Apa betul semua berawal dari transnasional? Kasus yang bersifat transnasional adalah keberadaan ISIS yang dideklarasikan pada tahun 2014 oleh Abu Bakar Al-Baghdadi di Suriah. Munculnya ISIS ini telah menyita banyak perhatian masyarakat dunia.
ISIS dalam perkembangannya tak hanya bersifat lokal tapi telah menyedot hawa panas bagi masyarakat dunia lain. Berbondong-bondonglah warga dari berbagai negara untuk masuk ke Suriah.
Pada era jayanya, ISIS kala itu menjanjikan kehidupan yang Islami dan kemakmuran. Banyak warga dunia yang tersilap, sehingga tanpa banyak pikir mereka berdatangan dengan berbagai cara, baik secara kelompok maupun perseorangan serta biaya mandiri. Termasuk warga Indonesia yang jumlahnya ratusan, bahkan ada yang mensinyalir ada seribuan datang ke sana. Maka slogan war againts terrorism yang dikampanyekan sejak paska serangan WTC di New York 2011 hingga detik ini masih terus bergema.
Ya terbuktilah terorisme adalah produk wabah transnasional yang berlanjut menebar horor ke penjuru dunia. Serbuan ‘virus’ tersebut telah membuat dunia panik. Masyarakat tak urung lagi menjadi was-was. Jauh-jauh hari, masyarakat kita merasakan pedihnya serangan terorisme yang berkali-kali menghantam ketenangan masyarakat.
Negeri yang damai dan tempat berhimpunnya berbagai etnis, agama dan kepercayaan yang selama ini hidup dalam toleransi dan kedamaian, tiba-tiba dihentak dengan beragam aksi terorisme. Dari serangan bom bunuh diri (isytsyhad) hingga senjata kunai (ightiyalat) telah mempertontonkan kengerian tiada tara.
Keadaan makin ngilu dengan munculnya ISIS di Timur Tengah yang lalu menjelajah pengaruhnya di negeri kita. Bagi pendukungnya, mesianisme munculnya kembali kekhalifahan telah menampang di ambang pintu dan karenanya harus disambut dengan militan.
Seiring waktu, kelompok-kelompk garis keras yang berafiliasi ke ISIS seperti Jamaah Anshorud Daulah (JAD) melancarkan aksi terornya secara independen melalui pembentukan sel-selnya yang berserakan dan tanpa komando (bi ghoiri tandzim).
Namun kini, ISIS telah runtuh. Runtuhnya kekhalifahan ISIS di Irak dan Suriah selain membuat lega masyarakat dunia, juga membuat kelimpungan banyak negara. Pasalnya, tidak sedikit warga negara di belahan barat dan timur yang ketimpa dilema, memulangkan atau membiarkan. Termasuk Indonesia yang warganya masih terlunta di Suriah. Belum tuntas pemerintah memutuskan kebijakannya, tiba-tiba serangan corona melantakkan kedamaian masyarakat. Terlupakan sejenak kasus pemulangan WNI eks Suriah ini, negeri kita masih harus bertarung melawan ‘terorisme baru’ berwujud ‘virus transnasional’ yaitu corona.
Menasionalisasi Wabah
Lalu bagaimana dengan WNI eks Suriah yang sudah kadung bermukim di Indonesia? Untuk yang masih di Suriah dan menjadi pengungsi yang jumlahnya ada 600-an sejenak kita lupakan. Kita menunggu kebijakan pemerintah. Sebagaimana data yang ada, sudah ratusan jumlah WNI eks Suriah yang pulang ke Indoensia selama beberapa tahun ini. Jumlah yang tak bisa dibilang sedikit. Fakta ini tentu memerlukan pemikiran dan tindakan yang serius.
Upaya yang perlu digencarkan adalah ‘menasionalisasi’ WNI eks Suriah yang sudah pulang di Indonesia. Model lazimnya adalah dengan deradikalisasi. Memang ada beberapa tipologi WNI eks Suriah ini. Tidak bisa disamaratakan bahwa semuanya menjadi petempur. Ada yang tujuannya ‘sekuler’ seperti mencari penghidupan ekonomi yang lebih baik, belajar dan kepentingan pragmatis lainnya. Bagi tipe seperti mereka ini, tentu ada pembedaan dalam terapinya.
Tipe ‘korban’ rayuan ISIS tak sedikit jumlahnya yang menimpa WNI eks Suriah. Mereka ini tadinya ‘perindu mimpi kekhalifahan’, kemudian setelah hijrah dari negerinya, terbelalak dengan keadaan yang sebenarnya. Ternyata apa yang mereka lihat tak seindah yang mereka bayangkan. Mereka termakan bujukan maut tentang indahnya negeri berdaulat kekhalifahan sembari merujuk pada teks yang mereka pahami dengan sangat sempit.
Ayat-ayat ‘akhir zaman’ yang begitu militan didakwahkan oleh para dai semakin membuat ‘mata gelap’ untuk segera bersimpuh ke pangkuan kekhalifahan yang semu. Bila disidik, hingga kini pun, memang masih tak sedikit warga negara kita yang masih penasaran dengan ‘Bumi Syam’. Mereka ini ada yang berstatus ‘deportan’, yaitu mereka yang ingin pergi ke Suriah semasa ISIS namun terhadang dan akhirnya terdampar di Turki dan lalu dipulangkan paksa ke Indonesia.
Padahal mereka sudah menjual harta bendanya bahkan rumahnya harus rela dijual demi bekal eksodus ke Suriah. Ada juga yang belum sempat pergi dan hanya termangu mendengarkan pengajian-pengajian dari ustadz-ustadz yang terus menggelorakan untuk hijrah ke ‘negeri impian’ dengan mengudar tafsir piciknya tentang ayat-ayat akhir zaman. Sementara, bagi mereka yang sudah menginjakkan kakinya di Suriah dan hidup bersama ISIS hingga bertahun-tahun, tersadarkan oleh kondisi nyata yang penuh tragedi dan trauma. Terlebih setelah ISIS lintang pukang dihajar pasukan koalisi, para serdadunya mencari tempat lain untuk melakukan serangan kecil-kecilan, bahkan ada yang direkrut al-Qaeda yang kini kembali bangkit di Suriah. Mereka ini yang biasa disebut ‘returnis’ dan mereka banyak yang sadar atas kekeliruannya.
Tak pelak, dalam kasus wabah terorisme, telah menyingkapkan ulang betapa ‘idiologi’ transnasional telah membuat masyarakat negeri lain kalang kabut. Idiologi yang berbalur kekerasan seirama sebagai ‘virus’ yang bila menjangkiti seseorang perlu dengan sigap dinetralisasi. Nisbahnya, seperti halnya saat beberapa tahun lalu wabah corona yang memunculkan alternatif pendekatan.
Di negeri kita, misalnya ada tawaran untuk lebih banyak mengkonsumsi kudapan jamu tradisional. Kalau di India, warga Hindu sampai harus meminum air kecing sapi untuk menangkal corona. Demi mengisolasi, juga dilakukan berbagai cara tak hanya standar ilmiah, tapi juga pendekatan agama. Arab Saudi misalnya saat wabah tersebut menutup sementara umrah, melarang jamaah di masjid dan lainnya.
Di Indonesia, warga muslim juga mendapatkan panduan MUI untuk sementara waktu bisa tidak berjemaah di masjid, bahkan untuk salat jumat. Semua ini demi menghindari interaksi masyarakat yang rawan terjadinya penularan corona. Tentu ini sah-sah saja sebagai bagian dari resielence dan survive manusia melawan pagebluk yang tengah mendera. Begitupun dalam menetralisasi radikalisme, ada berbagai ‘ramuan’ yang disiapkan. Maka ada metode deradikalisasi dan disangagement yang masing-masing menititikfokuskan pada strategi penyembuhan ideologi maupun melepas sejenak ideologi melalui aktivitas bantuan ekonomi dan lainnya.
Terkait WNI eks Suriah tentu semua pihak perlu kerja ekstra. Program yang perlu dilakukan sepatutnya lebih inovatif. Menasionalisasi mereka di antaranya perlu pendekatan literasi. Mereka yang tersihir oleh ISIS lalu berangkat ke Suriah tak bisa dilepaskan oleh faktor kurangnya pendalaman literasi. Mereka mudah termakan promosi di internet yang digencarkan oleh ISIS. Mereka lebih banyak membaca narasi-narasi dangkal dan instan, tanpa pendalaman sehingga hilang daya kritis. Buku-buku babon tentang keislaman yang mencerdaskan tidak pernah mereka jamah. Teknologi internet yang bisa dibaca cukup dengan memencet gawai membuat mereka tambah enggan untuk menggeluti kajian keislaman yang lebih holistik melalui pembacaan buku-buku yang mu’tabar (otoritatif).
Fakta memprihatinkan ini memang tidak kasuistik terjadi pada mereka yang WNI eks Suriah, tetapi menjadi fakta umum masyarakat kita. Terbukti, banyak dari berbagai kalangan masyarakat yang mudah sekali terpapar radikalisme. Di tengah situasi ‘post truth’ di mana fakta bisa dibolak-bali dan ‘digoreng’ demi kepentingan tertentu, radikalisme menjadi mudah melesak pesat dan menancap. Sementara itu, para mentor radikal baik offline maupun onlineberhasil memainkan kedangkalan pengetahuan audiennya dan lalu dicekoki dengan ‘pengetahuan picik’ yang mendorong pada kebencian.
Menderadikalisasi para WNI eks Suriah yang sudah mukim di beberapa daerah ini diharapkan tidak sekedar berpangku pada kelaziman. Kita perlu melakukan pendekatan yang out of the box. Menyimak hasil penelitian James M. Lutz dan Brenda Lutz dalam Global Terrorism (2004) mengungkapkan bahwa dalam menangani terorisme tidak ada teknik atau pendekatan counterterrorist yang tunggal, sebab radikalisme jauh lebih kompleks dari sekadar satu pendekatan. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk terus mengembangkan inovasi deradikalisasi yang tepat guna dalam mencari solusi terhadap penanggulangan radikalisme.
Sinergi Masyarakat Di sisi lain, perlu pula adanya sinergi yang tidak hanya dengan institusi pemerintah terkait. Masyarakat sangat penting diberikan pemahaman untuk mau menerima dan kemudian terlibat aktif dalam upaya mengembalikan WNI eks Suriah ini pada pangkuan NKRI. Dalam penelitian, WNI eks Suriah yang sudah tinggal di negeri kita lebih banyak mereka yang motivasinya ke Suriah dulunya untuk tujuan praktis bukan semata idiologis. Mereka inilah yang bisa lebih mudah diluruskan pemahamannya dan lalu diperkuat kebangsaannya.
Ratusan WNI eks Suriah ini kebanyakan juga masih menyembunyikan diri. Ini lantaran ‘kecemasan’ mereka dari kecaman atau bahkan aksi dari masyarakat. Mereka sebenarnya bukan Isiser, tapi justru penyintas yang dirusak oleh ISIS. Di sinilah pentingnya masyarakat menerima mereka dan terlibat untuk ‘memasyarakatkan’ kembali mereka. Deradikalisasi yang sukses lebih mungkin di mana penekanan ditempatkan pada tindakan berbasis masyarakat. Masyarakat lebih ‘bertaring’ dibanding aparat atau instansi pemerintah.
Deradikalisasi yang dilakukan oleh kekuatan masyarakat oleh sebab bisa lebih mudah mendekati eks jihadis dan lalu mengajak mereka berkawan selanjutnya melakukan kegiatan yang bermanfaat. Nah, upaya menjinakkan ‘virus transnasional’ bersosok ekstrimisme dan radikalisme bisa dilakukan melalui pencegahan, penangkalan dan moderasi. Inilah upaya menasionalisasi kembali terhadap pengaruh paham transnasional yang merasuk ke sebagian masyarakat. Dulu begitu mereka terjangkiti, hilang sudah ingatan mereka terhadap Bumi Pertiwi.
Mereka lupa kalau mereka lahir, tumbuh, beraktifitas bahkan mungkin mati di Bumi Pertiwi. Jadilah mereka ‘anak durhaka’ terhadap Ibu Pertiwi yang mengandung dan membesarkannya. Kini saatnya kita ‘nasionalisasi’ dengan mengembalikan mereka untuk berbakti pada Ibu Pertiwi.
Peneliti dan Penggiat Literasi Eksnapiter Rumah Daulat Buku (RUDALKU).










