jalanhijrah.com – Beberapa hari lalu, banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, memicu perdebatan yang hangat. Sebagian orang memandang bencana ini sebagai wujud takdir Allah melalui curah hujan yang tinggi dan kondisi atmosfer yang ekstrem.
Di sisi lain, ada yang menilai bahwa dampak yang begitu parah terjadi karena kelalaian manusia dalam menjaga alam, terutama akibat deforestasi yang masif. Sebenarnya, kedua pandangan ini tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Dalam perspektif Islam, takdir Allah sering terealisasi melalui sunnatullah, yakni hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan di dunia. Dengan demikian, hujan ekstrem merupakan bagian dari takdir Allah, sementara kerusakan lingkungan di hulu sungai adalah akibat kelalaian manusia yang memperburuk dampak takdir tersebut.
Menurut situs resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS, menyatakan bahwa banjir bandang yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dipengaruhi oleh kombinasi faktor alam dan kerusakan lingkungan. Cuaca ekstrem hanyalah pemicu awal, sementara deforestasi dan kerusakan benteng alam akibat aktivitas manusia membuat dampak bencana menjadi jauh lebih parah. Di sinilah letak tanggung jawab manusia. Artinya, selain menjadi bagian dari takdir, peristiwa ini juga menuntut kesadaran moral manusia. Menyadari takdir Allah sambil memahami peran kita sendiri justru membuka kesempatan untuk mengambil hikmah: pesan apa yang Allah ingin sampaikan melalui bencana ini?
Iman kepada takdir tidak seharusnya membuat seorang Muslim pasif. Sebaliknya, keimanan harus mendorong kita berpikir kritis, mengevaluasi tindakan kita, dan mencari petunjuk Allah di balik setiap peristiwa. Ujian dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Mulk ayat 2, bertujuan untuk menilai kualitas amal manusia. Imam al-Baghawi menafsirkan ayat ini sebagai penekanan pada orang yang lebih baik akalnya, lebih menjaga diri dari hal-hal yang dilarang Allah, dan lebih cepat dalam menaati-Nya.
Dengan perspektif ini, bencana banjir yang menelan banyak korban seharusnya memicu kita menggunakan akal untuk menelusuri penyebabnya, mengevaluasi kelalaian manusia, dan memperbaiki lingkungan yang rusak. Selain dianggap ujian (bala’), peristiwa ini juga menuntut muhasabah: apakah ada kesalahan atau perbuatan munkar manusia yang memperparah bencana?
Salah satu faktor yang memperburuk banjir adalah eksploitasi sumber daya alam yang masif. Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) mencatat sekitar 600 perusahaan melakukan deforestasi hingga 1,4 juta hektar di tiga provinsi terdampak antara 2016-2025. Jika banjir adalah takdir Allah, kerusakan alam yang begitu besar merupakan akibat perbuatan munkar yang Allah tunjukkan melalui bencana. Hal ini sesuai dengan QS Ar-Ra’d ayat 11, yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.
Banyak penceramah menafsirkan ayat ini sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, padahal makna utama ayat ini adalah peringatan Allah terhadap bencana yang menimpa komunitas yang melakukan kerusakan. Imam Ar-Razi menekankan bahwa Allah menurunkan siksa sebagai akibat kemaksiatan dan perusakan manusia. Dari peristiwa banjir, kita dapat belajar bahwa keseimbangan ekologi adalah nikmat Allah untuk melindungi manusia. Ketika manusia merusaknya, Allah menurunkan bencana sebagai peringatan.
Sejalan dengan itu, umat Muslim seharusnya aktif mencegah deforestasi dan kerusakan lingkungan. Jika kemunkaran ekologis dibiarkan, dampaknya menimpa tidak hanya pelaku, tetapi juga masyarakat luas. Rasulullah SAW bersabda bahwa jika masyarakat melihat kemungkaran dan tidak berusaha mengubahnya, Allah akan menurunkan siksa-Nya secara merata.
Dengan demikian, banjir bandang di Sumatera bukan semata-mata takdir Allah, tetapi juga teguran atas kelalaian manusia dalam merawat alam. Tugas kita bukan hanya bersabar menerima takdir, tetapi juga bermuhasabah, memperbaiki kesalahan, dan menjaga lingkungan agar bencana serupa tidak terjadi lagi. Wallahu a’lam.










