Amerika Serikat – Dasha Kilpatrick asal Texas, Amerika Serikat, menarik perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Dalam video itu, Kilpatrick berkonfrontasi dengan dua perempuan Muslim di supermarket H-E-B, Conroe, Texas.
Kemudian, video berdurasi 44 detik itu memicu polemik karena Kilpatrick menyebut Islam sebagai “organisasi teroris”. Selain itu, ia mengatakan negaranya tidak menerima dua perempuan Muslim tersebut.
Akibatnya, ucapan Kilpatrick memicu kecaman luas dari publik. Banyak warganet menilai pernyataan itu mengandung sentimen anti-Muslim dan menyerang identitas keagamaan.
Sementara itu, Kilpatrick bekerja sebagai terapis pijat. Dalam video tersebut, ia tampak mengenakan seragam medis biru. Setelah video viral, warganet mulai membahas identitas Kilpatrick dan tempat kerjanya.
Selain itu, sejumlah pengguna internet memberi ulasan negatif kepada bisnis yang berkaitan dengannya. Namun, kecaman publik tidak menghentikan dukungan terhadap Kilpatrick.
Sebaliknya, sebagian pihak menggalang donasi melalui platform GiveSendGo. Berdasarkan pemberitaan yang beredar, donasi untuk Kilpatrick mencapai USD140.178 atau lebih dari Rp2,5 miliar.
Di sisi lain, penggalang dana menyatakan Kilpatrick kehilangan pekerjaan dan menghadapi tekanan publik. Karena itu, narasi dukungan tersebut memicu polemik baru di Amerika Serikat.
Secara lebih luas, kasus ini memperlihatkan kuatnya polarisasi dalam isu agama, identitas, dan kebebasan berbicara. Di satu sisi, publik mengecam ucapan Kilpatrick yang menyebut Islam sebagai “organisasi teroris”. Di sisi lain, sebagian kelompok justru memberi dukungan finansial kepadanya.
Selanjutnya, Anggota Parlemen Negara Bagian Texas, Suleman Lalani, mengecam pernyataan Kilpatrick. Ia menilai masyarakat harus melawan kebencian dengan fakta, kebenaran, dan persatuan. Sementara itu, Anggota Kongres Partai Republik, Nancy Mace, menyatakan dukungan kepada Kilpatrick melalui media sosial X.








