Menu

Mode Gelap

Milenial · 3 Jul 2022 12:00 WIB ·

As-Syifa; Perempuan Pegiat Literasi Pertama dalam Islam


					As-Syifa; Perempuan Pegiat Literasi Pertama dalam Islam Perbesar

Jalanhijrah.com– Islam datang  sebagi agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, termasuk di dalamnya adalah kaum perempuan. Pada zaman sebelum Nabi Muhammad diutus, keberadaan kaum perempuan sungguh miris sekal. Mereka bagaikan barang yang tak berharga diperdagangkan, dijual bahkan diwariskan. Dan yang lebih  parah lagi bayi perempuan yang lahir pada masa itu dikubur hidup-hidup.

Kultur masyarakat Arab waktu itu masih mengedepankan tradisi menghafal dari pada menulis dan dominasi menghafal adalah kaum patriarki. Namun ketika Islam datang, kaum perempuan juga ikut andil dalam tradisi menghafal, tak terkecuali asy-Syifa yang mengenalkan tradisi menulis pada zaman Nabi.

As-Syifa nama nasabnya as-Syifa’ binti Abdillah ibnu Syams ibn Khalaf ibnu Sada ibnu Abdillah al-Quraisyyah dalam kitab tabaqat al-Kubra disebutkan ia termasuk perempuan yang pertama masuk Islam. Ia juga merupakan  istri Abu Khasmah.

As-Syifa termasuk perempuan multitalenta. Terbukti ketika belum masuk Islam, ia dapat menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu pengobatan, managemen pasar, dan tulis-menulis atau literasi.

Al-Hasil ketika masuk Islam, posisinya sangat urgen terhadap dakwah perkembangan Islam pada waktu itu. Kepiawayannya dalam bidang tulis-menulis menjadikan as-Syifa dikenal sebagai guru perempuan pertama dalam bidang literasi pada waktu itu. Sehingga dakwahnya juga memberikan efek positif khususnya kepada kaum perempuan.

Ketika Nabi hijrah ke Madinah, ia ikut andil dan mendampingi Nabi ke Madinah. Sesuai Namanya, As-Syifa, yang berarti obat. Sebagai perempuan multitalenta, ia juga pandai dalam ilmu pengobatan.

Baca Juga  Pesantren dan Kampus Dalam Himpitan Radikalisme dan Terorisme

Sebagaimana diriwayatkan dari Sunan abu Dawud juz 10 halaman 291 yang artinya “Rasulallah datang kepadaku ketika aku  berada di rumah Hafsah dan berkata kepadaku,wahai  Syifa  ajarkanlah kepada Hafsah (istri Nabi MuihammadI) mengobati penyakit sebagaiamana engkau mengajarinya perihal tulis-menulis.

Salah satu pengobatannya adalah ruqyah dan ahli pengobatan penyakit kulit. Adapun ruqyah yang as-Syifa gunakan sebagaimana dalam kitab Aunul Ma’bud, adalah Ruqyah yang menggunakan  namlah, yang merupakan nama penyakit yang ada pada tubuh manusia. Oleh karena itu, Nabi mendukung segala aktivitasnya, kemudian Nabi memberikan rumah khusus untuk as-Syifa dan anak-anaknya.

As-Syifa merupakan perempuan yang cerdas, dengan kelebihannya dalam bidang literasi maka tak jarang Umar bin Khattab meminta pendapatnya dalam berbagai urusan termasuk manajemen pasar Madinah.

Umar memberikan posisi yang sangat strategis, dia ditunjuk umar sebagai kepala pasar Madinah, karena Umar melihat kecakapan, kompetensi dan kapabilitasnya yang dianggap mampu mengurusi pasar tersebut, sehingga Umar bin Khattab tidak ragu memberikan kepercayaan.

Selain pandai ilmu pengobatan dan kemampuan menulis, ternyata as-Syifa juga seorang periwayat hadis. Hadis yang ia riwayatkan dominannya dalam kitab Sunan Abu Dawud. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, dalm kitab al-Ishabah fi Tamizi Shahabah, as-Syifa merupakan tokoh ilmuan wanita.

Nama sebenarnya adalah Laila. Selain itu ia juga mempunyai nama samaran Ummu Sulaiman. Nama as-Syifa mempunyai kedudukan tersendiri di mata Nabi dalam membantu dakwah Islam terutama dalam bidang tulis-menulis dan membaca bagi kaum perempuan. As-Syifa menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 20 H, ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab. Ia telah dirindukan oleh Surga.

Baca Juga  Aparatur Pemerintah Berlatih Tangani Tindak Pidana Pendanaan Terorisme

Dari as-Syifa binti Abdulllah kita dapat mengambil hikmah bahwa perempuan juga turut andil dalam tersebarnya dakwah Islam terutama menulis dan membaca, terlebih  seluruhnya ia lakukan atas dasar keikhlasan. Sehingga, ia mempunyai kedudukan tersendiri di mata orang nomer satu sedunia yakni Nabi Muhammad.

Penulis: Nafilah Sulfa Mahasantri Ziyadatut Taqwa, Mahasiswi semester akhir Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Literasi Moderat, Kontra-Narasi, dan Upaya Melawan Khilafahisasi NKRI

7 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Literasi Moderat, Kontra-Narasi, dan Upaya Melawan Khilafahisasi NKRI

Rahasia Dibalik Tanggal, Bulan dan Tahun Kemerdekaan RI

7 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Rahasia Dibalik Tanggal, Bulan dan Tahun Kemerdekaan RI

Mengapa Hijrah adalah Topik Paling Ciamik Antek-Antek Khilafah dalam Berdakwah?

6 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Mengapa Hijrah adalah Topik Paling Ciamik Antek-Antek Khilafah dalam Berdakwah?

Etika Penulis Ketika Salah Mengirim Naskah

6 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Etika Penulis Ketika Salah Mengirim Naskah

Pahala Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharam

5 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Pahala Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharam

Fenomena Jilbabisasi dan Kekerasan Struktural di Sekolah Negeri

5 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Fenomena Jilbabisasi dan Kekerasan Struktural di Sekolah Negeri
Trending di Milenial