Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 7 Okt 2021 08:00 WIB ·

Ini Hal Yang Paling Dikhawatirkan Rasulullah Kepada Umatnya


					Ini Hal Yang Paling Dikhawatirkan Rasulullah Kepada Umatnya Perbesar

Jalanhijrah.com-Rasulullah adalah teladan bagi kehidupan umat manusia. Hal ini karena Rasulullah adalah utusan Allah yang akan membawa kebaikan untuk seluruh alam. Dengan kemampuan mukjizatnya, Maka Rasulullah dapat memprediksi kejadian atau sesuatu hal yang akan datang. Dan ada suatu hal mendatang yang dikhawatirkan Rasulullah terhadap umatnya. Hal apakah itu?

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ بَعْدِيْ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمُ اللِّسَانِ

Artinya: “Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafik yang pintar berbicara.” [HR. Tabrani]

Dari hadis ini diketahui bahwa hal yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah kepada umatnya adalah hadirnya orang-orang munafik yang pandai berbicara. Coba perhatikan dan renungkan sejenak kehidupan akhir-akhir ini. Tentunya kerusakan yang ada disebabkan oleh orang munafik ini. Bertebarannya hoak adalah salah satu contohnya. Dan perlu diketahui hoak adalah berita bohong yang dikemas oleh orang-orang yang pandai sehingga berita itu terlihat seperti kenyataan. Dan orang-orang yang tidak waspada akan mudah sekali termakan oleh hoak.

Nabi Muhammad mengidentifikasi 3 sifat orang munafik, beliau bersabda

آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga. (1) ketika berbicara ia dusta. (2) ketika berjanji ia mengingkari. (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat”.  [HR. Bukhori]

Coba perhatikan kehidupan sekarang ini, maka akan dijumpai banyak orang munafik di sekitar kita. Dan inilah hal yang paling di khawatirkan oleh Rasulullah. Hal ini karena hancur dan rusaknya tatanan kehidupan masyarakat disebabkan dari 3 sifat ini.

Baca Juga  8 Larangan Saat Haid Dan Nifas Bagi Perempuan

Bagaimana masyarakat mau maju, jika pemimpinya tidak amanah (korupsi). Dan bagaimana masyarakat mau maju, perjanjian yang sudah disetujui diingkari. Oleh karena demikian, waspadalah terhadap sifat munafik ini. Hal ini karena balasan untuk orang munafik ini sungguh mengerikan.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ

Artinya: “Sungguh, orang munafik itu berada ditingkatkan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” [QS. An-Nisa: 145].

Artikel ini telah dibaca 33 kali

Baca Lainnya

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

16 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Trending di Fikih Harian