Ini Hukum Mengucapkan Selamat Tahun Baru Dalam Islam

Harakatuna.com – Tahun 2021 sebentar lagi berakhir dan digantikan dengan tahun baru 2022. Dan seperti biasanya ketika terjadi pergantian tahun baru maka banyak sekali masyarakat yang bergembira ria seraya mengucapkan selamat tahun baru kepada kawan-kawannya. Lantas sebenarnya bagaimana hukum mengucapkan selamat tahun baru dalam Islam.

Terkait Hal ini Imam Jalaluddin As-Suyuti menerangkan

قال القمولي في الجواهر : لم أر لأصحابنا كلاماً في التهنئة بالعيدين ، والأعوام ، والأشهر كما يفعله الناس ، ورأيت فيما نقل من فوائد الشيخ زكي الدين عبد العظيم المنذري أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة انتهى ، ونقله الشرف الغزي في شرح المنهاج ولم يزد عليه

Artinya: “Qamuli dalam Jawahir mengatakan. “Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Serta ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau tahun baru. Lalu apakah hukumnya bid’ahatau tidak?. Maka ia menjawab, “Dan banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, hukum ucapan seperti itu mubah, bukan sunah dan juga bukan bid’ah. Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf Al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj.”

Baca Juga  Anjuran Nabi Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharam

Dari pendapat ini sangat jelas bahwa hukum mengucapkan selamat tahun baru dalam Islam hukumnya mubah atau boleh. Semoga dengan pendapat ini, keraguan atau kebimbangan ketika hendak mengucapkan selamat tahun baru menjadi hilang. Wallahu A’lam Bishowab.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *