Home / Fikih Harian / Bolehkah Setelah Mandi Junub Langsung Sholat tanpa Berwudhu?

Bolehkah Setelah Mandi Junub Langsung Sholat tanpa Berwudhu?

Mandi

Firanda Andiraja dalam sebuah video menjelaskan bahwa setelah melakukan mandi junub, seseorang tidak perlu berwudhu lagi ketika akan melakukan sholat. Ia menjelaskan bahwa wudhu ketika mandi junub hukumnya sunnah, dan boleh melakukan mandi junub tanpa berwudhu. Ia pun boleh melakukan sholat setelah itu tanpa berwudhu kembali. Menurutnya, hadats kecil ikut terangkat ketika mandi junub dan jika berwudhu maka lebih afdhal karena hukumnya sunnah.

Sekilas penjelasan ini tidak menimbulkan polemik jika dicermati tanpa mengkaji ulang dalil hadits dan komentar para ulama terlebih pendapat fiqih lintas madzhab. Kesimpulan hukum ini juga didukung oleh hadits Nabi riwayat Imam Turmudzi no. 1493 dari Sayidah Aisyah berikut:

عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ‌كَانَ ‌لَا ‌يَتَوَضَّأُ ‌بَعْدَ ‌الْغُسْلِ

Artinya: “Dari Aisyah bahwa Nabi tidak berwudhu setelah mandi (junub)”

Juga dalam riwayat Imam Abu Dawud no. 250 berikut:

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَغْتَسِلُ وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ وَصَلَاةَ الْغَدَاةِ، ‌وَلَا ‌أَرَاهُ ‌يُحْدِثُ ‌وُضُوءًا بَعْدَ الْغُسْلِ

Artinya: “Dari Aisyah berkata: satu ketika Rasulullah mandi kemudian sholat dua rakaat dan sholat subuh, aku tidak melihat beliau berwudhu setelah mandi.”

Begitu juga riwayat Imam Tabarani no. 13377 dari Ibnu Umar berikut:

 عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ فَقَالَ: وَأَيُّ ‌وُضُوءٍ ‌أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟

Artinya: “Dari Ibnu Umar bahwa Nabi pernah ditanya tentang wudhu setelah mandi, beliau menjawab “wudhu mana yang lebih umum setelah mandi?”

Terkait hal ini, madzhab Syafi’i, sebagai madzhab fiqih Islam mayoritas Muslim Indonesia, menambahkan catatan tertentu yakni selama tidak melakukan hal yang membatalkan wudhu ketika melakukan mandi besar:

اَلْحَدَثُ الْأَصْغَرُ يَنْدَرِجُ وَيَرْتَفِعُ، وَلَوْ لَمْ يَنْوِ، إِذَا اغْتَسَلَ غَسْلًا وَاجِبًا (كَغَسْلِ الْجَنَابَةِ) وَلَمْ يَنْتَقِضْ وُضُوْؤُهُ أَثْنَاءَ الْغَسْلِ، وَلَا يَنْدَرِجُ وَلَا يَرْتَفِعُ الْحَدَثُ الْأَصْغَرُ إِذَا اغْتَسَلَ غَسْلًا مَسْنُوْنًا، فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ الْغَسْلِ أَوْ بَعْدَهُ اَوْ فِى أَثْنَائِهِ، مَعَ مُلَاحَظَةِ التَّرْتِيْبِ.

Artinya: “Hadats kecil bisa ikut disucikan meskipun tidak berniat ketika seseorang mandi wajib seperti mandi jinabat, dengan catatan wudhunya tidak batal ketika mandi. Berbeda ketika mandi sunnah maka hadats kecil tidak turut serta terangkat dan wajib berwudhu sebelum, ketika, atau setelah mandi sunnah dengan memperhatikan tertib rukunnya.” (Hasan bin Ahmad al-Kaf, Taqriat Sadidah, [Tarim: Dar Ilm wad Da’wah, 2003], hal. 122.).

Syekh Sulaiman al-Jamal mencatatat kesimpulan yang hampir sama sebagai berikut:

وَلَوْ أَحْدَثَ، ثُمَّ أَجْنَبَ أَوْ عَكْسُهُ أَيْ أَجْنَبَ، ثُمَّ أَحْدَثَ كَفَى الْغُسْلُ عَلَى الْمَذْهَبِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ نَوَى الْوُضُوءَ مَعَهُ أَوْ لَمْ يَنْوِهِ غَسَلَ الْأَعْضَاءَ مُرَتَّبَةً أَمْ لَا؛ لِأَنَّهُمَا طَهَارَتَانِ فَتَدَاخَلَتَا، وَقَدْ نَبَّهَ الرَّافِعِيُّ عَلَى أَنَّ الْغُسْلَ إنَّمَا يَقَعُ عَنْ الْجَنَابَةِ وَأَنَّ الْأَصْغَرَ يَضْمَحِلُّ مَعَهُ أَيْ لَا يَبْقَى لَهُ حُكْمٌ فَلِهَذَا عَبَّرَ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ كَفَى وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَكْفِي الْغُسْلُ، وَإِنْ نَوَى مَعَهُ الْوُضُوءَ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ الْوُضُوءِ مَعَهُ

Artinya: “Jika seseorang berhadats kemudian jinabat atau sebaliknya maka cukup mandi saja menurut asal madzhab Syafi’i wallahu a’lam. Dia berniat wudhu atau tidak, membasuh anggota tubuh dengan tertib atau tidak sebab keduanya adalah taharah yang saling melengkapi satu sama lain. Imam Rafi’i telah mengingatkan bahwa mandi jinabat bisa menghilangkan hadats kecil, oleh karena itu Syekh Zakariya al-Anshari mengatakan bisa mencukupi. Sedangkan pendapat kedua tidak mencukupi meskipun menyertakan niat wudhu, akan tetapi wajib berwudhu secara tersendiri.” (Futuhatul Wahab bi Taudhihi Syarh Mahajut Tulab, [Beirut: Darul Fikr], juz 1, hal. 166.).

Terdapat satu catatan dalam madzhab Maliki oleh Hajjah Kaukab Ubaid yang sama dengan catatan Syekh Hasan al-Kaf ini yakni tidak melakukan hal yang membatalkan wudhu ketika melakukan mandi junub. Berikut catatannya:

كما يجزئ الغسل الواجب عن الوضوء، ولو لم يستحضر في نيته رفع الحدث الأصغر، إن لم يحصل ما ينقض الوضوء أثناءه، لما روت عائشة رضي الله عنها: (أن النبي صلى الله عليه وسلم ‌كان ‌لا ‌يتوضأ ‌بعد ‌الغسل)

Artinya: “Sebagaimana mandi wajib bisa menggantikan wudhu meskipun tanpa niat wudhu jika tidak terjadi hal yang membatalkan wudhu ketika mandi sebagaimana riwayat Aisyah bahwa Nabi tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (al-Fihul Ibadat ala Madzhabil Maliki, [Damaskus: Al-Insya’,  1986], hal. 86.).

Begitu juga dalam catatan Hajjah Duriyah Athiyah dari madzhab Syafi’i yang sama dengan catatan Hajjah Kaukab Ubaid, sebagaimana berikut:

وهذا الغسل المفروض يجزئ عن الوضوء بشرط ألا يحدث ما ينقض الوضوء أثناءه (على أن المغتسل لو أحدث أثناء غسله لم يؤثر ذك في غسله بل يتمه ويجزيه، فإن أراد الصلاة لزمه الوضوء) لما روت عائشة رضي الله عنها: “أن النبي صلى الله عليه وسلم ‌كان ‌لا ‌يتوضأ ‌بعد ‌الغسل”

Artinya: “Mandi wajib ini bisa menggantikan wudhu dengan syarat tidak terjadi hal yang bisa membatalkan wudhu ketika mandi, dalam arti ketika mandi terjadi hal yang membatalkan wudhu tentunya tidak berpengaruh kepada keabsahan mandinya, dan jika ingin sholat maka harus berwudhu karena terdapat riwayat Aisyah bahwa Nabi tidak berwudhu setelah mandi.” (al-Fiqhul Ibadat ala Madzhabis Syafi’i, [Syamilah], juz 1, hal. 142.).

Walhasil, pendapat Firanda mengenai tidak perlu wudhu lagi setelah mandi junub sesuai dengan banyak catatan lintas madzhab terutama madzhab Syafi’i. Hanya saja dalam sebagian catatan madzhab Syafi’i dan Maliki terdapat catatan yang mengikat yakni tidak terjadinya hal-hal yang bisa membatalkan wudhu ketika mandi. Hal ini bisa diantisipasi dengan menyelam atau menggunakan sarung tangan untuk menggosok tubuh bagian kemaluan dan jalan belakang dan tentunya tidak buang air kecil atau air besar. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Sumber: https://www.arina.id/syariah/ar-V6X4Q/bolehkah-setelah-mandi-junub-langsung-sholat-tanpa-berwudhu-