Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 11 Feb 2022 16:00 WIB ·

Sunnah Poligami Atau Monogami Dalam An-Nisa Ayat 3


					Sunnah Poligami Atau Monogami Dalam An-Nisa Ayat 3 Perbesar

Jalanhijrah.com-Sunnah menurut bahasa yaitu segala tindakan perkataan atau perbuatan Nabi Muhammad SAW yang menjadi dasar syariat dan hukum Islam. Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan kita semua sebagai umat islam. Sedangkan poligami menurut bahasa adalah memiliki istri lebih dari satu. Jadi jika kita pahami mengenai maksud sunnah poligami adalah memiliki istri lebih dari satu yang menyadarkan perbuatan tersebut berdasarkan perilaku Nabi Muhammad SAW.

Namun, apakah demikian hal tersebut benar bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umat nya untuk berpoligami atau justru sebaliknya Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umat nya untuk beristri satu atau disebut monogami. Dalam hal ini mari kita telaah lebih lanjut mengenai ini dari surah an nisa ayat 3 yang menjadi dalil kuat argumen orang yang berpendapat bahwa islam mengajarkan untuk berpoligami. Islam yang mengajarkan poligami atau hanya nafsu sexual saja yang menjadi faktor hal tersebut terjadi dan seolah olah hal tersebut dari agama.

Nabi Muhammad SAW sangat mencintai khadijah hingga akhir hayat

Jika kita Membaca kisah perjalanan Rasulullah ketika pada usianya 25 tahun pada saat itu beliau dilamar untuk menikahi pengusaha kaya yang menjadi pemilik dagangan yang Nabi Muhammad bawa untuk berdagang. Pengusaha kaya itu Siti Khadijah yang pada saat itu berusia 40 tahun atau 15 tahun lebih tua dibandingkan Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi Muhammad SAW menanyakan hal tersebut kepada pamannya apakah diizinkan untuk menikah Siti Khadijah.

Baca Juga  Obatilah Sakit Dengan Bersedekah

Pada akhirnya Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah dengan maskawin yang besar pada saat itu. Hemat penulis Nabi Muhammad SAW sangat mencintai Istrinya dan sangat memuliakan nya.

Nabi Muhammad SAW tidak menikah lagi atau monogami selama bersama Siti Khadijah, padahal di Arab kebudayaan disana pada saat itu lumrah memiliki istri lebih dari satu. Namun Nabi Muhammad SAW beristri satu dalam keadaan kebudayaan Arab memiliki istri lebih dari satu.

Sungguh luar biasa hal ini terjadi, selain itu Nabi Muhammad SAW juga sering mengingat masa lalu dan selalu bersemangat ketika bercerita tentang Siti Khadijah hingga istri yang lain merasa cemburu. Walaupun sudah meninggal dunia Siti Khadijah tetap dihati Nabi Muhammad SAW. Sungguh pelajaran dan isyarat yang kuat untuk kita sebagai umat untuk monogami dan mencintai wanita hingga akhir hayat.

Namun, ada sanggahan mengenai hal tersebut bahwasanya dalil tentang diperbolehkan nya poligami ada di Al Quran dalam surah An-

Nisa ayat 3

وَاِنْ خِفْتُمْ ا َّ لَا تُقْسِطُوْا فِى الْیَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ ِّ منَ ال ِّ نسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ ا َّ لَا تَعْدِلوُْا

فَوَاحِدَةً اوَْ مَا مَلَكَتْ ایَْمَانُكُمْ ۗ ذٰلكَِ ادَْنٰٓى ا َّ لَا تَعُوْلوُْاۗ

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.”

An-Nisa ayat 3 yang menjadi dalil kebanyakan orang mengenai poligami. Mengutip dari video di youtube dalam channel jurnal perempuan yang dibawakan oleh Dr. Nur rofiah, dosen tafsir di UIN syarif hidayatullah beliau mengatakan bahwa dalam surah An- Nisa ayat 3 tersebut sering dipotong dan salah dipahami mengenai ayatnya. Sehingga salah dalam memahami maksud dari ayat tersebut. Jika dicermati dalam ayat sebelumnya menjelaskan tentang harta anak yatim dan larangan memakan harta anak yatim. Kemudian di ayat 3 nya menjelaskan lebih baik memiliki istri 2,3,4 yang kamu senangi dibandingkan jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil dalam hak hak anak yatim.

Baca Juga  Saat Shalat Dipanggil Orang Tua, Melanjutkan Shalat Atau Memutus Shalat?

Tetapi ayat tersebut masih berlanjut dan mengatakan jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang saja atau hamba sahaya. Karena hal tersebut lebih dekat agar tidak berbuat zalim terhadap wanita. Jadi sebenarnya An-Nisa ayat 3 adalah ayat tentang monogami yang dianggap ayat poligami oleh orang yang hanya memotong-motong ayat tanpa ilmu pengetahuan dan hanya mengedepankan nafsu semata.

Ayat An-Nisa ayat 3 ini diperkuat lagi dengan ayat An- Nisa ayat 129

yang artinya

وَلَنْ تَسْتَطِیْعُوْٓا انَْ تَعْدِلوُْا بَیْنَ ال ِّ نسَاۤءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِیْلوُْا كَُّ  ل الْمَیْلِ فَتَذَرُوْھَا كَالْمُعَلَّ قَةِ وَۗاِنْ تُصْلحُِوْا

وَتَ َّ تقوُْا فَاِ َّ ن ﷲَّٰ كَانَ غَفوُْرًا َّ رحِیْمًا

“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Maka dari ayat An Nisa ayat 3 kemudian diperjelas dengan An-Nisa ayat 129, maka dapat disimpulkan bahwa Al Quran sebagai sumber pertama hukum Islam mengajarkan untuk monogami bukan sebaiknya. Al Quran sudah menjelaskan mengenai teori, kemudian praktik nya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita sebagai umat islam yang berpegang teguh kepada Al Quran dan sunnah seharusnya dapat memahami bahwasanya islam mengajarkan kita untuk setia dan monogami dalam berpasangan agar terhindar dari berbuat zalim kepada istri.

Baca Juga  Pernah Bersumpah dan Melanggarnya, Ini Denda Yang Harus Dibayar Dalam Islam

Hal tersebut tergambar jelas jika dilihat perilaku dan perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW yang monogami hingga Siti Khadijah meninggal dunia Nabi Muhammad SAW baru berpoligami setelah itu. Walaupun berpoligami Nabi Muhammad SAW tidak semata mata hanya nafsu belaka, tetapi karena perintah dari Allah SWT serta tuntutan dan kewajiban sebagai Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil alamin. Wallahu A’lam Bishowab.

Saiddaeni, mahasiswa program studi pendidikan agama islam UIN Raden MAS Said Surakarta

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian