Home / Uncategorized / Cahaya Damai di Sudan: Setelah Dua Tahun Perang, Paramiliter Setujui Gencatan Senjata

Cahaya Damai di Sudan: Setelah Dua Tahun Perang, Paramiliter Setujui Gencatan Senjata

jalanhijrah.com- Pasukan Paramiliter Sudan, Rapid Support Forces (RSF), pada Kamis (6/11/2025) menyatakan kesediaannya menerima proposal gencatan senjata kemanusiaan yang diajukan oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara Arab.

Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Al Arabiya, RSF menyampaikan harapan agar kesepakatan tersebut dapat segera dilaksanakan, serta membuka jalan bagi pembahasan mengenai penghentian pertempuran dan penetapan prinsip-prinsip dasar untuk memandu proses politik di Sudan.

RSF juga menegaskan keterbukaannya untuk berdialog mengenai upaya menghentikan konflik yang telah menelan banyak korban sipil. Sementara itu, militer Sudan belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut.

Sejumlah upaya gencatan senjata antara Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan Tentara Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) telah berulang kali disepakati sejak konflik pecah pada 2023. Namun, tidak satu pun dari kesepakatan tersebut berhasil dijalankan, dan pertempuran terus berlanjut selama sekitar dua setengah tahun terakhir.

Dalam proposal terbaru ini, Amerika Serikat, Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab berperan sebagai empat mediator utama. Pengumuman mengenai gencatan senjata tersebut muncul kurang dari dua minggu setelah RSF merebut kota El-Fasher, yang tengah dilanda krisis pangan, serta menguasai sebagian besar wilayah Darfur di Sudan barat.

Menurut Hiba Morgan dari Al Jazeera, rencana ini akan diawali dengan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan, yang diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju solusi politik menyeluruh dan pembentukan pemerintahan sipil baru.

“RSF menyatakan keinginan mereka untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung dua tahun ini,” ujar Morgan terkait komitmen kelompok tersebut terhadap perjanjian gencatan senjata itu.

RSF dilaporkan melakukan berbagai tindakan kekejaman, termasuk eksekusi singkat, serangan terhadap warga sipil di jalur pelarian, serta penggerebekan dari rumah ke rumah. Selain itu, muncul laporan mengenai kekerasan seksual, terutama yang menimpa perempuan dan anak perempuan.

Akibat serangkaian kekerasan tersebut, sedikitnya 2.000 orang tewas di wilayah El-Fasher. Konflik antara tentara Sudan dan RSF sendiri pecah pada April 2023, ketika kedua kekuatan yang sebelumnya merupakan sekutu pemerintahan berselisih terkait rencana penggabungan pasukan mereka.

Perang ini telah melumpuhkan Sudan, menewaskan puluhan ribu jiwa, memicu kelaparan meluas, dan memaksa jutaan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.