jalanhijrah.com – حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ زِيَادٍ الثَّقَفِيُّ، سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ “
‘Affan menceritakan kepada kami, Hamad menceritakan kepada kami, Al-Mughirah bin Ziyad Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, bahwa beliau mendengar Anas bin Malik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak dapat dipercaya (tidak memiliki amanah), dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya.”
Penjelasan Hadits
Baru-baru ini bangsa kita melaksanakan pesta demokrasi, salah satunya adalah pemilihan Presiden. Berbagai upaya dilakukan demi mendapatkan pemimpin yang ideal, yang diharapkan mampu membawa bangsa ke arah kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Saat ini, kita hanya bisa berserah diri kepada Allah agar diberikan pemimpin terbaik. Namun, jika ternyata pemimpin yang terpilih tidak amanah, maka hal itu menjadi ujian bagi kita. Kita harus bersabar dan tetap berusaha memberikan masukan dan kritik melalui lembaga atau dewan yang berwenang.
Amanah berarti segala sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik berupa perintah maupun larangan, yang berkaitan dengan urusan agama maupun dunia. Imam Al-Maraghi menjelaskan amanah sebagai kewajiban yang Allah bebankan kepada seorang mukallaf untuk dijalankan.
Amanah mencakup berbagai hal, seperti amanah dalam menjalankan perintah dan larangan agama, menjaga kehormatan dan rahasia orang lain, amanah atas harta, jiwa dan raga, penegakan hukum, ilmu pengetahuan, pelestarian lingkungan, serta jabatan dan kekuasaan.
Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu’atul Fatawa menerangkan bahwa menjalankan amanah terbagi dalam dua aspek: pertama, amanah yang berkaitan dengan kepemimpinan; kedua, amanah yang tidak terkait kekuasaan, misalnya amanah atas harta atau diri.
Menunaikan amanah adalah kewajiban setiap Muslim, termasuk para pemimpin. Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang tidak melaksanakan amanah tidak memiliki iman, sebagaimana tertulis dalam lafaz لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ.
Para ulama memberikan penafsiran terkait hadits ini. Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan bahwa maksud dari لَا إِيمَانَ bukan berarti hilangnya hakikat iman, melainkan keimanan orang yang lalai amanah tidak sempurna.
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa seseorang yang berzina, mencuri, atau minum khamar tidak disebut mukmin saat melakukan perbuatan tersebut, namun pintu taubat selalu terbuka.
Jabatan kepemimpinan sangat diidamkan banyak orang, mulai dari tingkat daerah hingga presiden. Berbagai cara ditempuh, termasuk cara yang tidak benar, demi meraih posisi itu. Mereka sering tidak menyadari bahwa memegang jabatan dengan cara yang tidak sah akan membawa penyesalan besar di akhirat.
Para sahabat yang diangkat menjadi Khulafaur Rasyidin selalu menyikapi jabatan itu dengan penuh kerendahan hati dan tidak pernah merayakannya. Mereka memandang jabatan itu sebagai musibah dan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Rasulullah ﷺ bahkan melarang umatnya meminta jabatan, karena beliau sangat memahami beratnya tanggung jawab tersebut. Ketika sahabat Abu Dzar meminta jabatan, Rasulullah langsung mengingatkannya bahwa jabatan adalah amanah yang berat dan bisa menjadi sumber kehinaan dan penyesalan kecuali jika dijalankan dengan benar.
Orang yang dapat menunaikan amanah menunjukkan iman yang kuat. Sebaliknya, yang lalai dalam amanah berarti lemah imannya. Seorang pemimpin dihadapkan pada dua pilihan: jika amanah dan adil, ia akan mendapat perlindungan Allah, tapi jika khianat, dia akan mendapatkan siksa di neraka.
Kekuatan iman bukan ditentukan oleh rupa, harta, atau jabatan, melainkan oleh kedekatan dan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Penulis teringat kisah Ibnu Umar yang menguji keimanan seorang penggembala domba. Ketika ditanya tentang domba yang hilang, penggembala menjawab jujur, walaupun domba itu telah dimakan serigala. Saat ditanya di mana Allah, penggembala itu tersadar akan keimanan yang kuat, hingga Ibnu Umar membebaskan dan menghadiahkan domba-dombanya.
Kisah ini menunjukkan bahwa yang dapat memegang amanah adalah mereka yang memiliki keimanan kuat. Jika imannya lemah, tentu mudah bagi seseorang berbohong saat tidak ada pengawas.
Pemimpin yang tidak amanah dapat membawa kehancuran besar, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi bangsa dan agama.
Suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan para sahabat, datang seorang Badui bertanya tentang kiamat. Rasul menjawab bahwa saat amanah dilalaikan, itu pertanda kiamat sudah dekat. Ketika ditanya bagaimana amanah dilalaikan, Rasul menjelaskan bahwa jika jabatan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka kehancuran akan terjadi.
Pemimpin yang mementingkan diri sendiri, berlaku zalim, dan menipu rakyat telah mendapat ancaman keras dari Allah, bahwa mereka tidak akan masuk surga.
Semoga Allah melindungi kita dari pemimpin yang dzalim dan memberikan kita pemimpin yang beriman kuat serta amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya.





