Home / Uncategorized / Iran vs Zionisme: Fakta yang Membuat Sebagian Wahabi ‘Kebakaran Jenggot’

Iran vs Zionisme: Fakta yang Membuat Sebagian Wahabi ‘Kebakaran Jenggot’

jalanhijrah.com – Konflik antara Iran dan AS-Israel dalam dua pekan terakhir telah mengubah lanskap politik Timur Tengah secara signifikan. Serangan udara dan upaya pencegatan di kawasan Teluk berlangsung sangat intens. Data militer mencatat ratusan proyektil telah diluncurkan sejak awal konflik, termasuk lebih dari 290 rudal dan 500 drone yang diarahkan ke Israel dalam beberapa hari pertama. Sementara itu, muncul laporan yang belum terverifikasi mengenai kematian Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama sejumlah pejabat militernya.

Di wilayah Teluk, negara seperti Bahrain, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab melaporkan berbagai upaya intersepsi terhadap rudal dan drone yang melintasi wilayah udara mereka. Bahrain, misalnya, disebut berhasil mencegat puluhan proyektil yang diduga menargetkan fasilitas militer AS. Beberapa di antaranya bahkan sempat memasuki wilayah udara Yordania, yang kemudian ikut melakukan operasi pencegatan bersama AS dan sekutunya. Sikap negara-negara Arab ini menuai kritik karena dinilai ambigu dan penuh kontradiksi.

Situasi yang berkembang menunjukkan bahwa konflik Iran-Israel kini telah meluas menjadi konflik regional dengan implikasi geopolitik yang kompleks. Sistem pertahanan buatan AS seperti THAAD dan Iron Dome dilaporkan berperan penting dalam menahan sebagian besar serangan Iran. Di sisi lain, dinamika ini juga memperlihatkan adanya keterhubungan keamanan regional yang secara tidak langsung mengaitkan Israel dengan sejumlah negara Arab.

Dalam konteks tersebut, muncul pertanyaan ideologis yang menarik: mengapa konflik Iran melawan Israel justru memicu kegelisahan di kalangan Wahabi? Secara historis, dunia Arab dikenal dengan narasi anti-Zionisme yang kuat. Namun dalam beberapa dekade terakhir, fokus ancaman sebagian elite Teluk tampak bergeser dari Israel ke Iran. Pergeseran ini membuka ruang bagi konfigurasi aliansi baru yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Fenomena tersebut semakin terlihat setelah normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel melalui Abraham Accords pada 2020. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap Iran telah mendorong sebagian negara Teluk untuk menjalin kerja sama dengan Israel. Dalam narasi baru ini, Iran diposisikan sebagai ancaman utama terhadap stabilitas kawasan—sebuah label yang dahulu lebih sering dilekatkan pada Israel.

Perkembangan terbaru ini mencerminkan paradoks geopolitik Timur Tengah. Ketika Iran meningkatkan konfrontasi terhadap Israel dan kepentingan Barat, beberapa negara Teluk justru memperlihatkan kedekatan yang semakin erat dengan Israel. Hal ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: mengapa ketika Iran berhadapan dengan Zionisme, sebagian kalangan Wahabi justru menunjukkan reaksi yang cenderung defensif atau gelisah? Apakah ada faktor lain di luar perbedaan ideologis yang memengaruhi sikap tersebut?

Permusuhan Teologis dan Narasi Anti-Iran

Permusuhan antara kalangan Wahabi dan Iran memiliki akar historis yang panjang, terutama dalam ranah teologis. Wahabisme, yang berkembang di Jazirah Arab sejak abad ke-18 melalui Muhammad bin Abdul Wahhab, menekankan pemurnian ajaran Islam. Dalam praktiknya, pendekatan ini sering melabeli praktik keagamaan yang dianggap menyimpang sebagai bid‘ah atau bahkan syirik. Dalam literatur tertentu, kelompok Syiah kerap menjadi sasaran kritik keras tersebut.

Sejak awal, Wahabisme memandang Syiah sebagai tantangan terhadap pemahaman keagamaan yang mereka anggap otentik. Ketegangan ini semakin meningkat setelah Revolusi Iran, yang menjadikan Syiah sebagai ideologi negara sekaligus mengusung semangat perlawanan terhadap dominasi Barat. Sejak saat itu, rivalitas antara Iran dan negara-negara Teluk berkembang menjadi persaingan geopolitik yang kompleks.

Narasi ini kemudian diperkuat oleh berbagai konflik di kawasan, seperti di Suriah, Yaman, dan Lebanon. Iran kerap dituduh memperluas pengaruhnya melalui kelompok-kelompok sekutu di wilayah tersebut. Istilah seperti “ekspansi Syiah” atau “bulan sabit Iran” menjadi bagian dari retorika politik yang mempertegas ketegangan, bahkan dalam beberapa kasus melebihi sentimen terhadap Israel atau Barat.

Akibatnya, fokus permusuhan di kawasan mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Sejak awal abad ke-21, retorika anti-Iran semakin dominan dalam berbagai forum politik. Media, lembaga keagamaan, serta jaringan komunikasi politik di sejumlah negara Teluk kerap menggambarkan Iran sebagai aktor yang berperan dalam memicu instabilitas dan konflik sektarian. Dalam kerangka ini, perlawanan Iran terhadap Israel sering dipandang dengan skeptisisme, bahkan dianggap tidak relevan untuk didukung secara luas.

Ketika Iran tampil sebagai salah satu pihak yang paling vokal dalam menentang Israel dan kebijakan Barat, sebagian kalangan Wahabi justru merespons dengan sikap curiga. Mereka melihat bahwa keberhasilan Iran dalam mengangkat isu anti-Zionisme berpotensi memperkuat posisi politiknya di dunia Muslim. Karena itu, penolakan terhadap Iran tidak hanya didasarkan pada faktor geopolitik, tetapi juga dipengaruhi oleh perbedaan ideologis yang mendalam.

Narasi “Sunni vs Syiah” kemudian semakin menguat di berbagai ruang publik, yang dalam banyak kasus justru memperlemah kohesi internal umat Islam. Polarisasi ini menciptakan situasi paradoks: di tengah isu bersama yang seharusnya menyatukan, perbedaan mazhab justru memperlebar jarak. Dalam konteks ini, dinamika hubungan antar kelompok keagamaan menjadi semakin kompleks dan sarat kepentingan politik.

Aliansi Baru dalam Lanskap Geopolitik

Jika ditinjau lebih jauh, negara-negara Teluk selama puluhan tahun dikenal mengusung retorika anti-Zionisme. Namun dalam perkembangan terbaru, terlihat adanya perubahan arah kebijakan yang cukup mencolok. Pergeseran ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh meningkatnya persepsi ancaman terhadap Iran.

Sejak penandatanganan Abraham Accords, hubungan antara Israel dan sejumlah negara Teluk mengalami perkembangan signifikan, khususnya dalam bidang intelijen, teknologi militer, dan sistem pertahanan. Israel memiliki kapasitas teknologi yang dianggap mampu membantu menghadapi ancaman rudal dan drone, sehingga kerja sama ini dipandang sebagai langkah strategis bagi negara-negara yang merasa rentan secara keamanan.

Perkembangan selama konflik terbaru Iran-Israel semakin memperlihatkan pola tersebut. Ketika terjadi serangan dan respons militer di kawasan, sistem pertahanan udara yang melibatkan berbagai pihak dilaporkan aktif melakukan intersepsi terhadap proyektil yang melintasi wilayah udara Teluk. Meskipun tidak selalu dinyatakan secara terbuka, koordinasi semacam ini menunjukkan adanya keterhubungan kepentingan keamanan di antara aktor-aktor tersebut.

Ironi geopolitik pun menjadi semakin nyata. Di satu sisi, kritik terhadap Iran tetap kuat dalam narasi sebagian kelompok. Namun di sisi lain, strategi menghadapi Iran justru mendorong sebagian negara untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan Israel. Hal ini mencerminkan adanya ketegangan antara idealisme politik yang selama ini dikampanyekan dengan realitas kepentingan strategis di lapangan.

Pada akhirnya, dinamika ini memperlihatkan bagaimana konflik dan rivalitas di Timur Tengah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ideologis, tetapi juga oleh kepentingan keamanan, politik, dan kekuasaan. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengelola perbedaan tersebut tanpa semakin memperdalam perpecahan, serta mencari jalan untuk membangun stabilitas kawasan yang lebih inklusif.