Menu

Mode Gelap

Milenial · 12 Feb 2022 08:00 WIB ·

Dakwah Di Media Sosial dan Belajar Agama Melalui Media Sosial


					Dakwah Di Media Sosial dan Belajar Agama Melalui Media Sosial Perbesar

Jalanhijrah.com – Kehidupan sudah mulai berubah dari masa ke masa. Pola hidup juga berubah. Media sosial hari ini memiliki peran penting untuk bersilaturrahim, menjalin komunikasi dengan orang yang jauh, bekerja, hingga mencari ilmu. Di tengah pandemi Covid-19 yang semakin liar dan masih menjadi virus mematikan, kehadiran media sosial sebagai media baru seperti ala at perang yang sangat dibutuhkan bagi kondisi darurat.

Dengan demikian, kehadiran media sosial setidaknya menjadi sesuatu yang harus kita manfaatkan secara betul-betul. Sebab dengan media sosial, kita bisa memilih arah kehidupan yang akan dijalani, termasuk pengetahuan seperti apa yang ingin diakses lebih jauh, juga pengetahuan agama yang menjadi basis pengetahuan manusia dalam menjalankan kehidupan di dunia.

Dalam proses belajar agama, perbedaan yang sangat jauh dalam mengakses ilmu pengetahuan bisa kita rasakan. Ngaji pada saat ini, tidak hanya dipahami dan disematkan pada orang yang duduk bersama secara offline, duduk di atas karpet dengan posisi bersila di depan guru. Hadirnya media sosial menjadikan makna ngaji tidak hanya sesempit pada aktifitas tersebut. Ngaji bisa dilakukan menggunakan media sosial dan media apapun yang bisa digunakan oleh orang yang mau belajar serta ingin membagikan ilmunya. Sehingga sebagai sang pembelajar, kita dituntut untuk bisa mengakses kajian agama dari pelbagai kiai, ulama yang bisa kita pilih.

Baca Juga  Di Balik Pendirian Pondok Tahfidz Ukhuwah Karawang Ada Khilafah

Banyaknya aplikasi yang bisa digunakan untuk belajar agama

Dari sekian banyak media sosial, mulai dari facebook, Instagram, twitter, youtube, clubhouse, telegram, dll. Semua aplikasi itu bisa menjadi sumber pengetahuan agama. Di space twitter misalnya, ngaji ihya’ ulumuddin onlineyang digelar oleh Gus Ulil Abshar Abdalla pada setiap malam jum’at menjadi salah satu pengajian yang sangat disayangkan jika kita melewatinya. Hal ini karena kita memahami bahwa yang dikaji adalah kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs).

Di clubhouse juga, kegiatan pengajian yang bisa diikuti adalah ngaji fikih 4 madzhab yang diadakan oleh Dunia Santri Community yang diadakan setiap malam mulai pukul 21.00-hingga selesai. Sejak mencuatnya aplikasi clubhousedan menjadi perbincangan para netizen beberapa waktu lalu, clubhouse bisa menjadi ladang pengetahuan untuk belajar agama.

Melalui zoom, setiap malam sabtu kita bisa mengikuti kegiatan ngaji kajian gender Islam yang dipandu oleh Bunyai Nur Rofi’ah. Tentu, tema-tema yang dibahas adalah isu tentang gender yang kemudian ditelaah dengan perspektif Islam. Ngaji filsafat yang diampu oleh Dr. Fahrudian Faiz juga tidak bisa dilepaskan dari tulisan ini karena juga menjadi bagian sumber pengetahuan untuk diakses melalui youtube.

Lain dari pada itu, ada banyak sekali forum kajian keislaman yang terselenggara secara massif. Apalagi melalui akun youtube, sudah tersebar banyak sekali forum-forum kajian keislaman yang bisa dijadikan sumber pengetahuan agama bagi kita semua.

Baca Juga  Penguatan Identitas Muslimah: Pola Gerakan Perempuan dalam Terorisme

Belajar agama ramah, jangan belajar pada yang marah-marah

Diantara banyaknya aplikasi yang bisa digunakan pada era saat ini untuk mengakses pelbagai pengetahuan agama. Kehadiran guru sebagai perantara dalam memperoleh ilmu pengetahuan agama tidak bisa dinafikkan bagi seorang pencari ilmu, meskipun menggunakan teknologi secanggih apapun.

Jangan sampai, kita berguru kepada orang yang ternyata dakwahnya mengadu domba, menyebar kebencian, bahkan provokatif dalam penyampaiannya. Sehingga bukan menjadi guru, akan tetapi terkesan menggurui dan merasa setiap kalimat yang disampaikan adalah paling benar diantara yang lain. Karakter guru semacam ini tidak boleh ada dalam catatan pencarian guru agama yang akan dijadikan panutan oleh kita. Apalagi jika seorang guru tersebut tidak memiliki kecerdasan sosial, seperti menolak keberagaman, menolak Pancasila, dan menolak NKRI hanya karena alasan tidak syari’ah. Na’udzubillah.

Dalam proses pencarian ilmu tersebut, sanad keilmuan penting untuk dilihat dari seorang guru yang akan dijadikan panutan dalam kehidupan kita. Di media sosial, keilmuan para ulama yang hadir dengan dakwahnya yang bertebaran di media sosial akan memudahkan kita untuk mencari tahu latar belakang kehidupan, sanad keilmuan serta bagaimana pandangan dia dalam memahami agama.

Proses mencari tahu sangat penting untuk kita lakukan sebagai seorang santri untuk melihat secara dasar seperti apa orang yang akan dijadikan panutan dalam memahami agama. Melalui media sosial, kita bisa belajar agama kepada para ulama/kiai yang memiliki kredibilitas cukup baik dalam pemahaman agama. Hal itu harus kita cari, kepada siapa kita akan berguru dan mempelajari setiap kajian yang disampaikan. Wallahu a’lam.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

Baca Lainnya

Kesbangpol Gandeng FKUB Cegah Paham Radikalisme Jelang Pemilu 2024

28 Januari 2023 - 14:00 WIB

Kesbangpol Gandeng FKUB Cegah Paham Radikalisme Jelang Pemilu 2024

Bagaimana Cara Perempuan Jihadis Bisa Kembali di Jalan yang Benar?

28 Januari 2023 - 12:00 WIB

Bagaimana Cara Perempuan Jihadis Bisa Kembali di Jalan yang Benar?

Tanda Orang Beriman Adalah Bersikap Inklusif

28 Januari 2023 - 10:00 WIB

Beriman

Rekonstruksi Pemikiran Kaum Milenial untuk Kemajuan Indonesia

27 Januari 2023 - 12:00 WIB

Rekonstruksi Pemikiran Kaum Milenial untuk Kemajuan Indonesia

Kebohongan Aktivis Khilafah tentang Tegaknya Negara Islam 2024

27 Januari 2023 - 10:00 WIB

Kebohongan Aktivis Khilafah tentang Tegaknya Negara Islam 2024

Indonesia Perlu Belajar dari Afghanistan, Jangan Sampai Negara Kita Hancur

26 Januari 2023 - 12:00 WIB

Indonesia Perlu Belajar dari Afghanistan, Jangan Sampai Negara Kita Hancur
Trending di Milenial