Home / News / Pengamat Ingatkan Risiko Krisis Energi Saat Mudik 2026, Dorong Transportasi Publik Jadi PSN

Pengamat Ingatkan Risiko Krisis Energi Saat Mudik 2026, Dorong Transportasi Publik Jadi PSN

jalanhijrah.com – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak global. Kondisi ini dinilai dapat berdampak pada stabilitas ekonomi, termasuk menjelang arus mudik Lebaran 2026 di Indonesia.

Juru Bicara Militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, sebelumnya memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi melambung hingga melampaui 200 dolar AS per barel setelah serangan terhadap fasilitas dan kilang minyak di Teheran pada Sabtu (7/3/2026).

Menanggapi situasi tersebut, Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengingatkan bahwa pelaksanaan mudik 2026 berisiko terjadi di tengah bayang-bayang krisis energi.

“Ketegangan geopolitik antara Israel–Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi domestik menjelang mudik Lebaran 2026. Dampak yang paling terasa adalah kemungkinan lonjakan harga minyak dunia yang dapat memicu kenaikan harga BBM,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Menanggapi kondisi tersebut, pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mendorong pemerintah agar segera menetapkan transportasi publik di seluruh Indonesia sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Ia menilai langkah itu juga sejalan dengan janji kampanye Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024 yang menyinggung rencana subsidi penuh untuk transportasi publik.

“Sudah waktunya transportasi publik masuk dalam PSN agar penggunaan energi bisa lebih efisien. Pemerintah juga perlu berani menyusun perencanaan yang komprehensif melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga,” katanya.

Djoko menilai penetapan transportasi publik sebagai prioritas PSN akan sangat membantu menghadapi potensi krisis energi, khususnya ketika konsumsi BBM melonjak pada masa mudik. Menurutnya, jika angkutan umum tidak dijadikan prioritas, pemerintah harus memikirkan konsekuensinya.

“Bayangkan jika suatu saat pasokan BBM terbatas sementara layanan angkutan umum belum memadai, tentu ini akan menjadi persoalan besar,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa lonjakan harga minyak dunia dapat menjadi ujian serius bagi ketahanan sistem transportasi nasional yang hingga kini masih didominasi kendaraan pribadi dan sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

“Kondisi ini menunjukkan rapuhnya sistem transportasi Indonesia yang terlalu bergantung pada BBM fosil, sementara pengembangan angkutan umum terus terabaikan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memperkirakan mobilitas masyarakat selama periode angkutan Lebaran 2026 akan mencapai sekitar 143,91 juta orang, atau setara dengan 50,6 persen dari total populasi Indonesia.

Berdasarkan data Kemenhub, arus pemudik terbesar diprediksi berasal dari Jawa Barat dengan jumlah sekitar 30,97 juta orang. Angka tersebut diikuti oleh DKI Jakarta sebanyak 19,93 juta orang dan Jawa Timur sekitar 17,12 juta orang.

Dari sisi tujuan perjalanan, Jawa Tengah diperkirakan menjadi destinasi utama dengan jumlah pemudik mencapai 38,71 juta orang. Setelah itu, Jawa Timur diperkirakan menerima 27,29 juta pemudik, disusul Jawa Barat dengan sekitar 25,09 juta orang.

Tag: