Menu

Mode Gelap

Perempuan · 1 Agu 2022 10:10 WIB ·

Perempuan dalam Pusaran Terorisme di Indonesia: Aktor atau Korban?


					Perempuan dalam Pusaran Terorisme di Indonesia: Aktor atau Korban? Perbesar

Jalanhijrah.com – Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme bukanlah hal yang baru, terutama di Indonesia. Pada awal tahun 2021 lalu, tepatnya pada Rabu (31/03), seorang wanita bercadar berinisial ZA menjadi tersangka dalam aksi terorisme yang terjadi di Mabes Polri Jakarta.

Dalam aksinya tersebut, ia melancarkan sejumlah tembakan yang diarahkan kepada beberapa anggota polisi yang tengah bertugas. Diketahui, bahwa aksi teror tersebut dilatarbelakangi oleh ideologi radikal ISIS yang dipahaminya.

Tidak hanya sampai disitu saja, Tindakan bom bunuh diri yang kerap kali digunakan sebagai pembuktian keberanian pria juga dapat dilakukan oleh perempuan. Sebagai contoh Ika Puspita Sari dan Umi Delima yang terlibat dalam aksi bom bunuh diri juga terlibat dalam upaya penyusunan rencana dan strategi penyembunyian pelaku.

Peristiwa bom bunuh diri oleh perempuan juga terjadi di Surabaya pada tahun 2018 yang melibatkan satu keluarga dan empat anaknya yang berusia 12 dan 9. Bom diledakkan di lokasi berbeda, yaitu tiga gereja, kantor polisi, da rumah susun di Surabaya. Pelaku serangan tersebut ialah Puji Kuswati dan dua putrinya.

Suami Kuswati diketahui ialah anggota unit teroris lokal yang berhubungan dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Pada kasus Bom Surabaya, pelaku terorisme menggunakan perempuan sebagai strategi untuk menyukseskan aksi teror. Hal ini dikarenakan aksi perempuan dianggap tidak menimbulkan kecurigaan, memiliki kemampuan untuk menyembunyikan bahan peledak dan pengawasan terhadap perempuan dan anak-anak lebih rendah.

Berdasarkan laporan tersebut, tampaknya aksi terorisme tidak lagi berfokus sebagai sebuah ajang jihad yang hanya dilakukan oleh kaum pria. Dapat dikatakan bahwa kaum perempuan tidak lagi hanya sebatas memegang peranan pendukung, tetapi juga berperan aktif sebagai pelaku utama dalam aksi terorisme.

Terkait hal tersebut, beragamnya peran perempuan dalam aksi terorisme merupakan sebuah pertanda, akankah perempuan berganti peran menjadi aktor utama atau justru hanya sebatas strategi perang yang digunakan oleh kelompok-kelompok ekstremis.

Perempuan Sebagai Strategi Terorisme

Kasus bom bunuh diri di Surabaya pada 13 Mei 2018 menandakan bahwa perempuan dapat menjadi strategi operasi terorisme. Aksi pengeboman gereja yang dilakukan oleh Satu keluarga yaitu Dita Oepriarto, Puji Kuswati, dan keempat anak-anaknya. Aksi pengeboman tersebut dilakukan dengan memberi sabuk bom kepada kedua anak perempuan Bersama sang ibu dan meledakkan diri di depan gereja. Aksi tersebut berhasil menewaskan 18 orang, yaitu 6 pelaku dan 12 masyarakat umum (Voi.id, 2021).

Strategi perlibatan perempuan dan anak dalam aksi terorisme memberikan keuntungan. Sebagai contoh kasus Bom Surabaya tersebut telah menjadi perhatian dunia, meraih simpati yang lebih besar terhadap tujuan para teroris, meningkatkan ketakutan publik. Hal ini menandakan bahwa tujuan terorisme dengan mudah tercapai dengan menggunakan strategi perempuan sebagai pejuang.

Baca Juga  Perempuan, Hukum Perkawinan, dan Hal yang Tidak Selesai

Kelompok teroris telah menargetkan perempuan melalui aksi dengan tindakan seksual yang berbasis gender serta kekerasan untuk mencapai tujuan ideologi dan tujuan taktis. Banyak perempuan yang terlibat dalam kelompok terorisme akibat dari paksaan dan diluar kemauan, keterlibatan paksaan tersebut dilakukan dengan berbagai cara seperti membuat ancaman, menculik, hingga ancaman terhadap orang terdekat seperti kepada keluarga (UNODC, 2019).

Selain mendapat kekerasan dan tindakan seksual, tidak jarang perempuan yang menjadi korban dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok seperti untuk membantu menyembunyikan pelaku teror.

Perempuan yang menjadi korban hingga masuk ke dalam kelompok terorisme biasanya direkrut oleh keluarga mereka sendiri secara tidak sadar seperti oleh ayah, suami, hingga keluarga laki-laki lainnya. Hal tersebut diperkuat dengan statemen yang diberikan bahwa perempuan harus patuh dan tidak melawan, kondisi tersebut tentu saja membuat para perempuan tidak berdaya dan kesulitan untuk melawan (Zuriah, 2022).

Penargetan perempuan oleh kelompok terorisme juga sering kali dilakukan dengan tujuan khusus dan pasti akan melibatkan tindakan kekerasan seksual berbasis gender, seperti pernikahan paksa, pemerkosaan, hingga perbudakan seksual (Crelinsten, 2022).

Hal tersebut dirancang sebagai upaya untuk mengintimidasi para perempuan untuk tidak terlibat dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Keterlibatan perempuan sebagai korban dapat dimulai dari kekerasan rumah tangga terutama dari pasangan yang telah bergabung dengan kelompok radikal atau terorisme.

Kekerasan yang melibatkan seksualitas pada perempuan telah berfungsi sebagai upaya untuk mempromosikan tujuan teroris dari perhatian media, meningkatkan rasa takut dan khawatir, simpati yang lebih besar, serta untuk memperluas jumlah rekrutan atau anggota.

Pernyataan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa perempuan perempuan tidak memiliki kredibilitas sebagai aktor terorisme dan jarang menduduki posisi sebagai pemimpin (Banks, 2019). Kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan oleh kelompok teroris cenderung dianggap menguntungkan karena keberadaan kelompok tersebut telah diliput.

Meskipun banyak perempuan yang telah menjadi korban kekerasan terorisme hal tersebut tidak jarang diabaikan bahkan hanya sedikit yang dipertimbangkan karena dianggap tidak begitu terlibat dalam garis depan aksi terorisme.

Hal tersebut juga didukung bahwa para perempuan sering kali tidak memiliki kekuatan untuk memberontak karena tidak dihormati oleh laki-laki. Banyak kelompok ekstrimis yang tidak hanya memperdagangkan perempuan untuk tujuan kelompok saja tetapi sebagai award atau hadiah yang akan diberikan pada anggota kelompok laki-laki dengan pernikahan secara paksa.

Pernikahan tersebut biasanya berorientasi pada eksploitasi seksual, kerja paksa, hingga reproduksi paksa dengan kekuasaan mutlak yang dimiliki laki-laki dalam rumah tangga (Daliwal & Kelly, 2020) . Semakin banyak perempuan yang telah menjadi korban kekerasan dalam aksi terorisme. Hal tersebut karena para korban sulit untuk mendapatkan dan mengakses hukum serta keadilan, meskipun para korban tersebut telah berupaya melakukan berbagai aksi untuk mendapatkan keadilan dan dukungan dari tingkat aparat pemerintahan hingga sosial.

Baca Juga  Membaca Partisipasi Perempuan dalam Dunia Politik dengan Nalar Emansipatoris

Motivasi Perempuan Sebagai Pelaku Terorisme

Perspektif lain untuk menyangkal pernyataan yang mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam terorisme merupakan bagian dari strategi perang yang digunakan oleh kelompok- kelompok ekstremisme, atau dalam kata lain mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan didalamnya hanya diartikan sebagai korban.

Terkait hal ini, perspektif baru hadir untuk memberikan pandangan berbeda dalam menanggapi fenomena tersebut, yang mana mempercayai kehadiran motivasi lain, tidak hanya doktrin atau paksaan hingga akhirnya menjadikan mereka sebagai korban, tetapi sejumlah motivasi pribadi yang pada akhirnya mendorong mereka menjadi pelaku utama dalam aksi terorisme.

Untuk lebih memahami maksud yang coba diungkapkan oleh perspektif baru ini, mari kita menilik sejumlah kasus terorisme di Indonesia, mengingat beragamnya peran perempuan dalam aksi terorisme yang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, khususnya pada rentang tahun 2011-2021.

Pada kasus yang pertama, yakni keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme yang didorong oleh alasan religius, yakni memperoleh gelar syahid dalam kematiannya. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Idham Aziz sat menggelar konferensi pers menanggapi laporan tiga orang perempuan yang bergabung bersama kelompok teroris MIT di wilayah Poso Pesisir, Kabupaten Poso.

Diketahui, ketiga perempuan tersebut merupakan istri dari para pimpinan MIT, yakni Santoso alias Abu Wardah, Basri, dan Ali Kalora. Selain it, alasan lain yang diduga turut mendorong perempuan-perempuan tersebut tergabung ke dalam kelompok teroris MIT yakni sebagai ajang untuk membalaskan dendam para suaminya yang telah tewas lebih dulu.

Pada kasus yang kedua, kembali menilik pada aksi terorisme yang terjadi di Mabes Polri Jakarta pada Rabu, 31 Mart 2021. Aksi teror yang terjadi yakni berupa penembakan terhadap anggota polisi yang tengah bertugas. Dalam aksinya tersebut, ZA tersangka pelaku teror merupakan tersangka ‘lone wolf, yang berarti ia melakukan aksinya seorang diri.

Namun, dalam aksinya tersebut ia berhasil ditaklukkan dengan cara ditembak mati. Terkait motif dibalik serangannya, polisi berhasil menemukan jawaban melalui akun instagram pelaku, dimana selanjutnya a diketahui sebagai salah satu pengikut aliran ISIS. Selain itu, berdasarkan unggahan terakhir pelaku di akun instagramnya terkait perjuangan jihad, menjadikan jihad sebagai alasan terkuat dibalik aksi terornya tersebut.

Baca Juga  Merayakan Maulid Nabi dari Kafe

Berdasarkan dua kasus di atas, dapat diketahui bahwa alasan keterlibatan perempuan dalam terorisme tidak hanya didorong oleh satu motif tertentu, melainkan didorong oleh sejumlah motif yang pada akhirnya dapat mengubah peran perempuan dari korban atau pelaku pasif menjadi pelaku aktif.

Selain alasan jihad dan balas dendam, terdapat alasan lain yang diduga kuat dapat mendorong perempuan untuk terlibat ke dalam aksi terorisme. Beberapa alasan tersebut diantaranya: feminisme; trauma; balas dendam; bentuk nasionalisme; marjinalisasi: penilaian negatif terkait identitas yang dimilikinva: serta komitmen yang kuat akan identitas kelompok (ekstremis).

Kesimpulan

Dengan Kedua penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perempuan bisa saja menjadi pelaku maupun korban, hal ini dapat dilihat pada tujuan dan keadaan yang dialami perempuan.

Perempuan yang awalnya hanya berperan sebagai pendukung juga bisa jadi pelaku aktif dalam terorisme. selain itu banyak juga perempuan yang terpaksa menjadi pelaku penyerangan karena doktrin serta ancaman dari pemimpin organisasi. Maka dari itu diperlukan pemahaman lebih lanjut bahwa perempuan memiliki identitas berbeda dalam perannya di organisasi terorisme.

Dengan fakta bahwa perempuan dapat berperan sebagai pelaku dan adakalanya perempuan merupakan korban, hal ini dapat menjadi pertimbangan dalam menangani kasus tersebut. Pertimbangan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan penanganan lanjutan tentang aksi terorisme.

Referensi

Banks, C., 2019. Introduction: Women, Gender, and Terrorism: Gendering Terrorism, Women & Criminal Justice. Routledge, Issue 29:, pp. 4-5.

BBC News Indonesia. 2021. Penembakan Mabes Polri: ‘Terduga teroris berideologi ISIS’, polisi ungkap identitas perempuan 25 tahun pelaku serangan. Retrieved April 18, 2022, from https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56579674

Crelinsten, R., 2022. Online Gender-Based Violence is Endemic: It Should Be Considered a Form of Terrorism. [Online]. Available at: https://www.cigionline.org/articles/online-gender-based-violence-is-endemic-it-should-be-considered-a-form-of-terrorism/

Cyndi, Banks. 2019. Introduction: Women, Gender, and Terrorism: Gendering Terrorism, Women & Criminal Justice, 29:4-5, 181-187, DOI: 10.1080/08974454.2019.1633612
Daliwal, S. & Kelly, L., 2020. The Links Between Radicalisation and Violence Against Women and Girl. s.l.:London Metropolitan Unoversity.

G. R. 2021. Salience Identity of Women in Terrorism. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies. doi:https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/equality/article/view/10407

NODC, 2019. Handbook on: Gender Dimension of Criminal Justice Responses to Terrorism. English: Publishing and Library Section, United Nations Office at Vienna.

Voi.id, 2021. Pengeboman Tiga Gereja di Surabaya dalam Sejarah 13 Mei 2018. [Online]. Available at: https://voi.id/memori/51062/pengeboman-tiga-gereja-di-surabaya-dalam-sejarah-13-mei-2018

Zuriah, N., 2022. Perempuan dalam Isu Terorisme, Jadi Korban dan Sulitnya Pemulihan. [Online]. Available at: https://www.nu.or.id/nasional/perempuan-dalam-isu-terorisme-jadi-korban-dan-sulitnya-pemulihan-iDpeH

Artikel ini telah dibaca 21 kali

Baca Lainnya

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam

25 Januari 2023 - 10:00 WIB

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam
Trending di Perempuan