Home / Perempuan / Ummu Ibrahim al-‘Abidah, Wanita Ahli Ibadah

Ummu Ibrahim al-‘Abidah, Wanita Ahli Ibadah

Jalanhijrah.com-Selain Al-Khanza dan Afra binti Ubaid bin Tsa’labah, ada satu lagi sosok ibu yang mendermakan putranya berjihad di jalan Allah hingga gelar syuhada diraih putra tercinta. Ia adalah Ummu Ibrahim al-‘Abidah al-Bashriyah, seorang wanita ahli ibadah yang masyhur di Bashrah.

Sosoknya sebagai ahli ibadah terangkum dalam satu kisah yang diriwayatkan dari Abdul Mu’min bin Abdullah al-Qaisi. Ia berkata, “Ummu Ibrahim al-‘Abidah pernah ditendang seekor binatang ternak hingga membuat kakinya patah, lalu orang-orang berdatangan kepadanya untuk menghiburnya. Kemudian, ia pun berkata, ‘Seandainya tidak ada musibah di dunia, niscaya kita akan sampai ke akhirat dalam keadaan sengsara.’.”(Shifatush Shohwah, 4/32)

Menikahkan sang Putra dengan Bidadari Surga

Ummu Ibrahim memahami bahwa setiap musibah yang melintasi kehidupan manusia hanyalah wasilah untuk meraih pahala dan kebaikan di sisi Allah Taala. Oleh karenanya, ia berupaya keras mendapatkan apa yang ada di sisi Allah Taala untuk bekal kehidupan di akhirat. Ia pun tidak ragu ketika mendengar gambaran bidadari surga. Akhirnya, terlintas dalam pikirannya untuk menikahkan sang putra dengan bidadari surga, lalu menyerahkan mahar berupa harta yang ia infakkan di jalan Allah. Ia mengirim putranya dalam keadaan syahid sebagai hadiah terbaik untuk Allah Taala. Berikut kisahnya.

Kala itu, pasukan musuh menyerang salah satu batas pertahanan Islam. Kemudian, kaum muslim segera berjihad memenuhi seruan khalifah. Untuk memotivasi dan mengobarkan semangat jihad para pejuang, Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri berkhotbah di hadapan orang-orang. Saat itu, Ummu Ibrahim hadir dalam majelisnya. Dalam khotbahnya, Abdul Wahid menceritakan sosok bidadari surga dengan syair yang indah.

Mendengar itu, orang-orang pun gaduh dan majelis menjadi kurang kondusif. Di tengah keramaian tersebut, Ummu Ibrahim menyeruak dari kerumunan orang-orang dan berkata kepada Abdul Wahid, “Wahai Abu Ubaid, bukankah engkau mengenal anakku, Ibrahim? Para pejabat di Bashrah berdatangan mengajukan lamaran kepada putraku untuk anak gadis mereka. Namun, aku menolaknya. Sungguh, wanita yang engkau ceritan tadi membuatku tertarik dan sangat kagum. Aku rela ia menjadi pengantin untuk putraku. Ulangilah apa yang engkau sebutkan tadi tentang keelokan dan kecantikannya.” Abdul Malik pun menggambarkan kembali sifat bidadari surga itu dalam lantunan syair.

Setelah mendengar syair Abdul Malik, Ummu Ibrahim berkata kepada sang khatib, “Wahai Abu Ubaid, demi Allah, gadis itu telah membuatku terpesona. Aku rida ia menjadi pengantin anakku. Apakah engkau mau menikahkan mereka sekarang juga dengan mengambil dariku sepuluh ribu dinar sebagai maharnya? Semoga Allah menjadikannya pahlawan yang mati syahid sehingga mampu memberi syafaat untukku dan ayahnya pada hari kiamat.”

Abdul Wahid yang juga dikenal dengan sebutan Abu Ubaid bersedia. Berbahagialah Ummu Ibrahim. Kemudian, ia memanggil putranya untuk menanyakan kesediaan sang putra dinikahkan dengan gadis yang telah disebutkan Abu Ubaid dengan mengorbankan jiwanya di jalan Allah dan tidak akan kembali lagi dalam dosa. Tanpa banyak bantahan, Ibrahim pun menyetujui tawaran sang ibu.

Ummu Ibrahim kemudian berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan-Mu sebagai saksi bahwa aku telah menikahkan putraku ini dengan gadis tersebut dengan pengorbanan jiwanya di jalan-Mu dan tidak kembali lagi dalam dosa. Terimalah ia dariku, wahai sebaik-baik Zat yang Maha Penyayang.”

Setelah itu, Ummu Ibrahim pergi dan membawa mahar untuk putranya sebesar sepuluh ribu dinar. Tidak hanya itu, ia juga membelikan seekor kuda yang bagus dan senjata untuk Ibrahim. Ketika Abdul Wahid keluar untuk berperang, Ibrahim ikut bersamanya. Ibrahim berangkat ke peperangan dengan dibekali kain kafan dan minyak yang biasa dipakai untuk orang mati. Ibunya berpesan agar ia tidak lalai dalam medan perang.

Harapan Terpenuhi

Ketika pasukan kaum muslim sampai di wilayah musuh, perang pun berkecamuk. Ibrahim berada di barisan terdepan. Ia berhasil membunuh musuh dalam jumlah banyak, hingga akhirnya musuh mengepungnya dan membunuhnya.

Saat akan kembali ke Bashrah, Abdul Wahid berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Janganlah kalian memberitahukan kepada Ummu Ibrahim perihal kabar yang menimpa putranya sampai aku sendiri yang menyampaikannya dengan sebaik-baik ucapan belasungkawa, agar ia tidak bersedih dan pahalanya tidak hilang.”

Mendengar pasukan kaum musim tiba di Bashrah, orang-orang menyambut para pasukan. Ummu Ibrahim ada di antara mereka. Melihat Abdul Wahid, Ummu Ibrahim mendekatinya, lalu berkata, “Wahai Abu Ubaid, apakah hadiahku diterima sehingga aku diberi ucapan selamat, ataukah ditolak sehingga aku diberi ucapan belasungkawa?” Abdul Wahid menjawabnya, “Hadiahmu sudah diterima. Aku berdoa semoga sekarang anakmu bersama para syuhada yang dirahmati.”

Ummu Ibrahim tersungkur bersujud sambil mengucap syukur kepada Allah Taala karena harapan menjadikan anaknya bergelar syuhada telah terpenuhi. Kemudian, ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku dan telah menerima ibadahku.” Setelah itu, ia kembali ke rumahnya hingga bermimpi melihat putranya di sebuah taman yang indah. Dalam mimpi itu, Ummu Ibrahim melihat putranya duduk di atas ranjang yang terbuat dari mutiara dan memakai mahkota di atasnya. Ibrahim berkata, “Berbahagialah, wahai ibuku! Sesungguhnya, maharmu telah diterima. Kini aku dapat bersanding dengan bidadari surgaku.”

Khatimah

Sungguh indah dan menakjubkan. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan padang rumput, jika ia disirami dengan hujan dan pengairan yang sangat jernih. Ungkapan ini tidaklah berlebihan jika kita mengingat peran strategis ibu sebagai “pabriknya” generasi. Dari rahimnya, lahirlah generasi pewaris peradaban, pejuang tangguh, dan penjaga Islam tepercaya. Kisah Ummu Ibrahim kembali mengingatkan para ibu generasi agar senantiasa menyiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik kebanggaan Allah, Rasul-Nya, dan Islam. [MNews/YG]

Tag: