jalanhijrah.com – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan pertamanya kepada rakyat Iran dengan menegaskan bahwa negaranya tidak akan berhenti menuntut pembalasan atas serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, yang menurutnya telah menyebabkan banyak korban jiwa.
“Saya meyakinkan seluruh rakyat bahwa kami tidak akan mengabaikan tuntutan balasan atas darah para syuhada kalian. Pembalasan yang kami maksud bukan hanya terkait dengan gugurnya Pemimpin Revolusi yang agung, tetapi setiap warga bangsa yang terbunuh sebagai syuhada oleh musuh merupakan perkara tersendiri yang harus diperhitungkan,” ujar Mojtaba dalam pesannya, sebagaimana dikutip oleh Tasnim News Agency, Kamis (12/2/2026).
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Iran akan memberi perhatian serius terhadap korban, terutama anak-anak. Menurutnya, serangan yang terjadi di sekolah Shajareh Tayyebah di Minab serta peristiwa serupa memiliki makna yang sangat penting dalam konteks tersebut.
“Kami sangat peka terhadap darah anak-anak kami. Karena itu, kejahatan yang sengaja dilakukan musuh di sekolah Shajareh Tayyebah di Minab, maupun kejadian sejenis lainnya, memiliki arti khusus bagi kami,” tambahnya.
Ia juga menyinggung serangan rudal Tomahawk milik Amerika Serikat yang menghantam sebuah gedung sekolah dasar, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 175 orang, dengan banyak korban di antaranya adalah anak-anak.
Di tengah situasi tersebut, Iran memberi sinyal akan terus melanjutkan perlawanan secara maksimal terhadap Amerika Serikat dan Israel.
“Kehendak rakyat adalah melanjutkan pertahanan yang efektif sekaligus mematikan,” ujar Mojtaba Khamenei, yang menyebut ayah, istri, serta saudara perempuannya turut menjadi korban dalam agresi yang ia kaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ia juga menegaskan bahwa langkah untuk memblokade Selat Hormuz tetap akan menjadi salah satu opsi strategis yang terus dipertimbangkan.
“Karena itu, upaya memblokir Selat Hormuz tanpa diragukan lagi harus terus dimanfaatkan,” tegasnya.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut sejauh ini dilaporkan turut mengguncang perekonomian global, termasuk memicu lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat. Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan menuntut kompensasi atas perang yang terjadi saat ini.
Ia juga memperingatkan kemungkinan langkah penyitaan terhadap aset milik Amerika Serikat dan Israel sebagai bentuk tekanan.
“Kami akan menuntut ganti rugi dari pihak musuh. Jika mereka menolak, kami akan menyita aset mereka sebanyak yang kami anggap layak. Bila hal itu tidak dapat dilakukan, maka kami akan menghancurkan aset mereka dalam jumlah yang setara,” ujarnya.
Pria yang lahir pada 8 September 1969 itu juga menyampaikan pesan kepada para pemimpin serta tokoh berpengaruh di sejumlah negara di kawasan, terkait sikap mereka terhadap konflik yang sedang berlangsung.
“Dalam invasi baru-baru ini, beberapa pangkalan militer digunakan sebagai sasaran. Tentu saja, seperti yang telah kami tegaskan sebelumnya, tanpa menargetkan negara-negara tersebut, serangan kami hanya ditujukan pada pangkalan-pangkalan itu,” ujar Mojtaba Khamenei.
Ia menekankan bahwa negara-negara di kawasan harus segera menjelaskan sikap mereka terhadap pihak yang dianggap telah membunuh rakyat Iran. “Saya menyarankan agar pangkalan-pangkalan itu segera ditutup, karena sekarang mereka pasti menyadari bahwa klaim Amerika mengenai upaya membangun keamanan dan perdamaian hanyalah kebohongan,” tambahnya.
Mojtaba juga menyampaikan apresiasi kepada para pejuang perlawanan di garis depan yang telah membela bangsa dan tanah air Iran.
Mojtaba Khamenei menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang kehilangan para syuhada, termasuk beberapa anggota keluarganya sendiri yang gugur dalam agresi Amerika Serikat dan Israel pada bulan Ramadhan tahun ini. “Selain ayah saya, yang kepergiannya menjadi duka cita publik, saya juga menyerahkan istri tercinta, saudara perempuan yang setia beserta anaknya, dan suami saudara perempuan saya yang terhormat kepada kafilah para martir,” ujarnya.
Alumnus Hauzah Qom itu mendoakan rakyat Iran, umat Muslim, dan seluruh kaum tertindas. “Saya berharap karunia Ilahi meliputi seluruh rakyat Iran, umat Muslim, serta kaum tertindas di dunia, terutama di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa peristiwa di Iran merupakan kunjungan yang justru akan menjauhkan AS dari perang. “Bagi mereka, ini adalah perang. Bagi kita, ternyata lebih mudah dari yang kita duga,” ujarnya, sebagaimana dikutip oleh AP News.
Serangan AS-Israel terhadap Iran mendapat kecaman dari berbagai pihak internasional. Di Indonesia, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf, mengecam aksi tersebut sebagai tindakan brutal yang merusak tatanan internasional dan berpotensi memicu konflik global serta radikalisme. “Saya mengutuk keras serangan AS dan Israel atas Iran,” tegasnya pada 2 Maret 2026.
Gus Yahya juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei akibat serangan tersebut, sekaligus mengajak seluruh umat Islam dan komunitas internasional mendoakan rakyat Iran agar diberikan keteguhan dan kekuatan menghadapi krisis ini.







