Berbagai konten receh dan tidak berkualitas tersaji deras membanjiri media sosial. Jika Anda tak pandai memilah konten maka akan mengalami brain rot atau pembusukan otak yang berdampak pada kesehatan mental.
Istilah brain rot tengah menjadi perhatian tahun ini lantaran dampak penggunaan media sosial yang semakin mengenaskan. Pada 2 Desember lalu, kata brain rot bahkan terpilih sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford University Press.
Istilah brain rot sebenarnya bukan hal baru. Frasa ini sudah tercatat jauh sebelum ditemukannya internet. Pada tahun 1854 dalam buku karya Henry David Thoreau misalnya, ditemukan istilah brain rot yang menjelaskan bahwa konten tidak berbobot alias nilai minus cenderung lebih disukai dan ini merupakan tanda dari penurunan kondisi mental serta intelektual seseorang.
Istilah brain rot semakin populer di kalangan komunitas Gen Z dan Gen Alpha untuk menggambarkan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat dari konsumsi berlebihan terhadap konten daring berkualitas rendah terutama di media sosial.
“Saya merasa sangat menarik bahwa istilah brain rot telah diadopsi Gen Z dan Gen Alpha, komunitas yang sebagian besar bertanggung jawab atas penggunaan dan pembuatan konten digital yang dimaksud dalam istilah tersebut,” kata Presiden Oxford Languages, Casper Grathwohl.
“Komunitas-komunitas ini telah memperkuat ekspresi tersebut melalui saluran media sosial, tempat yang disebut-sebut sebagai penyebab brain rot. Hal ini menunjukan kesadaran diri yang agak kurang ajar pada generasi muda tentang dampak buruk media sosial yang mereka warisi,” tambahnya.
Orang yang terpapar ini bisa mudah dikenali ciri-cirinya yakni lebih tertarik scrolling media sosial saat sedang bersama teman, keluarga, atau kolega. Lalu sulit untuk melepaskan diri dari gadget bahkan saat bekerja, terlalu sering memeriksa notifikasi ponsel, terlalu banyak menerima informasi yang kurang penting, susah tidur, dan mengalami mata lelah atau sakit kepala setiap selesai memainkan gadget.
Hal ini juga diakui oleh Sahla (23), Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra). Ia bercerita bahwa sejak bangun tidur hingga menjelang tidur tak henti melihat konten-konten yang berseliweran di instagram, twitter (X), dan tiktok.
Meskipun begitu ia mengakui konten-konten tersebut kadang membuatnya cemas, insecure lantaran melihat gaya hidup influencer, selebgram yang terkesan perfect.
“Saya biasanya tidur jam 12 malam hanya karena scrolling media sosial saja, capek sih, bosan tetapi hiburannya enggak ada lagi,” ucap Sahla kepada Arina.id, Jumat (27/12/2024).
Pakar media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Nur Maghfirah Aesthetika mengatakan brain rot sangat berpengaruh di dunia nyata. Fenomena itu merupakan pelemahan otak dan daya pikir yang membuat pengguna media sosial menjadi malas berpikir berat.
Sebagai seorang pendidik, Fira kerap menemui fenomena ini di kalangan mahasiswa. Misalnya, mahasiswa sering mengeluhkan tentang penugasan yang menurut mereka terlalu berat. Padahal hal tersebut sudah wajar diberikan kepada mahasiswa di generasi sebelumnya.
“Jenis konten berdurasi pendek dan bisa dilewati bila ia tidak suka konten tersebut, maka hal itu bisa terbawa ke kehidupan nyata. Ketika mereka tidak menyukai sesuatu, maka mereka cenderung akan menghindari hal itu daripada menyelesaikannya,” kata Fira dikutip dari laman resmi UMSIDA.
Selain itu, tambah Fira, dengan kecanduan konten receh di media sosial juga membuat tingkat kesabaran gen Z melemah. Jika generasi sebelumnya ingin menikmati sebuah hiburan, maka mereka harus menunggu dalam kurun waktu tertentu. Berbeda dengan generasi sekarang yang semua harus instan. Dan jika mereka terlibat masalah, maka mereka lebih memilih untuk meninggalkannya daripada memperbaiki.
“Mereka berpikir bahwa dengan scrolling itu bisa menghindari masalah. Daripada harus berkumpul dengan orang-orang yang ditakutkan akan tidak cocok, lebih baik dia scrolling media sosial,” jelasnya.
Menurut Fira, walaupun hanya konten receh berdurasi pendek, tapi jika konten tersebut dinikmati secara berulang-ulang maka bisa menyerang psikis penggunanya dan masuk ke alam bawah sadar.
“Saat ini orang menghabiskan waktu di dunia maya lebih dari satu jam dengan berbagai gempuran konten singkat di dalamnya. Hal itu membuat otak menjadi overload menerima informasi,” ujarnya.
Konten For Your Page (FYP) setiap orang berbeda-beda. Menurut Fira, algoritma media sosial bisa membaca ketertarikan pengguna, konten telah disesuaikan oleh kondisi pengguna hingga mereka merasa relate dan bertahan di konten serupa.
“Misalnya kondisi seseorang sedang sedih dan menemukan konten yang relevan dengan suasana hati, maka dengan konten itu ia merasa lebih semakin sedih dan deep,” jelasnya.
Perilaku pengguna media sosial dan dampaknya juga pernah dibidik dalam film dokumenter The Social Dilemma besutan Jeff Orlowski. Dalam film itu, para ahli teknologi asal Amerika yang mulanya bekerja di google, instagram, dan platform media sosial lain kemudian memutuskan resign lantaran dampak dari platform tersebut membahayakan manusia.
Eks Former Engineer Youtube, Guillaume Chaslot misalnya, mengakui bahwa Youtube turut meningkatkan polarisasi di tengah masyarakat. Algoritma yang diceritakan dalam film ini juga mengungkap bahwa media sosial dapat mengukur dan mengetahui kondisi setiap penggunanya, misalnya ketika sedang depresi, mereka akan memantaunya selama 24 jam. Film ini juga mengilustrasikan bagaimana sosial media bekerja mengubah sikap pola penggunanya.
Bagaimana pun media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap orang yang tentunya sulit untuk ditinggal meski dampak dari keberadaan media sosial sangat mengerikan. Walakin, sebagai pengguna aktif sosial media kita punya hak untuk mengontrol agar tak mengalami brain rot.
Agar terhindar dari risiko brain rot, ada beberapa langkah efektif yang dapat dilakukan:
1. Atur Screen Time
Screen time adalah istilah yang menggambarkan waktu yang dihabiskan untuk beraktivitas di depan layar elektronik, termasuk media sosial. Menurut DataReportal, rata-rata screen time orang di seluruh dunia adalah 6 jam 57 menit per hari.
Sementara itu, pengguna internet global rata-rata menghabiskan waktu 139 menit (2 jam 19 menit) per hari untuk mengakses media sosial. Screen time yang berlebihan dapat berdampak kurang baik, seperti munculnya sikap tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan risiko gangguan pada mata.
Saat ini ada fitur screen time di media sosial termasuk di Android. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengetahui waktu yang dihabiskan di aplikasi dan ponsel, serta aplikasi yang paling sering digunakan. Anda bisa mengatur screen time untuk membatasi penggunaan media sosial.
2. Olah raga
Saat berolah raga, jantung memompa darah lebih cepat dan lebih kuat. Hal ini meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk otak. Darah kaya oksigen dan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh sel-sel otak untuk berfungsi dengan optimal.
Olah raga juga merangsang produksi protein yang disebut neurotrophin, yang berperan penting dalam pertumbuhan sel-sel otak baru (neuron) dan pembentukan koneksi antar neuron (sinapsis). Proses ini dikenal sebagai neuroplasticity, yang memungkinkan otak untuk terus belajar dan beradaptasi.
3. Detoks digital
Detoks digital adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan media sosial dan perangkat digital dalam jangka waktu tertentu. Anda bisa memulai dengan matikan semua notifikasi dari aplikasi media sosial untuk menghindari keinginan membuka aplikasi tersebut. Tetapkan batas waktu paling malam untuk mengakses gadget. Di pengaturan ponsel, Anda dapat menetapkan batas waktu pada aplikasi media sosial.
4. Lakukan kegiatan mengasah otak
Aktifkan otak Anda dengan kegiatan yang memerlukan konsentrasi seperti membaca buku, menulis, atau mempelajari keterampilan baru. Gunakan aplikasi atau fitur yang membantu produktivitas, seperti mengatur waktu atau aplikasi pembelajaran, daripada menghabiskan waktu pada konten yang tidak bermanfaat.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/tren/ar-eUe3S/brain-rot–otak-jadi-kacau-lantaran-keseringan-scrolling-konten-medsos-tak-mutu










