Home / Mujadalah / Menanamkan Rasa Diawasi Allah dalam Setiap Langkah

Menanamkan Rasa Diawasi Allah dalam Setiap Langkah

jalanhijrah.com – Salah satu keyakinan mendasar yang seharusnya mengakar kuat dalam diri setiap Muslim adalah bahwa Allah senantiasa mengawasi seluruh amal perbuatan hamba-Nya, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Tidak ada satu pun perkataan, gerakan, niat, maupun bisikan hati manusia yang luput dari pengawasan-Nya. Kesadaran akan hal ini semestinya menjadi landasan dalam menjalani kehidupan, karena ketika seseorang merasa selalu berada dalam pengawasan Allah, ia akan lebih berhati-hati dalam setiap tindakan.

Terkait hal tersebut, Al-Qur’an menegaskan prinsip pengawasan Allah terhadap manusia, salah satunya dalam Surah Al-‘Alaq ayat 14. Ayat ini akan dibahas mulai dari teks Arab, transliterasi, terjemahan, hingga penjelasan para ulama tafsir.

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى
Alam ya‘lam bi-annallāha yarā

Artinya: “Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-‘Alaq [96]: 14).

Sebab Turunnya Ayat

Ayat ini tidak dapat dipisahkan dari ayat sebelumnya yang menggambarkan adanya pihak yang berusaha menghalangi seseorang dalam beribadah, khususnya shalat. Dalam banyak penjelasan ulama, termasuk Imam Abul Qasim al-Gharnathi, tokoh yang dimaksud sebagai hamba yang hendak shalat adalah Nabi Muhammad, sedangkan yang menghalangi adalah Abu Jahal.

Dalam sebuah peristiwa, Abu Jahal mendatangi Rasulullah ketika beliau sedang shalat dengan maksud menghentikannya, bahkan diriwayatkan pernah mengancam akan menginjak leher beliau. Namun ketika ia mendekat, ia justru mundur dalam keadaan ketakutan, karena melihat sesuatu yang mengerikan di antara dirinya dan Nabi. Ia kemudian menceritakan adanya pemandangan berupa parit api dan makhluk-makhluk menakutkan.

Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa seandainya Abu Jahal terus maju, para malaikat akan mencabik-cabiknya. (Abul Qasim al-Gharnathi, At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, jilid II, hlm. 497).

Berkenaan dengan peristiwa tersebut, Allah menurunkan Surah Al-‘Alaq ayat 14 sebagai teguran sekaligus penegasan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan manusia, termasuk niat dan usaha jahat Abu Jahal dalam menghalangi ibadah.

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa meskipun ayat ini turun secara khusus terkait Abu Jahal, kandungannya bersifat umum dan berlaku bagi seluruh manusia, khususnya mereka yang menghalangi orang lain dari kebaikan dan ibadah.

Penafsiran Para Ulama

Menurut Imam Abu Hayyan al-Andalusi, ayat ini menegaskan bahwa Allah mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya, baik dalam kebenaran maupun kesesatan, dan akan memberikan balasan sesuai amal perbuatannya. Ayat ini juga merupakan bentuk peringatan keras bagi siapa pun yang melanggar perintah Allah atau menghalangi ibadah.

Syekh Wahbah az-Zuhaili juga menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa Allah melihat, mendengar, dan mengetahui seluruh keadaan manusia, serta akan membalas setiap perbuatan dengan balasan yang sempurna. Ia menekankan bahwa sangat mengherankan jika seseorang tetap berani menghalangi ibadah padahal ia sadar sedang diawasi oleh Allah.

Konteks Teologis

Dalam kajian teologi, Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa ilmu Allah bersifat azali, sempurna, dan meliputi segala sesuatu tanpa batas. Tidak ada satu pun kejadian yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Sebaliknya, kelompok Jahmiyah (serta sebagian Muktazilah) menolak penetapan sebagian sifat Allah dalam makna yang dianggap menyerupai makhluk, sehingga mereka membatasi pemahaman terhadap sifat-sifat Allah seperti ilmu dan kehidupan.

Imam as-Sanusi menjelaskan bahwa seluruh perkara telah diketahui Allah sejak azali hingga selamanya, tanpa membutuhkan proses berpikir atau penalaran, dan tidak ada sesuatu pun yang menyimpang dari ketetapan ilmu-Nya.

Dari seluruh penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Surah Al-‘Alaq ayat 14 menegaskan pengawasan Allah terhadap seluruh amal manusia. Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Abu Jahal yang menghalangi Rasulullah dalam shalat, namun maknanya berlaku umum bagi seluruh manusia sepanjang زمان.

Para mufassir sepakat bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui segala sesuatu, serta akan memberikan balasan yang adil atas setiap perbuatan. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa menanamkan kesadaran bahwa tidak ada satu pun amal yang luput dari pengawasan Allah, baik lahir maupun batin, dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Wallahu a‘lam.