jalanhijrah.com – Kritik terhadap cara distribusi bantuan bagi korban banjir di Aceh Tamiang kian mengemuka. Ribuan warga di beberapa desa dilaporkan masih kesulitan memperoleh makanan dan kebutuhan pokok, meskipun bantuan sudah menumpuk di posko utama.
Muhammad Zakiruddin, anggota DPRA dari daerah pemilihan Aceh Tamiang, menilai mekanisme distribusi yang berjalan saat ini belum sesuai dengan kondisi darurat.
“Saya heran, bantuan ada tapi warga kita masih kelaparan. Ini bukan saatnya membahas SOP atau administrasi. Ini soal keselamatan nyawa manusia,” katanya pada Sabtu.
Menurutnya, banyak warga harus menempuh jarak jauh atau melewati genangan banjir untuk sampai ke posko, namun tetap pulang dengan tangan kosong karena distribusi harus mengikuti prosedur tertentu.
“Kalau warga datang meminta makanan, jangan langsung disuruh pulang dengan alasan distribusi terpusat. Kondisi di lapangan belum normal, jalan berlumpur, harga BBM tinggi, dan banyak yang masih terisolir. Seharusnya prosesnya dipermudah, bukan dipersulit,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pemerintah daerah membentuk tim distribusi yang efektif agar bantuan bisa sampai ke desa-desa terpencil.
Kritik serupa juga disampaikan relawan GP Ansor Aceh Tamiang, Tarmizi atau Cak Tar, yang sejak awal banjir menyalurkan bantuan bersama warga, menegaskan bahwa kondisi lapangan jauh berbeda dari gambaran yang muncul dalam rapat.
Menurutnya, kondisi di lapangan jauh lebih sulit dibandingkan gambaran yang disampaikan dalam rapat koordinasi. Banyak daerah masih terendam lumpur, jalan rusak, jembatan putus, sehingga hanya bisa diakses dengan perahu atau kendaraan khusus.
“Kami langsung mendatangi desa-desa. Ada balita yang makan seadanya, ibu menyusui yang kekurangan pasokan makanan, dan lansia yang tak mampu menunggu distribusi resmi. Inilah kenyataannya,” ungkap Cak Tar.
Ia menekankan bahwa relawan tidak boleh terhambat oleh aturan yang terlalu kaku.
“Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan aturan panjang, melainkan aksi cepat. Jangan biarkan warga kelaparan karena masalah teknis,” tegasnya.
Cak Tar menambahkan, beberapa titik pengungsian di Rantau, Seruway, dan Paya Ketenggar masih sangat membutuhkan pasokan makanan, obat-obatan, selimut, lampu darurat, serta akses air bersih. Kondisi itu membuat sebagian relawan harus bergerak sendiri untuk mencari dan menyalurkan bantuan tanpa menunggu arahan resmi.
Ia mendesak pemerintah daerah segera mengevaluasi mekanisme distribusi agar bantuan bisa cepat dan tepat sasaran bagi seluruh korban banjir.
“Banjir sudah merusak rumah dan harta benda. Jangan biarkan keterlambatan distribusi menghancurkan harapan. Warga Aceh Tamiang tidak boleh meninggal kelaparan karena logistik terlambat,” tutupnya.










