Jalanhijrah.com – Ada satu sifat yang sangat dibenci dalam ajaran Islam. Sifat ini begitu tercela hingga Rasulullah SAW secara khusus mengingatkan umatnya agar menjauhinya dengan sungguh-sungguh. Dalam Islam, perilaku tersebut dikenal dengan istilah syamatah.
Secara sederhana, syamatah adalah perasaan senang ketika melihat orang lain tertimpa musibah, gagal, atau mengalami kesulitan. Hati merasa puas, lega, bahkan diam-diam bahagia atas penderitaan orang lain, baik terhadap orang yang dikenal maupun orang yang tidak disukai.
Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus dalam penyakit hati ini. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi bersabda:
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan, keterpurukan dalam kesengsaraan, buruknya ketentuan takdir, dan syamatahnya musuh.” (HR. Bukhari)
Dalam hadis lain riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW juga menegaskan agar seseorang tidak menunjukkan kegembiraan atas musibah yang menimpa orang lain:
“Janganlah engkau menampakkan rasa senang atas musibah saudaramu, karena bisa jadi Allah akan menyelamatkannya dan justru mengujimu.” (HR. Tirmidzi)
Hadis-hadis tersebut menjadi pengingat bahwa seorang Muslim tidak seharusnya merasa bahagia atas penderitaan orang lain, sekalipun kepada orang yang tidak ia sukai. Sebab, keadaan manusia bisa berubah kapan saja. Orang yang hari ini diuji bisa saja besok diangkat derajatnya oleh Allah, sementara orang yang merasa lebih baik justru dapat mengalami ujian serupa, bahkan lebih berat.
Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia tidak merendahkan atau mengolok-olok orang lain. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.”
Para ulama pun menjelaskan bahaya syamatah. Imam Al-Ghazali dalam kitab Mizanul ‘Amal menyebut syamatah sebagai penyakit hati yang menunjukkan lemahnya empati dan rusaknya kepekaan moral seseorang. Menurut beliau, syamatah adalah rasa senang atas musibah yang menimpa orang lain yang sebenarnya tidak layak menerima keburukan tersebut.
Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa merasa senang atas penderitaan sesama Muslim, baik dalam urusan agama maupun dunia, termasuk perbuatan yang dilarang karena bertentangan dengan semangat persaudaraan dalam Islam. Seorang Muslim seharusnya menjaga hati tetap lembut, menumbuhkan empati, dan peduli terhadap sesama, bukan justru menikmati penderitaan mereka.
Lalu mengapa sifat syamatah bisa muncul dalam diri manusia?
Muhammad al-Tahir Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wat Tanwir menjelaskan bahwa syamatah lahir dari permusuhan dan rasa dengki yang tersimpan dalam hati. Seseorang merasa tidak senang melihat orang lain hidup bahagia, berhasil, atau mendapatkan kebaikan. Ketika orang tersebut tertimpa musibah, muncullah rasa puas dalam dirinya.
Karena itu, syamatah sangat berkaitan dengan sifat hasad atau iri hati. Al-Qur’an sendiri telah memperingatkan bahaya dengki dalam Surah Al-Falaq ayat 5:
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa sifat dengki dapat menghapus pahala amal kebaikan. Beliau bersabda:
“Jauhilah sifat dengki, karena dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Dalam dunia psikologi, perasaan senang atas penderitaan orang lain dikenal dengan istilah schadenfreude. Istilah dari bahasa Jerman ini berarti kegembiraan yang muncul karena melihat orang lain mengalami kesulitan atau kegagalan.
Fenomena ini sebenarnya cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang merasa puas ketika rivalnya gagal, atau diam-diam terhibur saat melihat orang lain jatuh dalam masalah. Menurut kajian psikologi, kondisi ini bisa muncul karena rasa iri, persaingan, keinginan merasa lebih unggul, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Pada akhirnya, baik syamatah maupun schadenfreude sama-sama berasal dari penyakit hati yang harus diwaspadai. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan hati, memperkuat empati, dan mendoakan kebaikan bagi sesama.
Sebab kebahagiaan sejati bukanlah ketika melihat orang lain jatuh, melainkan ketika kita mampu tetap mendoakan dan peduli kepada mereka, bahkan di saat mereka sedang diuji. Dengan hati yang bersih dari iri dan dengki, kehidupan akan terasa lebih damai dan penuh keberkahan. Wallahu a‘lam.






