Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 12 Apr 2022 09:00 WIB ·

Hukum Menggosok Gigi di Siang Hari Saat Puasa, Bolehkah?


					Hukum Menggosok Gigi di Siang Hari Saat Puasa, Bolehkah? Perbesar

Jalanhijrah.com. Hampir bisa dipastikan aroma mulut orang yang berpuasa mulai tidak sedap saat matahari menyingsing ke arah barat. Karenanya tak sedikit Umat Islam yang merasa dilema antara memilih untuk menggosok giginya atau tidak. Lantas bagaimana hukum menggosok gigi di siang hari saat puasa? Boleh atau tidak?

Pada dasarnya para ulama sepakat bahwa menggosok gigi sangat disunnahkan. Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah menggosok gigi di siang hari saat puasa disunnahkan juga atau tidak. Kubu pertama mengatakan bahwa menggosok gigi di siang hari saat puasa bukan hanya tidak disunnahkan melainkah dimakruhkan. Sedangkan kubu kedua mengatakan bahwa menggosok gigi di siang hari saat puasa tetap disunnahkan dan hukumnya samasekali tidak makruh.

Hal ini sebagaimana yang dipaparkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarh al-Muhazzab Juz I halaman 279;

في مذاهب العلماء في السواك للصائم قد ذكرنا أن مذهبنا المشهور أنه يكره له بعد الزوال

Terkait masalah gosok gigi (siwak) menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab syafi’i hukumnya makruh di siang hari saat puasa.

dan yang dipaparkan Imam Taqiyu al-Din dalam kitab Kifayatu al-Akhyarhalaman 21;

وَقيل لَا يكره الاستياك مُطلقًا وَبِه قَالَ الْأَئِمَّة الثَّلَاثَة وَرجحه النَّوَوِيّ فِي شرح الْمُهَذّب

Sementara menurut pendapat yang lain, hukum menggosok gigi tidak makruh secara mutlak (baik di siang hari saat puasa atau tidak). Ini adalah pendapatnya tiga Imam Mazhab (selain Imam Syafi’i) dan merupakan pendapat yang ditarjih oleh Imam Nawawi.

Kubu pertama mendasarkan pendapatnya kepada hadis;

Baca Juga  Kisah Hikmah Luqmanul Hakim dalam Al-Qur’an dan Tips Sukses Dunia Akhirat

عن أبي هريرة أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم  – قال: ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih harum daripada misik menurut Allah Swt.”

“apa yang disabdakan nabi dalam hadis atas tidak lain untuk menunjukkan bahwa hal itu (bau mulut) adalah sesuatu yang disenangi dan hukum menghilangkan sesuatu yang disenangi adalah makruh” terang Imam al-Mawardi dalam kitabnya al-Hawi al-Kabir Juz III halaman 466.

“Yang mana bau mulut karena puasa itu baru terjadi di siang hari. Sementara bau mulut di pagi hari itu karena bangun tidur” pungkas Imam al-Mawardi. Makanya yang dimakruhkan hanya menggosok gigi di siang hari, tidak di pagi hari saat puasa.

Sedangkan kubu kedua memijakkan pendapatnya kepada hadis;

روي عن عامر بن ربيعة أنه قال: رأيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم  – ما لا أحصي يستاك وهو صائم

Diriwayatkan dari Amir bin Rabi’ah, beliau berkata: Aku melihat Rasulullah Saw bersiwak (gosok gigi) sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa hingga aku tidak bisa menghitung berapa jumlahnya (saking seringnya).

Seorang Sahabat, Anas bin Malik pernah ditanya “apakah orang yang berpuasa diperbolehkan menggosok gigi di pagi hari dan siang hari?” beliau menjawab “iya, boleh. Begitulah yang aku dengar langsung dari Rasulullah Saw”. (al-Hawi al-Kabir [Juz III Halaman 466])

Baca Juga  Apakah Orang yang Tidak Berpuasa Ramadan Tetap Berkewajiban Membayar Zakat Fitrah?

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa menggosok gigi di siang hari saat berpuasa diperbolehkan dan tidak sampai membatalkan puasa tetapi mengahanguskan pahala puasa (makruh) menurut pendapat pertama. Sementara menurut pendapat kedua, diperbolehkan dan tidak sampai membatalkan puasa serta tidak menghanguskan pahala (tidak makruh). Wallahu a’lam bi al-Shawab.

 Achmad Fawaid, Santri Ma’had Aly Situbondo Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh

Artikel ini telah dibaca 8 kali

Baca Lainnya

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

16 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Trending di Fikih Harian