Home / Taubat / Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18: Pentingnya Muhasabah Diri dalam Kehidupan

Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18: Pentingnya Muhasabah Diri dalam Kehidupan

Akhir tahun sering kali menjadi momen yang dinanti-nantikan. Selain identik dengan perayaan, akhir tahun juga dapat dimaknai sebagai waktu untuk merenung dan mengevaluasi diri (muhasabah). Dalam perspektif Islam, muhasabah diri, yakni introspeksi dan evaluasi terhadap amal dan perbuatan, merupakan langkah penting yang seharusnya dilakukan oleh setiap individu. Hal ini selaras dengan sifat manusia yang tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan.

Islam menganjurkan untuk selalu memperbaiki diri dan kembali kepada Allah SWT. Surat Al-Hasyr ayat 18 menjadi dasar penting untuk menjadikan muhasabah bagian dari kehidupan. Untuk itu, muhasabah akhir tahun adalah momen refleksi, mengevaluasi apakah waktu selama setahun telah dimanfaatkan untuk kebaikan atau terbuang sia-sia.

Simak firman Allah Surat Al-Hasyr ayat 18 ini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨

yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha waltandhur nafsum mâ qaddamat lighad, wattaqullâh, innallâha khabîrun bimâ ta’malûn

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhim menjelaskan bahwa Surat Al-Hasyr ayat 18 ini menjelaskan pentingnya evaluasi diri atau muhasabah. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan setiap orang untuk memperhatikan apa yang telah mereka persiapkan sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Perintah ini bertujuan mengingatkan manusia agar senantiasa introspeksi dan menyadari tanggung jawabnya dalam mempersiapkan amal-amal saleh yang akan menjadi bekal terbaik di akhirat.

Muhasabah ini mencakup penilaian atas amal perbuatan yang telah dilakukan, baik dan buruknya, sebagai bentuk persiapan sebelum dihisab oleh Allah pada hari kiamat. Evaluasi ini menjadi investasi terbesar saat manusia berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan muhasabah, seseorang dapat memperbaiki kekurangan, memperbanyak amal kebaikan, dan menjadikan hidupnya lebih bermakna dalam pandangan Allah.

وقوله : ( ولتنظر نفس ما قدمت لغد ) أي : حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا ، وانظروا ماذا ادخرتم لأنفسكم من الأعمال الصالحة ليوم معادكم وعرضكم على ربكم ، ( واتقوا الله ) تأكيد ثان ، ( إن الله خبير بما تعملون ) أي : اعلموا أنه عالم بجميع أعمالكم وأحوالكم لا تخفى عليه منكم خافية ، ولا يغيب عنه من أموركم جليل ولا حقير

Artinya: “Dan firman-Nya: (Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok), artinya: hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikanlah apa yang telah kalian simpan untuk diri kalian berupa amal-amal saleh untuk hari kembali kalian dan saat kalian diperlihatkan di hadapan Tuhan kalian. (Dan bertakwalah kepada Allah) adalah penegasan kedua, (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan), yakni: ketahuilah bahwa Dia mengetahui semua amal dan keadaan kalian. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang besar maupun yang kecil dari urusan kalian.” [Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhim, [Saudi Arabia: Darul Taybah, 2002 M] Jilid VIII, hlm, 77].

Sementara itu, Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, Jilid IV, hlm 393, menyebutkan bahwa sejatinya poin penting dari muhasabah diri terletak pada kesadaran bahwa Allah akan memperhitungkan saban amal-amal manusia, baik yang kecil maupun besar. Setiap diri akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah dikerjakannya.

Tanpa introspeksi diri, manusia berisiko tenggelam dalam kelalaian, meninggalkan kewajiban, dan terjerumus dalam perbuatan dosa. Padahal, jika tidak ada perhitungan terhadap diri sendiri di dunia ini, niscaya manusia akan merugi dan binasa di Padang Mahsyar. Simak keterangan Imam Ghazali berikut:

وإنما يحاسبهم لتعلم كل نفس ما أحضرت وتنظر فيما قدمت وأخرت فتعلم أنه لولا لزومها للمراقبة والمحاسبة في الدنيا لشفيت في صعيد القيامة

Artinya: “Dia menghitung mereka semata-mata agar setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya dan melihat apa yang telah dikerjakan dan ditinggalkannya. Maka, setiap jiwa pun akan menyadari bahwa seandainya tidak menjaga pengawasan dan perhitungan amal selama di dunia, ia akan binasa di padang Mahsyar.” ([Beirut: Darul Ma’rifah, tt, Jilid IV, hlm 393).

Hal senada juga termaktub dalam Tafsir al-Wasith, pentingnya bagi setiap orang untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri di dunia sebelum dihisab kelak pada hari kiamat. Muhasabah, merupakan proses untuk menilai diri sendiri, mencari tahu kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukan.

Hal ini sangat penting, sebab dengan introspeksi, seseorang dapat mengetahui kesalahan yang dilakukan dan berusaha memperbaikinya. Pun lewat, proses ini, seseorang dapat belajar dari kekeliruannya dan berusaha menjadi lebih baik.

Allah SWT mengingatkan agar jika amalan itu baik, maka seseorang harus menambahkannya. Namun jika amalan itu buruk, maka hendaklah mereka meninggalkannya. Allah menyebutkan hari kiamat dengan istilah besok untuk menegaskan kedekatannya dan kepastiannya, sebagaimana datangnya hari setelah hari ini. Ini adalah peringatan yang menunjukkan bahwa hari kiamat pasti akan datang tanpa keraguan.

ولتنظر كل نفس، ولتتأمل في الأعمال التي عملتها في الدنيا. والتي ستحاسب عليها في يوم القيامة، فإن كانت خيرا ازدادت منها، وإن كانت غير ذلك أقلعت عنها. وعبر- سبحانه- عن يوم القيامة بالغد، للإشعار بقربه، وأنه آت لا ريب فيه، كما يأتى اليوم الذي يلي يومك.

Artinya: “Setiap jiwa hendaklah melihat dan merenungkan amalan yang telah mereka lakukan di dunia. Amalan yang akan mereka pertanggungjawabkan di hari kiamat. Jika amalan itu baik, maka hendaklah mereka menambahnya. Jika tidak, maka hendaklah mereka meninggalkannya. Allah swt. menyebut hari kiamat dengan kata “besok” untuk memberi peringatan akan dekatnya hari kiamat, bahwa hari kiamat itu pasti datang tanpa keraguan, sebagaimana datangnya hari yang mengikuti harimu.” [Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, Tafsir al-Wasith, [Kairo; Dar Nahdah Li Thabaah wa Nasyr, 1997] Jilid XIV,  hlm 408].

Adapun Imam Baghawi dalam Tafsir Ma’alim al-Tanzil menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hari esok dalam ayat tersebut adalah hari kiamat. Hari tersebut adalah hari penentuan, setiap amal perbuatan akan diadili.

Untuk itu, Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu berhati-hati terhadap setiap perbuatan yang mereka lakukan. Baik itu amal kebaikan yang dapat menyelamatkan mereka di akhirat, ataupun amal keburukan yang bisa membawa pada kehancuran. Amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi bekal yang sangat berharga untuk menghadapi kehidupan di akhirat. Sebaliknya, perbuatan buruk hanya akan mengantarkan seseorang pada kebinasaan.

قوله – عز وجل – ( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد ) يعني ليوم القيامة أي : لينظر أحدكم أي شيء قدم لنفسه عملا صالحا ينجيه أم سيئا يوبقه

Artinya: “Firman Allah (Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok), yaitu untuk Hari Kiamat. Maksudnya, hendaknya setiap orang di antara kalian memperhatikan apa yang telah ia siapkan untuk dirinya: apakah berupa amal saleh yang akan menyelamatkannya, ataukah berupa amal buruk yang akan membinasakannya.” [Tafsir Baghawi, [Saudi Arabia: Darul Thayyibah, tt], Jilid VIII, hlm, 86].

Dengan demikian, Surat Al-Hasyr ayat 18 memberikan pesan perlunya muhasabah diri dalam kehidupan. Kehidupan dunia, sifatnya sementara, sedangkan hari kiamat adalah kepastian, setiap amal yang kita lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, introspeksi dan evaluasi terhadap diri kita menjadi suatu kewajiban, bukan hanya pada akhir tahun, tetapi setiap saat dalam kehidupan kita.

 

*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/syariah/ar-BgrLL/tafsir-surat-al-hasyr-ayat-18–pentingnya-muhasabah-diri-dalam-kehidupan