Hari Jumat memiliki keistimewaan yang tak tergantikan dalam Islam. Dalam salah satu ceramahnya, KH Ahmad Bahaudin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, menjelaskan secara menarik dan khas tentang asal-usul serta keutamaan Hari Jumat. Dengan gaya bercanda yang menyegarkan, beliau menyampaikan makna mendalam yang menyentuh hati banyak umat.
Menurut Gus Baha, Allah SWT pada mulanya menciptakan lima hari sebagai bagian dari rancangan-Nya. Namun, pada akhirnya hari-hari tersebut disempurnakan dengan hari keenam yang disebut Jumat. Nama “Jumat” berasal dari kata jami’, yang berarti evaluasi total. Hari ini menjadi momen untuk merefleksikan, menyempurnakan, dan merajut kembali ikatan spiritual umat manusia dengan Tuhannya.
“Jumat adalah hari di mana segala sesuatu yang sudah ada dievaluasi dan disempurnakan,” jelas Gus Baha. Dalam tradisi Islam, Jumat adalah hari yang penuh berkah, tempat umat berkumpul dalam shalat Jumat, memperbarui komitmen keimanan, serta memanjatkan doa-doa yang diyakini memiliki peluang besar untuk diijabah.
Lebih lanjut, Gus Baha menjelaskan, Jumat merupakan hari keenam dalam hitungan hari, diikuti oleh Sabtu sebagai hari ketujuh. Dengan nada guyon, Gus Baha mengaitkan hari Sabtu sebagai hari istirahat yang diadopsi oleh tradisi Yahudi, yang menyebutnya sebagai Sabat. “Makanya orang Yahudi liburnya hari Sabtu. Kalau kamu minta libur hari Sabtu, berarti mirip orang Yahudi,” kelakar beliau. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa Hari Jumat tetap menjadi puncak keutamaan dalam kalender Islam.
Dalam ceramahnya, Gus Baha juga menyisipkan kritik humoris kepada kebiasaan yang berlebihan dalam memuliakan hari tertentu tanpa memahami makna mendalam di baliknya. Bagi Gus Baha, Hari Jumat bukan sekadar waktu, melainkan momentum spiritual yang patut dimanfaatkan umat Islam.
Sebagai hari yang penuh keutamaan, Jumat menjadi sarana umat untuk memperkuat ukhuwah, menebar kebaikan, serta meraih ridha Allah. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, memperbanyak amal kebaikan di hari ini, termasuk membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak doa, dan berbuat baik kepada sesama, merupakan bentuk pemanfaatan waktu yang terbaik.
Gus Baha mengingatkan dengan santai namun bermakna, bahwa keistimewaan Jumat bukanlah sekadar hari dalam seminggu, melainkan sebuah anugerah yang menjadi poros spiritual umat Islam. Maka, sudah sepatutnya Hari Jumat dimaknai lebih dari sekadar hari libur atau rutinitas, tetapi juga sebagai pengingat untuk terus mengevaluasi diri, meningkatkan ketakwaan, dan menyempurnakan ibadah kepada Sang Khalik.
Keutamaan Hari Jumat menurut Gus Baha adalah ajakan bagi kita semua untuk terus merawat iman, menguatkan hubungan dengan sesama, dan memaknai setiap hari sebagai bagian dari perjalanan menuju ridha Allah. Hari Jumat adalah momentum kebangkitan, refleksi, dan cinta yang harus kita jaga bersama.
Dalam konteks kehidupan modern, Gus Baha juga memberikan pemahaman bahwa Hari Jumat memiliki relevansi spiritual yang tak lekang oleh waktu. Tidak hanya menjadi hari untuk berkumpul dalam shalat Jumat, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya kebersamaan, introspeksi, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur agama.
Di tengah kehidupan yang kian sibuk dan materialistis, Hari Jumat mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, kembali kepada esensi keberagamaan, serta merenungkan arah hidup kita.
Lebih menarik lagi, Gus Baha menggambarkan Hari Jumat sebagai jami’, sebuah hari di mana segala amal dan upaya kita dievaluasi dan disempurnakan. Dalam Islam, Jumat menjadi hari penghapus dosa, di mana pintu-pintu rahmat Allah SWT terbuka lebar.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa pada hari ini terdapat satu waktu mustajab di mana doa tidak akan tertolak. Hal ini menunjukkan betapa mulianya Hari Jumat bagi umat Islam, sebagai hari untuk menanam harapan dan memperbarui hubungan dengan Allah SWT.
Gus Baha juga mengingatkan agar umat Islam menjaga tradisi dan keutamaan Jumat tanpa terjebak pada rutinitas kosong. Shalat Jumat, sebagai salah satu kewajiban yang melekat pada hari ini, harus dimaknai sebagai ibadah yang menggerakkan hati dan pikiran, bukan hanya sebuah ritual formal. “Datanglah ke masjid dengan hati yang bersih, dengarkan khutbah dengan khusyuk, dan jadikan Jumat sebagai waktu untuk memperbaiki diri,” pesan beliau.
Selain itu, beliau juga menekankan perlunya menjaga nilai-nilai sosial yang sejalan dengan ajaran Islam. Hari Jumat bukan hanya tentang memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Tradisi bersedekah, membantu orang lain, dan menyebarkan kebaikan menjadi bagian tak terpisahkan dari keutamaan hari ini.
Gus Baha mengajak umat untuk menjadikan Jumat sebagai hari berbagi dan peduli, bukan hanya untuk meraih keberkahan pribadi, tetapi juga menyebarkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Melalui ceramahnya, Gus Baha memberikan pesan mendalam tentang bagaimana memaknai Hari Jumat sebagai wujud nyata dari nilai-nilai Islam yang penuh rahmat dan cinta kasih. Sebagai agama yang menebar rahmatan lil ‘alamin, Islam menjadikan Hari Jumat sebagai tonggak spiritual yang menguatkan umat dalam menjalani kehidupan.
Dengan gaya tutur yang santai namun penuh hikmah, Gus Baha berhasil menyampaikan bahwa Hari Jumat bukan hanya sekadar hari dalam kalender, tetapi sebuah simbol evaluasi diri, penguatan iman, dan momentum untuk menebarkan kebaikan.
Pesan beliau menjadi pengingat bahwa keutamaan Jumat tidak akan pernah hilang nilainya, sepanjang umat Islam memahami dan menjalankan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.










