Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 18 Okt 2021 12:00 WIB ·

Keutamaan Penghafal Al-Qur’an


					Keutamaan Penghafal Al-Qur’an Perbesar

Jalanhijrah.com-Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان: بم كسينا هذا ؟ فيقال: بأخذ ولدكما القرآن

“Siapa yang menghafal Al-Qur’an, mengkajinya, dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, ‘Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?’ Lalu disampaikan kepadanya, ‘Disebabkan anakmu telah mengamalkan Al-Qur’an.’” (HR Hakim 1/756).

Seorang anak muda berpenampilan rapi, santun, berakhlak mulia, dan hafal Al-Qur’an. Ia menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidupnya. Tutur katanya, tingkah lakunya, kepribadiannya, semua merupakan cerminan dari pengamalannya terhadap Al-Qur’an. Anak muda seperti ini mestilah merupakan dambaan bagi seluruh orang tua muslim.

Oleh karenanya, hal yang ironis ketika menuding anak muda good looking dan hafal Al-Qur’an sebagai penyebar radikalisme. Tudingan ini—apalagi oleh seorang pejabat tinggi—boleh jadi akan membuat para orang tua khawatir jika anaknya memilih masuk pesantren tahfiz Al-Qur’an, alih-alih masuk sekolah favorit.

Padahal, kekhawatiran seperti itu sungguh tak beralasan. Siapa saja yang mempelajari Al-Qur’an, akan mendapati ajaran yang jauh dari radikalisme dan terorisme. Tidak ada ajaran dalam Al-Qur’an yang memerintahkan untuk memusuhi nonmuslim tanpa alasan. Bahkan, akan kita dapati ajaran yang mulia untuk tidak memaksakan agama (Lihat: QS Al-Baqarah: 256) dan jaminan kebebasan menjalankan ajaran agama bagi pemeluk agama lain (Lihat QS Al-Kafirun: 6).

Baca Juga  Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

Begitu pun tidak ada ajaran untuk melakukan jihad terhadap kaum muslim. Tidak ada pula perintah jihad melawan orang-orang yang bersedia memeluk Islam, atau yang menolak masuk Islam tetapi tidak menghalangi dakwah dan penerapan hukum Islam.

Bahkan, orang yang mempelajari Al-Qur’an akan mendapati bahwa Al-Qur’an mengatur seluruh aspek kehidupan dengan begitu indah. Hubungan antara manusia dan alam, dirinya sendiri, dan orang lain, semua teratur harmonis.

Manusia berkewajiban beriman kepada Allah, beribadah kepada-Nya, menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, dan terikat dengan hukum-hukum Allah. Dalam kehidupan bermasyarakat, Al-Qur’an menggariskan untuk bersaudara sesama muslim, toleran kepada nonmuslim, beramar makruf nahi mungkar, bermuamalah secara benar, dan sebagainya.

Al-Qur’an juga mengatur kehidupan bernegara. Ada kewajiban untuk taat ulil amri, ada hukum-hukum pidana yang harus diterapkan negara, pengembanan dakwah dan jihad, kewajiban penguasa berlaku adil, dan sebagainya. Semua merupakan aturan yang bersumber dari Sang Pencipta manusia, sumber kebenaran dan kebaikan.

Apakah ajaran seperti ini yang disebut radikal? Menuding mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya sebagai perbuatan radikal, sama halnya dengan menuding Allah itu radikal, menurunkan kitab yang radikal. Bagaimana mereka nanti akan mempertanggungjawabkan tudingannya di hadapan Allah pada hari kiamat kelak?

Oleh sebab itu, para orang tua semestinya bergembira jika anaknya hafiz Al-Qur’an. Dalam HR Al-Hakim di atas—sanadnya hasan—di akhirat kelak, Allah akan memberikan penghargaan besar kepada orang tua para hafiz Al-Qur’an, yaitu mahkota dari cahaya yang terangnya seperti matahari dan pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia, jika hafiz Al-Qur’an ini juga mengkaji dan mengamalkannya.

Baca Juga  Belajar Sejarah Sebagai Penangkal Radikalisme Bagi Anak Muda

Lantas, jika orang tuanya mendapat balasan begitu besar, apa yang Allah akan berikan kepada hafiz Al-Qur’an? Tentu balasan yang jauh lebih besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

“Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat, lalu ia berkata, ‘Ya Allah, berikan ia perhiasan. Lalu Allah berikan seorang hafiz Al-Qur’an mahkota kemuliaan.’ Al-Qur’an meminta lagi, ‘Ya Allah, tambahkan untuknya.’ Lalu ia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian ia minta lagi, ‘Ya Allah, ridai ia.’ Allah pun meridainya. Lalu dikatakan kepada hafiz Al-Qur’an, ‘Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.’” (HR Turmudzi 3164 dan beliau menilai hasan sahih).

Hanya saja, yang penting untuk digarisbawahi adalah janji Allah ini tidak berlaku untuk orang yang hanya sekadar hafal, melainkan juga yang ta’allama wa ‘amila bihi, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.

Dengan besarnya pahala yang Allah janjikan, sudah seharusnya setiap orang tua berusaha memotivasi dan mendidik anak-anaknya untuk bisa hafal dan mempelajari Al-Qur’an.

Jadikan anak-anak kita good looking, saleh, hafal Al-Qur’an, dan memperjuangkan agar Al-Qur’an bisa terterapkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Boleh jadi, di tangan merekalah nanti, umat Islam bisa meraih kebangkitan dan kemenangan, menegakkan Khilafah rasyidah ala minhajin-nubuwwah.

Tulisan bisa dibaca selengkapnya:https://www.muslimahnews.com/2021/10/17/keutamaan-penghafal-al-quran/

Artikel ini telah dibaca 16 kali

Baca Lainnya

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi

26 Juli 2022 - 14:00 WIB

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi
Trending di Fikih Harian