Home / Taubat / Mengubah Kekecewaan Menjadi Tasbih: Hikmah dari Ijazah Gus Baha

Mengubah Kekecewaan Menjadi Tasbih: Hikmah dari Ijazah Gus Baha

Kekecewaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Rasa kecewa muncul saat realitas tidak sesuai dengan harapan, menggerogoti semangat, dan sering kali membuat hati diliputi kekosongan. Namun, dalam sebuah kajian penuh hikmah, K.H. Ahmad Bahaudin Nursalim, atau akrab disapa Gus Baha, memberikan solusi bijak: ubahlah kekecewaan menjadi tasbih.

Pesan ini disampaikan Gus Baha pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus peringatan ulang tahun ke-20 Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), 28 September 2024. Dalam ceramahnya, beliau mengutip ayat Al-Qur’an “Washbir lihukmi rabbik” dan menafsirkannya dengan mengacu pada pandangan Fakhruddin al-Razi: “Wa baddil laknah bit tasbih” (gantilah laknat dengan tasbih).

Gus Baha menjelaskan perbedaan antara sikap nabi-nabi terdahulu dengan Nabi Muhammad SAW saat menghadapi kekecewaan. Jika Nabi Nuh AS meminta kehancuran bagi kaumnya yang ingkar, Nabi Muhammad SAW justru menempuh jalan penuh kasih sayang. Alih-alih melaknat, beliau memilih untuk bersabar, memohon ampun bagi umatnya, dan terus berdakwah.

Spirit ini menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam. Dalam situasi penuh tekanan dan konflik, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak terjebak dalam kebencian, tetapi menjadikan dzikir sebagai pelipur lara. Dengan tasbih, kekecewaan diubah menjadi ketenangan, dan kebencian digantikan dengan keikhlasan.

Lebih jauh, Gus Baha memberikan contoh bahwa konflik yang sering kali menjadi sumber kekecewaan justru dapat membawa hikmah besar. Beliau menuturkan bagaimana perselisihan di antara keturunan para kiai tidak menjadi akhir dari dakwah, melainkan justru melahirkan banyak pesantren di berbagai wilayah. Konflik yang awalnya destruktif berubah menjadi peluang untuk memperluas penyebaran Islam.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa kekecewaan atau perselisihan, jika disikapi dengan bijak, dapat menjadi titik awal kebaikan. Islam memberikan jalan keluar melalui tasbih—dzikir yang tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga membantu menenangkan hati dan merenungkan hikmah di balik setiap peristiwa.

Ijazah yang disampaikan Gus Baha sederhana tetapi mendalam: “Ubahlah kekecewaan dengan tasbih.” Pesan ini relevan untuk semua kalangan, terutama dalam menghadapi tantangan hidup di era modern yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Dzikir bukan hanya menjadi cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menjadi terapi jiwa agar tetap rileks dan optimis menghadapi masa depan.

Dalam konteks masyarakat saat ini, pesan Gus Baha adalah seruan untuk menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih konstruktif. Ketika kecewa dengan keadaan sosial, politik, atau bahkan hubungan antarmanusia, umat Islam diajarkan untuk tidak tenggelam dalam kebencian, tetapi menjadikan momen tersebut sebagai peluang untuk memperbaiki diri dan menyebarkan kebaikan.

Editorial ini mengajak pembaca Harakatuna untuk menjadikan tasbih sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Tasbih tidak hanya menjadi pengingat akan kebesaran Allah, tetapi juga menjadi jalan untuk memperbaiki hati yang terluka. Sebagaimana pesan Gus Baha, dengan tasbih, jiwa menjadi lebih rileks, hati lebih tenteram, dan hidup menjadi lebih bermakna.

Mengubah kekecewaan menjadi tasbih bukan hanya solusi spiritual, tetapi juga bukti bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan optimisme. Dalam setiap ujian, selalu ada peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki keadaan. Mari jadikan tasbih sebagai jalan menuju kedamaian, baik di dunia maupun di akhirat.