Jalanhijrah.com – Kuningan — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa ancaman penyebaran paham terorisme semakin serius karena mulai menargetkan kalangan pelajar melalui berbagai platform digital. Peringatan tersebut disampaikan dalam kegiatan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan yang berlangsung di Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.
Roni Sukmayapanji Kusuma SH MSi, Kabid Ideologi dan Wawasan Kebangsaan sekaligus ketua pelaksana kegiatan, menekankan pentingnya menanamkan karakter dan nilai kebangsaan sejak dini agar generasi muda tumbuh dengan jiwa kepemimpinan, rasa cinta tanah air, dan kesadaran bela negara.
“Pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan ditujukan untuk membentuk pemimpin yang berkompeten, memiliki kecintaan terhadap NKRI, serta berjiwa bela negara. Penerapan nilai-nilai luhur Pancasila menjadi fondasi penting dalam membangun karakter generasi mendatang,” ujar Roni dalam sambutannya pada Selasa (25/11/2025).
Digitalisasi dan Pelajar: Munculnya Ancaman Baru
Densus 88 Antiteror mencatat bahwa proses perekrutan kelompok radikal kini semakin banyak menyasar anak dan remaja melalui media sosial, aplikasi pesan singkat, hingga platform gim online. Pada 2025, jumlah anak yang teridentifikasi terpapar paham radikal meningkat menjadi 110 orang—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode 2011–2017.
Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah pelajar terpapar radikalisme tertinggi, sehingga menjadi wilayah prioritas dalam berbagai program pencegahan.
Pejabat Densus 88 menjelaskan bahwa pola perekrutan berbasis daring—tanpa perlu tatap muka—memudahkan penyebaran paham ekstrem kepada pelajar. Cara ini memanfaatkan ketergantungan generasi muda pada dunia digital serta minimnya pengawasan terhadap penggunaan gawai dan media sosial.
Kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan yang terstruktur, baik di sekolah maupun dalam komunitas. Kesbangpol Jabar menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Program seperti bela negara dan penguatan literasi digital dinilai menjadi langkah preventif utama agar pelajar tidak mudah terseret ke ideologi radikal.
Peringatan ini mengingatkan bahwa di era serba digital, ancaman radikalisme tidak lagi berbentuk fisik semata, melainkan dapat menyusup melalui layar, sehingga kewaspadaan dan literasi sejak usia dini menjadi sangat penting.







