janji utopia. Kalimat itu menjadikan Palestina sebagai lanskap kosong, seolah-olah para petani, penggembala, pedagang, dan penduduk desa Arab hanyalah bayangan yang bisa dihapus dari peta. Di sinilah terletak luka mendalam: bagaimana sebuah mitos dapat menciptakan sejarah yang menyingkirkan yang lain.

Jean Améry, seorang intelektual dan penyintas Holocaust yang menulis dengan nada getir setelah Perang Dunia II, memahami bahwa Zionisme lahir bukan hanya dari harapan, tapi juga dari ketakutan kolektif yang dipicu oleh antisemitisme modern. Baginya, menolak eksistensi Yahudi sama dengan membuka pintu bagi kebiadaban lain. Namun ia juga menyadari bahwa setiap proyek yang lahir dari ketakutan berpotensi menciptakan bayangan baru, termasuk pengabaian terhadap penduduk asli tanah tersebut.

Esai ini mengeksplorasi mitos tanah kosong yang menjadi dasar simbolik narasi Zionis awal, menggali akar kolonialnya, menyingkap realitas demografi Palestina, serta mengurai bagaimana gagasan itu, meskipun semu, sangat berbahaya karena memicu konflik berkepanjangan.

Imajinasi Zionis

Zionisme tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh di Eropa abad ke-19, saat nasionalisme menjadi sebuah agama baru yang menawarkan keselamatan lewat tanah air, bendera, dan bahasa. Bagi orang Yahudi yang telah lama dipinggirkan dalam sejarah Eropa, nasionalisme memberikan janji pengakuan sekaligus menegaskan keterasingan mereka. Antisemitisme modern yang sistematis dan rasial menjadi bahan bakar bagi pencarian tanah air baru.

Theodor Herzl, seorang jurnalis Wina yang menjadi “nabi” Zionisme politik, memandang Palestina sebagai panggung bagi bangsa Yahudi untuk menulis ulang nasib mereka. Dalam novelnya Altneuland (1902), ia menggambarkan negeri utopis di mana teknologi dan modernitas berpadu dalam sebuah tanah yang dianggap “kosong” dari jejak sejarah lain. Namun seperti ditunjukkan Dekel Peretz, karya itu tak hanya utopia, melainkan juga mengandung unsur kolonialisme Jerman, dengan gagasan tentang “penyembuhan tanah yang rusak” melalui ilmu pengetahuan dan rasionalitas Barat.

Kolonialisme menjadi latar tak kasat mata proyek Zionis awal. Saat Eropa membagi Afrika dan Asia, Zionisme mengadopsi bahasa dan konsep kolonial seperti “eksplorasi”, “pemulihan”, dan “peradaban”. Kongres Zionis keempat di London (1900) bahkan berlangsung di tengah gelombang imperialisme Inggris di Afrika Selatan. Zionisme muncul di tengah proses anglicisasi Yahudi Inggris sebagai bentuk nasionalisme baru yang menyerap simbol dan estetika kolonial.

Namun akar mitos “tanah tanpa rakyat” tidak hanya berasal dari kolonialisme Eropa. Ia juga berakar pada kerinduan religius dan romantisisme eksil Yahudi. Zaitun dan Yerusalem bukan hanya tempat fisik, tetapi metafora pulang dan doa yang diulang dalam liturgi. Zionisme menggabungkan hasrat religius ini dengan logika nasionalisme modern, menghasilkan narasi yang tampak tak terbantahkan: bahwa orang Yahudi “kembali” ke tanah leluhur. Yang terlewat adalah fakta bahwa “kembali” ini berarti “mengusir” penduduk yang sudah lama menetap.

Menurut Penslar, Zionisme adalah “keadaan emosional” yang lahir dari campuran cinta, trauma, ketakutan, dan keinginan pengakuan. Mitos tanah kosong adalah salah satu manifestasi paling nyata dari emosi itu. Ia menjadi strategi lupa: dengan membayangkan tanah tanpa penduduk, Zionisme awal dapat meyakinkan diri bahwa proyeknya bukan penaklukan, melainkan penebusan. Namun seperti semua mitos, ia tidak bisa menutupi kenyataan selamanya.

Palestina Sebelum Zionisme

Sebelum istilah “Zionisme” menjadi gema di Basel dan London, Palestina sudah lama menjadi rumah bagi banyak kehidupan. Jalan-jalan di Yerusalem penuh pedagang dari Aleppo dan Kairo, desa-desa di Galilea menggantungkan hidup pada panen zaitun, dan Jericho masih merawat pohon kurma yang disebut dalam kitab suci. Tidak ada ruang kosong. Ada petani yang mengolah tanah, perempuan menumbuk gandum, anak-anak bermain di ladang, dan bahasa Arab bercampur dalam doa dan kehidupan sehari-hari. Ada komunitas Kristen Arab merayakan Paskah, dan Badui berpindah dengan unta mereka. Palestina adalah mozaik kehidupan, bukan kanvas kosong untuk dilukis oleh tangan asing.

Namun, dalam narasi Zionis awal, semuanya sering diabaikan atau dihapus. Doktrin “tanah tanpa rakyat” menjadikan penduduk asli seperti bayang-bayang di pinggir panggung. Penslar menekankan bahwa Zionisme, seperti nasionalisme modern lain, beroperasi melalui emosi: cinta dan kerinduan, sekaligus rasa takut dan penyangkalan. Klaim tanah kosong adalah strategi psikologis untuk menghindari pertanyaan moral tentang penggusuran dan konflik dengan penduduk asli.

Fakta demografis menunjukkan sebaliknya. Sensus Turki Utsmaniyah abad ke-19 mencatat populasi Arab-Muslim, Kristen, dan komunitas Yahudi kecil yang telah lama menetap. Kota-kota seperti Jaffa dan Haifa adalah pelabuhan yang ramai, bukan reruntuhan, dan perdagangan dengan Eropa semakin berkembang. Sejarawan seperti Berkowitz menunjukkan bagaimana Zionis awal menghadapi realitas ini, namun untuk membangun legitimasi, mereka memilih mitos daripada fakta.

Oppenheimer, seorang sosialis Jerman yang terlibat dalam kolonisasi agraria, bahkan menggambarkan Palestina sebagai tanah “degeneratif” yang perlu “disembuhkan” melalui ilmu pengetahuan dan koperasi Yahudi. Narasi ini mencerminkan bias kolonial Eropa: tanah didefinisikan bukan oleh mereka yang mengolahnya, melainkan oleh perspektif penakluk yang menentukan siapa pemilik sah.

Di balik mitos tanah kosong ada paradoks besar. Zionisme mengklaim “menghidupkan kembali tanah mati”, padahal tanah itu tidak pernah mati. Hanya saja tidak sesuai dengan visi kapitalisme modern atau estetika kolonial Eropa. Petani Palestina yang menanam gandum dianggap sebagai tanda keterbelakangan yang harus diperbaharui. Penghapusan itu bukan hanya fisik tapi juga epistemik—cara tertentu untuk tidak melihat kenyataan yang ada.

Améry memberikan perspektif lain. Sebagai penyintas Holocaust, ia melihat Zionisme sebagai kebutuhan eksistensial—jawaban terhadap penolakan dunia terhadap Yahudi. Namun ia juga menyadari dilema moral ketika sebuah bangsa mencari keselamatan dengan mengabaikan keberadaan bangsa lain. Dalam esainya, ia mencatat bagaimana anti-Zionisme kadang muncul sebagai kritik progresif, tapi menyimpan antisemitisme lama. Pada saat yang sama, ada tragedi ganda: keinginan hidup aman bagi Yahudi berpotensi menindas suara Palestina.

Mitos “tanah kosong” berfungsi sebagai jembatan antara impian dan realitas, menyamarkan ketegangan antara mitos dan fakta. Ia memungkinkan Herzl dan para pemikir Zionis bermimpi tentang Altneuland tanpa harus menghadapi keberadaan penduduk yang telah berakar di sana. Namun seperti semua mitos kolonial, ia tidak bisa bertahan lama.