jalanhijrah.com – Di tengah dunia yang semakin riuh oleh kritik tanpa kepekaan nurani, kita kembali diingatkan pada sosok Abu Zar. Nama aslinya Jundub bin Junadah, namun sejarah mengenalnya sebagai Abu Zar al-Ghifari—bukan tokoh istana, melainkan anak dari suku Ghifar yang dahulu dikenal keras, sebelum akhirnya tersentuh cahaya Islam.
Ia hidup sejak awal kemunculan Islam hingga pertengahan abad ke-7 M, menjadi salah satu sahabat paling awal yang memeluk agama ini, sekaligus menyaksikan kepemimpinan tiga khalifah pertama: Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Namun, ia bukan sekadar saksi sejarah. Abu Zar adalah pribadi yang teguh, tak mampu berdiam diri melihat ketimpangan, dan memilih hidup asketis dengan memandang kemewahan dunia secara kritis.
Saat wilayah Syam makmur di bawah kekuasaan Islam, Abu Zar justru melihat keganjilan. Ia menyaksikan sebagian elit, termasuk Muawiyah bin Abu Sufyan, mulai larut dalam gaya hidup mewah. Baginya, kemewahan yang menumpuk di tengah penderitaan rakyat adalah pengkhianatan terhadap kesederhanaan yang diajarkan Rasulullah. Ia pun menyuarakan kritik dengan lantang—suara yang mengguncang kenyamanan istana dan memicu ketegangan politik. Itu bukan sekadar kritik, melainkan seruan moral yang menolak tunduk pada gemerlap dunia.
Keberaniannya membuatnya dilaporkan kepada Khalifah Utsman. Dipanggil ke Madinah, ia tetap teguh menyuarakan keadilan. Ia bisa memilih aman dengan diam, tetapi ia menolak. Abu Zar menjadi sosok yang tak bisa dikendalikan oleh kekuasaan—suara yang tetap merdeka meski dihadapkan pada tekanan.
Perjalanan hidupnya berujung pada pengasingan di Rabadzah, sebuah wilayah sunyi di padang pasir. Di sana, jauh dari pusat kekuasaan, ia menghabiskan sisa hidup dalam kesederhanaan hingga wafat dalam keadaan sendiri. Namun kesendiriannya bukanlah kehampaan. Jenazahnya kemudian ditemukan dan diurus oleh rombongan dari Kufah yang dipimpin Abdullah bin Mas’ud.
Kisah ini seakan menggenapi sabda Nabi bahwa Abu Zar akan hidup, mati, dan dibangkitkan dalam kesendirian. Sebuah penegasan bahwa kebenaran tetap bernilai, meski disuarakan dalam kesunyian. Sepi bukan selalu tanda kekalahan—kadang justru menjadi puncak kemuliaan.
Abu Zar adalah simbol keberanian moral. Suaranya tidak lahir dari ambisi kekuasaan atau kepentingan pribadi, melainkan dari kejernihan hati dan kepedulian terhadap keadilan. Ia tidak berbicara untuk mendapatkan bagian, tetapi untuk menjaga nilai. Ia berdiri sebagai representasi suara profetik—suara yang rela kehilangan segalanya demi kebenaran.
Di hadapan penguasa, ia mengingatkan bahaya menimbun harta dan mengabaikan keadilan, tanpa kompromi politik. Sikapnya mencerminkan komitmen melawan ketimpangan sosial dan menjaga kemanusiaan. Suaranya bukan kebisingan kosong, melainkan gema nurani yang jernih.
Dalam dunia yang makin kehilangan arah moral, sosok seperti Abu Zar menjadi penting untuk dihadirkan kembali. Ia mengingatkan bahwa keadilan harus ditegakkan meski berisiko, sebagaimana pesan Al-Qur’an yang menuntut manusia untuk berlaku adil bahkan terhadap diri sendiri dan orang terdekat. Keadilan tidak boleh tunduk pada cinta atau benci, karena ia adalah fondasi tegaknya masyarakat.
Sebaliknya, sejarah juga memperlihatkan adanya suara-suara lantang yang tidak lahir dari nurani, melainkan dari ego dan kepentingan. Al-Qur’an mengibaratkannya sebagai suara keledai—keras, tetapi kosong makna. Ini menjadi metafora bagi kritik tanpa integritas: bising, namun tidak membawa kebaikan.
Suara seperti itu muncul dari dorongan ego dan ambisi, bukan dari kesadaran moral. Ia menciptakan polusi sosial—mengganggu harmoni dan menyesatkan arah. Dalam konteks ini, manusia diingatkan untuk tidak terjebak dalam kebisingan yang kehilangan makna.
Kisah tentang Dzul Khuwaishirah, yang berani menuduh Nabi tidak adil karena kepentingan pribadinya, menjadi contoh awal bagaimana ego bisa dibungkus dengan dalih agama. Ini menunjukkan bahwa tidak semua suara yang mengatasnamakan kebenaran benar-benar berasal dari niat yang lurus.
Karena itu, penting untuk membedakan antara suara profetik seperti Abu Zar dan suara egoistik yang hanya mencari panggung. Yang dibutuhkan bukan retorika kosong atau diamnya kaum intelektual, melainkan keberanian bersuara demi kebenaran, meski harus berdiri sendiri.
Kita perlu berani menasihati ketika kekuasaan menyimpang, namun juga waspada terhadap kritik yang lahir dari kepentingan sempit. Diam karena takut justru membuka ruang bagi ketidakadilan untuk tumbuh. Jika pragmatisme dibiarkan mendominasi, nilai-nilai ideal akan terkikis.
Perbaikan harus dimulai dari keberanian moral—menempatkan nurani di atas kepentingan. Dunia tidak akan berubah oleh aturan semata, tetapi oleh keberanian individu melawan oportunisme. Dari ruang kelas hingga ruang publik, diperlukan komitmen untuk mengembalikan etika: ilmuwan yang jujur, ulama yang berani, dan pemimpin yang rendah hati.
Masyarakat yang adil membutuhkan suara-suara yang lahir dari penyucian jiwa, bukan dari transaksi kepentingan. Kita perlu menumbuhkan kembali keberanian untuk bersuara benar, menjadi “Abu Zar” di zaman ini—teguh meski sendiri.
Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak kebisingan kosong. Yang dibutuhkan adalah suara jernih yang setia pada kebenaran. Sebab kebenaran tidak perlu teriak untuk didengar—ia hanya butuh ketulusan untuk terus disuarakan, hingga ketidakadilan perlahan berubah menjadi kemanusiaan yang menyejukkan.







