Home / Mujadalah / Menguak Framing Tauhid Wahabi: Konflik Syiah dan Jejak Pro-Zionisme

Menguak Framing Tauhid Wahabi: Konflik Syiah dan Jejak Pro-Zionisme

Menguak Framing Tauhid Wahabi: Konflik Syiah dan Jejak Pro-Zionisme

jalanhijrah.com – Suatu malam di sebuah kafe, saya berdiskusi dengan seseorang yang bukan dari kalangan NU. Dalam perbincangan itu, saya mengatakan bahwa jika harus memilih antara dua pilihan yang tersedia, yaitu Syiah atau Wahabi, saya akan dengan tegas memilih Syiah. Orang tersebut tampak bingung dan mengernyitkan dahi, tidak percaya bahwa saya yang sejak lahir NU justru lebih condong ke Syiah. Meski setengah bercanda, saya memang menolak keras aliran Wahabi.

Mengapa demikian? Akan saya jelaskan. Bahkan untuk hidup bertetangga, saya lebih memilih hidup berdampingan dengan orang Kristen dibandingkan Wahabi. Mereka yang mengaku sebagai pengikut salaf, penjaga kemurnian tauhid, atau golongan Sunni, sebenarnya sangat berbahaya. Mereka adalah predator spiritual yang memanfaatkan ketidaktahuan umat dengan jargon kesalehan palsu demi merusak Islam.

Saya tidak berbicara demikian karena kebencian pribadi, melainkan karena perilaku mereka sendiri. Sebagai alumni pesantren salaf, saya merasa kehormatan kesalafan telah dirampas oleh Wahabi. Padahal saya Sunni, pengikut salaf, dan menjaga kemurnian tauhid, tapi saya bukan Wahabi dan tidak akan pernah jadi Wahabi.

Ada masalah yang kompleks: pembelokan sejarah, glorifikasi puritanisme, dan kebodohan umat di kalangan Muslim masa kini. Seiring dengan perkembangan Wahabi di Arab Saudi dan Indonesia, tradisi lokal Islam semakin terkikis. Ustaz-ustaz Wahabi yang menyamar sebagai ‘Ustaz Salaf’ kini sudah tersebar luas di Indonesia dan situasinya makin mengkhawatirkan.

Di sini saya ingin menguraikan bagaimana Wahabi memanipulasi tauhid dan mengambil alih otoritas Sunni. Saya juga akan membahas framing terhadap Syiah, bukan untuk memihak Syiah, tetapi untuk membuka tipu muslihat Wahabi yang kejam terhadap umat. Secara diam-diam, Wahabi bahkan bersekongkol dengan Zionisme. Mereka benar-benar merusak Islam.

Wahabi dan Manipulasi Tauhid serta Sunni

Istilah ‘tauhid’ adalah milik seluruh umat Islam, bukan monopoli kelompok manapun. Namun sejak kemunculan Wahabi di Najd abad ke-18, makna tauhid dicurangi dan disempitkan hanya pada pemurnian ritual lahiriah saja. Padahal tauhid mencakup pengenalan batin, penyatuan hati, bahkan pembebasan sosial. Apa yang dilakukan Wahabi adalah pengurangan besar-besaran terhadap dasar agama Islam.

Mereka memakai tauhid sebagai tolok ukur siapa yang benar dan siapa yang sesat. Ziarah kubur dianggap syirik, tawasul dicap bid’ah, perayaan maulid Nabi diserang sebagai peniruan orang kafir. Bahkan kalimat la ilaha illallah tidak dianggap sah jika tidak sesuai definisi tauhid uluhiah ala Wahabi. Ini jelas monopoli dan politisasi tauhid.

Begitu juga istilah ‘Sunni’. Mereka mengklaim diri sebagai Ahlusunah Waljamaah dan wakil tunggalnya. Namun mereka justru menyingkirkan mayoritas umat Sunni yang menganut teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah. Menurut Wahabi, yang Sunni hanya mereka yang mengikuti versi Najd, pengikut Bin Wahhab dan Utsaimin, serta anti-tasawuf. Ini jelas tidak benar.

Sebagai orang pesantren, saya tahu betul bahwa Wahabi suka memutarbalikkan sejarah. Mereka seolah-olah menyatakan sebelum mereka datang, umat Islam penuh syirik dan bid’ah. Seolah tokoh besar seperti al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, Imam Nawawi, dan Sayyid Ahmad al-Rifa’i adalah sesat karena tidak sesuai standar Wahabi. Ini arogan dan memalukan, dibungkus dengan kedok kesalehan palsu.

Wahabi juga menghancurkan tradisi sosial Islam di Indonesia. Mereka masuk lewat mimbar-mimbar masjid kota, kanal YouTube ‘kajian sunah’, selebriti hijrah, dan ceramah lembut yang sesungguhnya menghancurkan tradisi Islam Nusantara. Amaliah NU mereka tuduh bid’ah, bahkan tahlilan dikatakan adat Hindu. Padahal Wahabi punya agenda terselubung memusnahkan kearifan lokal dan menghancurkan Islam dari dalam.

Yang paling mencolok dari mereka adalah pembuatan dikotomi palsu: bahwa hanya ada dua kelompok dalam Islam, yaitu yang berakidah benar menurut versi Wahabi, dan semua selain Wahabi dianggap ahli bid’ah. Bukankah ini merupakan kejahatan intelektual? Karena dengan narasi itu, Wahabi menutup ruang dialog, membungkam kekayaan ilmu, dan meruntuhkan keberagaman yang ada dalam tubuh umat Islam.

Kongkalikong Wahabi dengan Zionisme

Hal yang paling ironis—meski menyakitkan—adalah betapa masifnya serangan Wahabi terhadap Syiah, sementara mereka bungkam terhadap kebiadaban Zionis. Di mimbar-mimbar mereka menyerukan bahwa Syiah adalah musuh terbesar umat Islam, bahkan lebih berbahaya daripada Yahudi dan Nasrani. Namun saat Palestina dibombardir dan Masjidil Aqsha dinodai, mereka diam saja, sibuk berdebat soal ketaatan pada ulil amri dan malah seolah membela para Zionis.

Ini bukan kebodohan, melainkan kesengajaan yang telah tercatat dalam sejarah.

Kemunculan Wahabi tidak bisa dilepaskan dari aliansi politik antara Bin Wahhab dan keluarga Saud pada pertengahan abad ke-18. Sejak awal, Wahabi adalah alat politik kekuasaan, bukan sekadar gerakan pemurnian agama. Jadi wajar saja, ketika keluarga Saud menguasai Hijaz dengan dukungan Inggris pada awal abad ke-20, Wahabi menjadi ideologi resmi kerajaan. Tapi di balik itu, ada kompromi besar: kerajaan boleh berdiri asalkan tunduk pada kepentingan kolonial.

Inggris kala itu memang berupaya memecah belah kekuatan Islam setelah melemahnya Turki Utsmani, dan Wahabi—sekelompok orang Badui dari Najd—diberi panggung oleh Inggris.

Setelah berdirinya Israel pada 1948, dunia Islam bergolak hebat. Tapi bagaimana sikap Saudi, rumah Wahabi? Hanya ada simpati secara lisan dan kecaman diplomatik formal, yang sebenarnya hanya basa-basi politik. Perlawanan nyata? Tidak ada. Bahkan, bantuan Saudi lebih banyak mengalir ke penguasa boneka di negara-negara Arab ketimbang kepada pejuang Palestina. Bandingkan dengan Iran, negara yang sering mereka cela sebagai Syiah Rafidhah, yang justru aktif melawan Zionis.

Alih-alih membela Islam, melalui dakwahnya Wahabi sibuk menebarkan doktrin manipulatif bahwa Syiah lebih berbahaya daripada Zionis. Narasi ini sangat berbahaya karena mengalihkan perhatian umat dari penjajah sebenarnya, yaitu Zionis, ke konflik antar sesama Muslim. Maka tidak salah jika dikatakan Wahabi tidak pernah benar-benar memusuhi Zionisme, mereka hanya berpura-pura di hadapan umat, tapi sejatinya menjadi kaki tangan Zionisme di wilayah Arab.

Kesepakatan Abraham Accords pada tahun 2020 menjadi puncak dari proses ini. Negara-negara Arab mulai menormalisasi hubungan dengan Israel, dan Saudi secara diam-diam mendukung langkah ini. Ulama-ulama Wahabi pun bungkam. Mereka yang munafik bahkan membenarkan tindakan tersebut dengan dalih ayat-ayat tentang perdamaian dan kemaslahatan.

Lalu, di mana suara lantang mereka saat mengkritik bid’ah dan tahlilan? Hanya garang terhadap sesama Muslim, tapi lemah dan bungkam menghadapi musuh Islam.

Fakta pahitnya, Wahabi telah membajak semangat tauhid untuk melemahkan kekuatan Islam dari dalam. Mereka memecah belah umat dengan doktrin takfiri, mengalihkan fokus dari penjajahan Zionis ke perbedaan mazhab Sunni-Syiah, dan dengan diam-diam bersekongkol melemahkan perlawanan Palestina. Semua itu dilakukan atas nama ‘kemurnian agama’ atau moderasi ala Arab Saudi.

Jadi, jika hari ini ditanya siapa yang paling diuntungkan dari keberadaan Wahabi, jawabannya bukan umat Islam, juga bukan rakyat Palestina, melainkan kekuatan global yang ingin mencegah persatuan Islam: Zionisme. Jika umat terus terjebak dalam narasi murahan Wahabi, umat Islam akan sibuk bermusuhan sesama, sementara musuh utama terus memperluas pengaruhnya. Sadarlah dan lawan Wahabi!

 

Tag: