Beranda / Milenial / Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz, Sosok Pemimpin Bijaksana

Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz, Sosok Pemimpin Bijaksana

Jalanhijrah.com-Siapa yang tidak mengenal sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz (684—720 M)? Khalifah yang melegenda dengan julukan Khulafaurasyidin Kelima. Ia menjadi pemimpin yang bijaksana dan dikenal dekat dengan rakyatnya. Ia berasal dari keluarga para khalifah. Ayahnya bernama Abdul Aziz, putra Khalifah Marwan bin al-Hakam yang merupakan sepupu Khalifah Utsman bin Affan ra.. Ibunya adalah Laila, cucu Khalifah Umar bin Khaththab ra..

Umar bin Abdul Aziz memiliki tiga istri dengan 15 anak, tiga di antaranya adalah perempuan. Istri pertama bernama Fatimah. Beliau adalah putri Abdul Malik bin Marwan, khalifah yang berkuasa pada 685—705 M. Istri kedua, Lamis binti Ali dan istri ketiga bernama Ummu Utsman binti Syu’aib.  Sementara itu, putra Umar bin Abdul Aziz adalah Abdul Malik, Abdul Aziz, Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Bakar, Al-Walid, Musa, Ashim, Yazid, Zaban, dan Abdullah. Sedangkan putrinya adalah Aminah, Ummu Ammar, dan Ummu Abdullah.

Menurut penuturan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya dalam “Mereka adalah para Tabiin”, putra-putri Umar bin Abdul Aziz memiliki prestasi dalam hal takwa dan tingkat kesalehannya. Akan tetapi, Abdul Malik bagaikan inti kalung di antara saudara-saudaranya atau seperti bintang di tengah mereka. Ia merupakan sosok yang sopan, cerdas, dan sederhana.

Abdul Malik tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Swt. sejak memasuki usia remaja. Perangainya terlihat paling mirip dengan Abdullah bin Umar di antara seluruh keturunan Al-Khaththab, khususnya dalam hal ketakwaan, rasa takutnya bermaksiat, dan takarubnya kepada Allah Taala. Perihal dirinya, orang-orang berpandangan bahwa Abdul Maliklah yang memberikan motivasi kepada ayahnya, Umar bin Abdul Aziz, hingga menjadi ahli ibadah dan menuntun ayahnya dalam kehidupan zuhud.

Dalam satu kisah, sepupu Abdul Malik, ‘Ashim bercerita, “Aku tiba di Damaskus dan menginap di rumah putra pamanku, Abdul Malik yang ketika itu masih bujang. Kami salat Isya’ dan setelah itu masing-masing masuk ke kamar tidurnya. Lalu, Abdul Malik mendekati lampu dan memadamkannya. Kami pun merasa mengantuk. Ketika aku bangun pada tengah malam, ternyata Abdul Malik sedang berdiri salat dalam kegelapan. Ia membaca firman Allah Swt.,

أَفَرَأَيْتَ إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ

ثُمَّ جَاءَهُمْ مَا كَانُوا يُوعَدُونَ

مَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يُمَتَّعُون

“Bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun? Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS Asy-Syu’ara’: 205—207).

Kudengar ia mengulang-ulang ayat tersebut sembari menahan tangisnya. Akhirnya, keluarlah air matanya yang tidak mampu ditahannya. Setiap kali sampai di ayat tersebut, ia mengulanginya hingga aku berkata dalam hati, “Tangisan itu bisa menyebabkan kematiannya.”

Tatkala melihatnya, aku mengatakan, “Laa ilaaha illallah wal hamdulillah” seperti yang biasa diucapkan orang tatkala terjaga dari tidurnya, dengan harapan agar ia menghentikan tangisnya begitu mendengar ada orang yang bangun. Saat mendengarku, ia pun diam dan aku tidak mendengar lagi isak tangisnya.”

Menjadi Ahli Fikih pada Usia Belia

Abdul Malik gemar menimba ilmu kepada ulama-ulama senior pada masanya. Kegemaran itu membuatnya akrab dengan Al-Qur’an. Ia mengambil banyak hadis Rasulullah saw. dengan mempelajarinya dan mendalami ilmu-ilmu Islam lainnya. Dengan keteguhan belajar yang kuat, ia masuk dalam jajaran kelompok pertama fukaha wilayah Syam, meski usianya masih terbilang belia.

Dalam satu riwayat, Umar bin Abdul Aziz pernah mengumpulkan para penghafal Al-Qur’an dan ahli fikih yang ada di Syam. Ia berkata, “Sesungguhnya, aku mengundang kalian untuk suatu urusan kezaliman yang terjadi dalam keluargaku (yakni pada masa Khalifah Sulaiman), bagaimana pendapat kalian?”

Mereka menjawab, “Wahai Amirulmukminin, sesungguhnya hal itu bukanlah tanggung jawab Anda dan dosanya ditanggung oleh orang yang merampas hak tersebut.” Rupanya jawaban tersebut belum melegakan hati Umar bin Abdul Aziz. Lalu, salah seorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat tersebut berkata, “Undanglah Abdul Malik, wahai Amirulmukminin. Beliau layak untuk Anda undang karena ilmu, kefakihan, dan kecerdasannya.”

Ketika Abdul Malik datang, Umar bin Abdul Aziz bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang harta yang diambil oleh anak-anak paman kita (Sulaiman) secara zalim? Sesungguhnya, orang-orang yang memiliki hak tersebut telah datang dan menuntutnya, sedangkan kita mengetahui hak mereka?”

Abdul Malik berkata, “Menurut saya, hendaknya Anda mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya selagi Anda mengetahui urusannya. Ini karena jika Anda tidak melakukannya, maka Anda telah bersekutu dengan orang yang mengambil hak dengan cara yang zalim.” Atas jawaban putranya itu, hati Umar menjadi tenang dan rasa gelisahnya pun hilang.

Surat Umar kepada Abdul Malik

Meski menjadi anak khalifah, Abdul Malik tidak memanfaatkan kedudukan ayahnya dengan mengejar jabatan dan posisi di pemerintahan. Ia lebih memilih hidup di bumi ribath (perbatasan untuk menjaga serangan musuh) dan menetap di salah satu desa yang dekat dengannya daripada tinggal di Syam. Ia meninggalkan Damaskus yang penuh dengan taman yang subur, pepohonan yang rindang, dan sungai-sungai yang indah.

Ayahandanya—kendati telah mengetahui betul akan kesalehan dan ketakwaannya—masih merasa khawatir jika putranya tergelincir oleh tipu daya setan. Umar sangat berharap anaknya senantiasa menjadi pemuda yang tegar. Beliau selalu ingin mengetahui urusannya selagi mampu mengetahuinya. Beliau ingin memastikan bahwa sang putra senantiasa berada di jalan kebenaran dan ketaatan.

Maimun bin Mahran, menteri Umar bin Abdul Aziz, sekaligus penasihat yang membantu beliau, menceritakan saat ia menemui Umar bin Abdul Aziz. Kala itu, ia mendapati Umar tengah menulis surat untuk putranya, Abdul Malik. Dalam surat tersebut, Umar bermaksud menasehati sang anak, memberi pengarahan, peringatan, dan kabar gembira. Di antara isi dalam surat tersebut ialah,

Amma ba’du. Sesungguhnya orang yang paling berhak menjaga dan memahami perkataanku adalah engkau. Sesungguhnya, Allah Swt., alhamdulillah, telah mengaruniakan kebaikan kepada kita sejak kecil hingga sekarang. Oleh karenanya, ingatlah wahai anakku akan karunia Allah kepadamu dan juga kepada kedua orang tuamu. Jauhilah olehmu sifat takabur dan merasa besar, karena hal itu adalah perbuatan setan, sedangkan setan adalah musuh yang nyata bagi orang-orang beriman.

Ketahuilah, sesungguhnya aku mengirim surat ini untukmu bukan karena aku mendengar suatu berita tentangmu. Aku tidak mendengar berita tentangmu, kecuali yang baik-baik. Hanya saja, telah sampai kepadaku tentang kebanggaanmu terhadap dirimu. Seandainya rasa ujub ini muncul pada dirimu hingga menyebabkan aku tidak menyukainya, maka engkau akan melihat sesuatu yang tidak kau sukai dariku.”

Maimun berkata, “Kemudian Umar menoleh kepadaku dan berkata, ‘Wahai Maimun, sesungguhnya dalam pandangan mataku Abdul Malik begitu baik. Namun, aku khawatir jika kecintaanku kepadanya mengalahkan pengetahuanku terhadapnya. Oleh karenanya, aku menempatkan diriku seperti orang tua yang buta, pura-pura tidak tahu terhadap kekurangan anaknya. Pergilah kamu ke sana. Cari tahu keadaannya dan lihatlah, apakah engkau melihat tanda-tanda kesombongan dan kebanggaan pada dirinya? Ini karena ia masih terlalu muda sehingga rentan terperosok dalam tipu daya setan.”

Atas perintah Khalifah Umar tersebut, Maimun pergi melakukan perjalanan untuk bertemu Abdul Malik. Setelah bertemu, ia meminta izin masuk. Seketika, Maimun hanya mendapati seorang pemuda belia, gagah, dan tampan, duduk di atas alas dari rambut. Lalu, Abdul Malik mendekati Maimun sambil berkata, “Aku telah mendengar ayahmu menyebut-nyebut kebaikan Anda. Aku berharap agar Allah memberikan manfaat karena Anda.”

Maimun berkata, “Bagaimanakah keadaan Anda hari ini?” Lalu, Abdul Malik menjawab, “Aku memperoleh keyakinan dan nikmat dari Allah Taala. Hanya saja, aku takut jika teperdaya oleh sikap husnuzan ayah kepadaku, padahal aku belum mencapai keutamaan sebagaimana yang beliau harapkan. Aku khawatir jika kecintaan beliau kepadaku telah mengalahkan pengetahuan beliau tentang diriku, sehingga hal itu menjadi bencana bagiku.”

Dalam pikirannya, Maimun bergumam, “Bagaimana bisa kedua orang ini, ayah dan anak bisa memiliki pemikiran yang sama? Sungguh mengherankan!” Maimun bertanya kepada Abdul Malik, “Beritahukan kepadaku, dari mana engkau mencari nafkah?”

“Dari hasil bumi yang telah aku beli dari orang yang mendapatkan warisan dari ayahnya. Aku membayarnya dengan uang yang tidak ada syubhat di dalamnya. Dengannya, aku dapat mencukupi kebutuhanku,” ujar Abdul Malik.

Maimun bertanya kembali, “Apa yang kau makan setiap harinya?” Abdul Malik berkata, “Sehari daging, sehari adas, dan sehari makan cuka serta zaitun, dengan ini cukup untuk hidup.”

Maimun berkata, “Apakah engkau merasa bangga dengan keadaanmu?” Abdul Malik menjawab, “Begitulah pada awalnya. Akan tetapi, tatkala ayah menasihatiku, memberi pengertian kepadaku, dan mengingatkan akan kekuranganku, Allah memberikan manfaat kepadaku. Semoga Allah membalas kebaikan ayah dengan balasan yang baik.”

Kemudian, Maimun duduk-duduk sembari berbincang dengan Abdul Malik. Ia tidak melihat pemuda yang lebih tampan, lebih berakal, dan lebih bagus adabnya daripada Abdul Malik, meskipun masih sangat muda dan pengalaman hidupnya sedikit.

Tag: