jalanhijrah.com – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) mulai meningkat di area yang terdampak banjir bandang dan longsor di Kota Padang, Sumatra Barat. Udara lembap serta tercemar endapan lumpur pascabencana diduga menjadi faktor pemicu lonjakan penyakit ini, terutama pada anak-anak.
Saat ini, sekitar 350 warga masih bertahan di lokasi pengungsian. Data dari Kelurahan Lapai, Kecamatan Nanggalo, mencatat ada 60 warga yang mengalami masalah kesehatan, dengan 4 di antaranya positif menderita ISPA. Salah satu pengungsi, Rahayu Nengsyih (26) dari Kelurahan Kampung Lapai, terserang ISPA setelah beberapa hari berada di posko. Ia mengaku bahwa debu dan sisa lumpur banjir membuat pernapasannya sangat terganggu.
“Pada Kamis dini hari, air mulai masuk ke rumah. Saat itu saya masih bekerja dan sedang dalam perjalanan pulang. Begitu tiba, air sudah mencapai setinggi mata kaki,” tuturnya , Rabu (3/12/2025).
Rahayu berusaha mengamankan barang-barang penting dengan meletakkannya di tempat yang lebih tinggi, namun ketinggian air terus bertambah hingga mencapai pinggang orang dewasa. Setelah sempat surut, banjir kembali datang pada malam harinya dengan arus yang lebih kuat.
“Kami tidak sempat lagi menyelamatkan apa pun. Saya hanya sempat membawa dokumen penting dan satu set pakaian ganti,” ujarnya.
Karena rumahnya tidak lagi layak dihuni, Rahayu memilih mengungsi ke Masjid Muttaqin. Selama tiga hari berada di posko, ia mengalami batuk, demam, dan sesak napas akibat paparan lumpur serta debu.
“Di sini bau lumpurnya sangat menyengat. Untung ada layanan Puskesmas keliling, obat-obatnya membantu meredakan sesak napas. Bukan hanya saya, bayi, anak-anak, hingga lansia juga banyak yang terserang ISPA,” jelasnya.
Rahayu berharap rumahnya dan area sekitar segera dapat dibersihkan. Tumpukan lumpur tebal di dalam maupun di luar rumah membuat proses pemulihan berjalan sangat lambat.
“Kami benar-benar membutuhkan bantuan obat-obatan, terutama obat untuk pernapasan, karena banyak warga mengalami sesak napas akibat kondisi lingkungan yang lembap dan dipenuhi lumpur,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris LPBINU Kota Padang, Pearly Nurhasnah, mengonfirmasi bahwa sejumlah warga di posko mulai terserang ISPA, gatal-gatal, demam, serta pilek selama masa pengungsian.
“Penyebab utamanya berasal dari abu dan debu yang berterbangan di sekitar posko,” ujar Pearly, yang juga merupakan Pendiri Yayasan Afiliasi Kebencanaan Darurat Kota Padang.
Ia memberikan penanganan medis sederhana kepada para pengungsi, seperti multivitamin, obat penurun demam, dan salep untuk mengatasi gatal-gatal.
“Sebagian besar anak-anak sudah demam selama tiga hari. Kami hanya bisa memberikan obat pendukung seperti multivitamin dan parasetamol. Untuk kasus ISPA, karena saya bukan tenaga kesehatan, saya tidak dapat melakukan tindakan lebih jauh,” tambahnya.
Menurut laporan Dinas Kesehatan Kota Padang pada Kamis (4/12/2025), terdapat 167 pengungsi yang terdeteksi menderita ISPA. Sementara itu, BPBD mencatat jumlah total pengungsi di Kota Padang telah mencapai 4.456 jiwa.










