Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 26 Mei 2022 15:00 WIB ·

Memfasilitasi Anak Dengan Smartphone, Bolehkah?


					Memfasilitasi Anak Dengan Smartphone, Bolehkah? Perbesar

Harakatuna.com –  Di era perkembangan teknologi yang luar biasa, menghindarkan anak-anak dari bermain dengan smartphone adalah hal yang sangat sulit dihindarkan. Bahkan terkadang ada sebagian orang tua yang membiarkan anaknya bermain smartphone dalam waktu yang lama hanya karena sibuk dan biar anaknya tidak rewel. Namun demikian apakah boleh dalam Islam, orang tua memfasilitasi anak dengan smartphone

Terkait hal ini, Imam Ghazali seorang pakar fikih dan tasawuf memberikan penjelasan bahwa orang tua diperbolehkan memberikan fasilitas smartphone kepada anaknya. Namun demikian dengan tujuan untuk mengedukasi. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumudin Halaman 73, jilid 3 menuliskan

ويمبغي أن يؤذن له بعد الاصراف من الكتاب أن يلعب لعبا جميلا يستريح إليه من التعب المكتب

Artinya: “seyogyanya bagi orang tua untuk memberikan izin bagi anaknya setelah pulang sekolah untuk bermain. Bermain dengan media yang positif sehingga dapat beristirahat dari kejenuhan belajar. Namun tidak sampai berlebihan dalam bermain.

Meskipun orang tua diperbolehkan memberikan fasilitas smartphone kepada anaknya. Namun orang tua tetap harus mengontrol pemakaian smartphone atau gadget anaknya. Sehingga pemakaian smartphone akan berdampak positif dan tidak membahayakan sang anak. Sheikh Husain Al Halimi dalam kitabnya Al-Minhaj halaman 97 menjelaskan hal demikian. Beliau menuliskan

BACA JUGA  Self Healing Ketika Disakiti

واما الصبيان فكل لعب اشتغلوا به مما لا يخشي عليهم ضرر في العاجل ولاجل ويظن ان فيه لهم انشراح صدر وتفرج قلب فإنهم لايمنعون عنه بالاطلاق

Baca Juga  Inilah yang Dilakukan Makmum Ketika Tertinggal Dalam Shalat Jenazah

Artinya: “Dan bagi anak kecil, jika suatu permainan menyibukkan mereka dan tidak dikhawatirkan adanya dampak negatif di masa sekarang dan yang akan datang. Serta ada potensi yang menjadikan mereka lapang hati maka mereka tidak bisa dihalangi untuk memainkannya.

Orang tua yang memberikan fasilitas smartphone kepada anaknya selain wajib mengontrol dan adanya manfaat yang akan dirasakan anak. Orang tua wajib memiliki dugaan yang kuat bahwa si anak tidak akan terbawa dalam hal-hal yang negatif akibat gadgetnya. Wallahu A’lam Bishowab.

Penulis: Ahmad Khalwani Penikmat Kajian keislaman

Artikel ini telah dibaca 14 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian