Home / Mujadalah / Ironi Hijrah Artis: Antara Terjerumus HTI atau Terjerat Wahabi

Ironi Hijrah Artis: Antara Terjerumus HTI atau Terjerat Wahabi

artis hijrah

Fenomena hijrah artis di Indonesia menjadi salah satu topik yang menarik perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah figur publik yang sebelumnya dikenal melalui dunia hiburan tiba-tiba memutuskan untuk mendalami agama. Keputusan ini sering kali dikaitkan dengan kesadaran spiritual yang meningkat, dan pada dasarnya, hijrah adalah hal yang positif.

Namun, di balik sorotan kamera dan pujian dari masyarakat, terdapat sisi gelap yang jarang disadari: banyak dari artis-artis ini terjerumus dalam paham-paham radikal yang mengancam kebhinekaan Indonesia.

Gerakan hijrah artis sering kali dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk memperluas jaringan dakwah mereka. Dua paham yang paling dominan merangkul artis-artis ini adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Wahabi. Keduanya memiliki agenda terselubung yang berbahaya bagi masa depan kebangsaan, meskipun kemasannya berbeda.

HTI, meskipun telah dibubarkan secara hukum, masih aktif bergerak secara klandestin. Mereka menggunakan narasi politik Islam global dengan menawarkan visi utopis berupa khilafah. Artis yang bergabung dengan jaringan ini sering kali digunakan sebagai corong propaganda, baik melalui media sosial maupun acara-acara keagamaan. Dengan popularitas yang mereka miliki, pesan-pesan HTI yang intoleran dan anti-NKRI bisa menyebar lebih cepat dan diterima oleh masyarakat awam tanpa banyak kritik.

Di sisi lain, Wahabi menawarkan pendekatan yang berbeda tetapi tidak kalah berbahaya. Dengan mengusung narasi “kembali ke Al-Qur’an dan sunnah,” mereka menanamkan ideologi keagamaan yang rigid, anti-budaya lokal, dan menolak segala bentuk pluralisme. Banyak artis yang, dalam proses hijrahnya, terjerat dalam pemahaman ini karena tampilannya yang seolah-olah sederhana dan murni. Namun, dampaknya bisa merusak tatanan sosial karena ajaran ini kerap mengajarkan eksklusivitas dan penghakiman terhadap sesama Muslim yang dianggap “tidak sesuai syariat.”

Ironisnya, artis yang memutuskan berhijrah sering kali tidak memiliki fondasi keislaman yang kuat sebelum terjun ke dunia spiritual. Dalam kondisi seperti itu, mereka menjadi rentan terhadap pengaruh pihak-pihak yang memiliki agenda terselubung. Hijrah yang sejatinya bertujuan untuk memperbaiki diri justru menjadi pintu masuk untuk doktrinasi radikal. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan hubungan sosial dengan rekan atau keluarga yang dianggap “kurang Islami” dan menghabiskan waktu mereka dalam lingkaran ideologi sempit.

Dampak dari fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh artis itu sendiri tetapi juga oleh penggemar mereka. Sebagai figur publik, artis memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan tindakan penggemar mereka. Ketika seorang artis menyuarakan dukungan terhadap paham radikal atau intoleran, ribuan bahkan jutaan orang bisa ikut terpengaruh. Situasi ini diperparah oleh platform media sosial, yang memungkinkan pesan-pesan radikal menyebar secara masif dan instan.

Sebagai masyarakat, kita perlu lebih kritis dalam menyikapi fenomena hijrah artis ini. Hijrah adalah proses spiritual yang seharusnya membawa kebaikan, baik bagi individu maupun masyarakat. Namun, hijrah yang dikendalikan oleh agenda radikal hanya akan menimbulkan kerusakan dan perpecahan. Penting bagi masyarakat untuk tidak hanya mengidolakan artis yang berhijrah tetapi juga memperhatikan ke mana arah hijrah tersebut.

Di sisi lain, lembaga-lembaga keagamaan dan tokoh ulama memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan bimbingan yang moderat dan inklusif bagi mereka yang berhijrah. Artis yang ingin memperdalam agama seharusnya diarahkan kepada ulama-ulama yang memahami nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, yang mengedepankan toleransi, keadilan, dan cinta kasih terhadap sesama. Dengan demikian, hijrah mereka dapat menjadi inspirasi positif, bukan ancaman bagi harmoni bangsa.

Fenomena ini juga menjadi pelajaran penting bahwa literasi keagamaan di Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Banyak masyarakat yang masih mudah terpengaruh oleh narasi-narasi keagamaan yang dangkal tetapi penuh jebakan ideologis. Artis sebagai figur publik, apalagi yang memiliki platform besar, harus menyadari tanggung jawab moral mereka untuk tidak menyebarkan paham-paham yang dapat merusak persatuan bangsa.

Indonesia adalah negara yang dibangun di atas semangat toleransi dan keberagaman. Setiap warga negara, termasuk artis, memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai tersebut. Hijrah seharusnya menjadi langkah menuju kedamaian dan kemajuan, bukan jalan menuju polarisasi dan perpecahan. Kita semua, baik sebagai individu maupun masyarakat, harus tetap waspada dan kritis terhadap segala bentuk radikalisme yang mengancam masa depan bangsa.

Lantas bagaimana seseorang, utamanya artis, harus memilih ustaz? Di tengah berbagai aliran dan kelompok dalam dunia Islam, banyak umat yang merasa bingung dalam memilih jalan yang tepat untuk diperjuangkan. Dua kelompok yang sering menjadi sorotan adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Wahabi. Meskipun keduanya memiliki klaim tentang kebenaran versi mereka, pilihan untuk mengikuti salah satu dari mereka perlu dipertimbangkan dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan.

HTI, dengan ideologi khilafahnya, mengusung gagasan tentang pendirian negara Islam di Indonesia. HTI berusaha untuk mengganti sistem pemerintahan yang sudah ada dengan khilafah global. Mereka menekankan bahwa Indonesia harus diperintah oleh seorang khalifah dan bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pandangan ini jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai negara Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Ideologi ini seringkali memecah belah persatuan bangsa, dengan menanamkan narasi bahwa NKRI tidak sesuai dengan syariat Islam.

Di sisi lain, Wahabi, yang merupakan paham yang muncul di Arab Saudi, menekankan kembali ajaran Islam sebagaimana yang dipahami oleh generasi pertama umat Islam (salaf). Sering kali, Wahabi disalahpahami sebagai aliran yang sangat ketat dan eksklusif dalam menilai ajaran Islam.

Meskipun Wahabi mengklaim sebagai penjaga kemurnian Islam, beberapa interpretasi mereka terhadap teks-teks agama, terutama dalam masalah fiqh dan aqidah, sering kali dianggap intoleran terhadap perbedaan. Dengan mengedepankan literalitas dalam memahami ajaran agama, kelompok ini terkadang mengabaikan pentingnya konteks sosial dan budaya dalam penerapan ajaran Islam.

Tantangan terbesar bagi umat Islam hari ini adalah memilih jalan yang tidak hanya sesuai dengan ajaran Islam yang benar, tetapi juga relevan dengan konteks kebangsaan Indonesia. Terjebak dalam ekstremisme seperti HTI atau terlalu ketat dalam memahami agama dengan cara Wahabi bukanlah pilihan yang bijak. Ada banyak jalur moderat yang lebih selaras dengan prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin, yang mengajarkan kedamaian, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman.

Islam yang moderat bukanlah Islam yang lemah atau kompromi dengan prinsip, tetapi Islam yang mampu melihat dan mengerti tantangan zaman. Ini adalah Islam yang menegakkan keadilan, tetapi juga penuh dengan kasih sayang, yang berpegang pada nilai-nilai universal Islam sambil tetap mempertahankan komitmennya terhadap NKRI. Memilih yang tepat berarti memilih Islam yang mempromosikan perdamaian, kerukunan, dan menghormati perbedaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Umat Islam perlu lebih bijak dalam memilih arah perjuangannya. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam ekstremisme yang dapat merusak persatuan bangsa. Sebaliknya, kita harus terus mencari jalan yang penuh dengan pemahaman, penghormatan, dan dialog antarumat beragama, demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

 

 

Syaifur M. Rahman, M.A

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta