Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 6 Apr 2022 15:00 WIB ·

Mencium Istri Saat Puasa, Batalkah?


					Mencium Istri Saat Puasa, Batalkah? Perbesar

Jalanhijrah.com – Salah satu hal yang wajib dihindari saat berpuasa adalah perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti inzal atau keluar sperma baik laki-laki atau perempuan. Walaupun mencium istri sendiri adalah hal yang diperbolehkan. Namun bagaimana kalau mencium istri sendiri saat puasa, bolehkah?

Terkait hukum berciuman istri saat puasa memang perlu dibahas secara terperinci. Hal ini berbeda saat tidak puasa. Karena saat tidak puasa, mencium istri adalah hal yang diperbolehkan bahkan merupakan suatu ibadah. Dan berikut hukum mencium istri saat puasa

Muhammad Zuhaili dalam kitabnyaAl-Mu’tamad fi al-Fiqh as-Syafi’i menyatakan

تكره القبلة للصائم كراهة تحريم اذا كانت تحرك الشهوة للرجل والمرأة،  لتعريض الصوم للإفساد،  فإن لم تحرك الشهوة فهي مكروهة،  والأولى تركها.

Artinya: “Mencium (istri) ketika dalam keadaan berpuasa serta dapat menimbulkan syahwat (nafsu) antara keduanya (suami dan istri), maka hukumnya adalah makruh tahrim. Hal ini dikarenakan bisa membahayakan (membatalkan) terhadap puasa. Sebaliknya, apabila tidak sampai menimbulkan syahwat dihukumi makruh saja. Akan tetapi, meninggalkan perkara ini lebih utama atau lebih baik”.

Sementara itu, jika mencium istri bisa sampai mengakibatkan ejakulasi, seketika puasanya menjadi batal. Sebab, hal ini sama dengan istimna (yakni mengeluarkan air mani secara sengaja walaupun tanpa bersanggama atau onani).

ولو قبَّل امرأة فأمنى، ولم يخرج المني، فلا يفطر.

Artinya: “Apabila mencium istri merasa aman dan tidak sampai mengeluarkan air mani, maka tidak membatalkan puasa”.

Baca Juga  Bolehkah Bernyanyi di Dalam Masjid?

Dari sini penjelasan Muhammad Zuhaili ini menjadi jelas bahwa hukum berciuman dengan istri saat puasa itu terperinci menjadi tiga.

Pertama, makruh tahrim (makruh yang berdosa apabila melakukannya). Yaitu apabila mencium istri membangunkan syahwat untuk bercinta

Kedua, makruh. Yaitu apabila mencium istri namun tidak membangunkan syahwat

Ketiga, membatalkan puasa. Yaitu apabila mencium istri sampai mengakibatkan ejakulasi.

Demikian hukum berciuman dengan istri saat puasa, Wallahu A’lam Bishowab.

*Penulis: Ahmad Khalwani

Penikmat Kajian keislaman
Artikel ini telah dibaca 5 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian