Menuju Ramadan: Jihad Membunuh Virus Khilafah

Jalanhijrah.com-Sebentar lagi kita menuju ramadan, bulan mulia bagi umat Muslim. Kemuliaan ini salah satunya dikarenakan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan. Kalau kita lihat di media sosial, ajakan untuk hijrah menuju ramadan, berbuat kebaikan serta berjihad untuk memerangi hawa nafsu, bertebaran di media sosial.

Ramadan yang kita lakukan dengan puasa, bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus semata. Akan tetapi juga menahan hawa nafsu selama satu bulan, sehingga menjadi awal dari kehidupan yang akan dilakukan setelahnya. Oleh karena itu, fokus selama ramadan adalah mengubah perilaku. Memprioritaskan membersihkan hati, ibadah, agar memiliki dampak kuat dalam kehidupan dan muamalah kita.

Menuju Ramadan, bisa menjadi ruang kebaikan yang bisa dimanfaatkan oleh kita sebagai umat muslim. Seperti misalnya di media online, bisa menjadi ruang untuk beramal melalui informasi yang bisa sebarkan sebagai upaya edukasi secara digital. Namun, apakah semua informasi yang disebarkan di media sosial bersifat edukasi digital, sehingga bisa menjadi ladang kebaikan? Tentu tidak. Kalau kita lihat tipologi informasi yang tersebar di media online, justru banyak narasi-narasi yang menciptakan kebencian dan permusuhan. Salah satunya dilakukan oleh para aktivis khilafah.

Teori yang paling familiar dari apa yang disampaikan oleh aktivis khilafah adalah teori konspirasi anti-Barat pada muslim Indonesia. Keberadaan narasi anti Barat dengan mengaitkan pada fenomena-fenomena sosial, utamanya kebijakan pemerintah, menyebabkan kebencian masyarakat terhadap Barat. Sehingga yang terjadi adalah kerentanan kehancuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga  Guru PAI Menangkal Radikalisme di Lingkup Pendidikan, Wajib!

Selain itu, kepercayaan atas teori konspirasi yang berpadu dengan sistem kepercayaan ideologis dapat mendorong rasa permusuhan terhadap kelompok yang berbeda. Sebuah keniscayaan ketika, rasa superioritas ini akan terus ada pada kelompok mayoritas. Akan tetapi, menjadi masalah ketika didorong oleh kebencian karena perbedaan. Sebab akan menciptakan ketidakstabilan kehidupan akibat perbedaan tersebut.

Fenomena ini merupakan ancaman realistis maupun simbolik dari pihak Barat yang dimediasi oleh emosi negatif dan dimoderatori keberadaan identitas. Artinya, Islam sebagai identitas paling banyak di Indonesia, munculnya teori anti-Barat ini kemudian menyebabkan Muslim merasa tersaingi ataupun merasa kalah, ketika aturan, kebijakan yang diterapkan dalam sebuah negara tidak berlandaskan aturan Islam. Muncul perasaan kalah juga ketika, pemerintah yang berjalan tidak berdasarkan aturan Islam.

Padahal, aturan Islam yang dimaksud oleh aktivis khilafah tidak lebih dari gerakan politik yang semata-mata tidak mempertimbangkan kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Narasi anti-Barat yang tersebar dalam setiap tulisan para aktivis khilafah, akan menyebabkan persepsi subjektif dalam melihat negara. Selama negara tidak mendirikan negara Islam, maka selamanya, kebaikan dan kebijakan apapun yang sudah diupayakan oleh pemerintah akan tetap salah bagi para aktivis khilafah.

Di sinilah kita memahami bahwa, dasar yang digunakan untuk menciptakan kesejahteraan yang berlandaskan Islam, akan tetapi hanyalah ambisi politik yang mengatasnamakan Islam. Saya selalu sepakat untuk kembali ke syariat, sebab saya seorang muslim. berpedoman kepada Al-Quran dan hadis. Namun saya tidak sepakat ketika kalimat tersebut muncul dari para aktivis khilafah. Sebab akan bermuara pada pendirian negara Islam.

Baca Juga  Fathimah binti Abdul Malik, Menanggalkan Kemewahan Menuju Kesederhanaan

Black Campaign Aktivis Khilafah

Kampanye hitam atau yang dikenal dengan black campaign merupakan kampanye yang melakukan sindiran, rumor, propaganda yang menyasar kepada seseorang, publik, atau masyarakat agar menimbulan persepsi yang tidak etis terutama dalam hal kebijakan publik.

Kampanye hitam ini sering kita temui dalam berbagai informasi yang berkenaan dengan tulisan para aktivis khilafah. Propaganda yang menyebar kebencian, fitnah dan asumsi-asumsi negatif tentang pemerintah yang bertujuan untuk menciptakan kebencian masyarakat kepada negara Indonesia terus terjadi. Pada bulan ramadan, fenomena tersebut tidak akan hilang. Justru menjadi momen yang sangat ciamik karena narasi berlindung pada narasi bulan ramadan sebagai bulan penuh kebaikan.

Kampanye hitam yang dilakukan oleh para aktivis khilafah di media sosial bukan hanya terjadi pada bulan ramadan saja. Mereka melakukan aktivitas tersebut secara sustainable.

Bagaimana Jihad di Bulan Ramadan?

Atas dasar itu, saya rasa sangat penting untuk kita terus berjihad membunuh virus-virus khilafah. Jika di hari-hari biasa (di luar bulan Ramadan) kita melakukan kontra narasi untuk meluruskan persepsi, dan bertujuan melakukan edukasi digital. Maka di bulan Ramadan adalah ladang pahala jika jihad digital ini terus kita lakukan. Narasi khilafah harus dilawan dengan narasi. Ini adalah salah satu bentuk jihad yang bisa dilakukan pada bulan Ramadan, dan bisa menjadi ladang pahala bagi umat Islam.  Sebab upaya tersebut didasari pada kecintaan kepada bangsa supaya tidak terjadi perpecahan yang mengakitbatkan kehancuran bangsa Indonesia. Wallahu a’lam.

Muallifah

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *