Menu

Mode Gelap

Perempuan · 19 Jun 2022 12:00 WIB ·

Islam Memuliakan Perempuan, Mengapa Kita Merendahkan?


					Islam Memuliakan Perempuan, Mengapa Kita Merendahkan? Perbesar

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Jalanhijrah.com– Ayat ini menjadi dasar bahwasanya Islam, merupakan agama humanistis. Agama yang anti perpecahan, diskriminasi, dan eksploitasi. Bahkan, Islam agama kritik terhadap laku hidup manusia yang dinilai dapat merugikan pada manusia lain. Demikian juga ketika membicarakan sosok perempuan. Islam hadir sebagai agama pembebas bagi kaum perempuan tatkala hak-hak mereka dalam semua aspek kehidupan dipasung – baik sosial, politik, dll.

Lebih jauh lagi, Islam memandang kaum perempuan sejajar dengan kaum laki-laki. Yang membedakan keduanya hanyalah tingkat ketakwaan mereka. Ini berarti, tinggi-rendahnya derajat seseorang di mata Islam bukan dinilai dari strata sosialnya apakah ia keturunan orang terhormat atau tidak, kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, dll., melainkan ketakwaannya kepada Allah.

Jika ia bertakwa maka tinggilah derajatnya. Sebaliknya, jika tidak bertakwa maka rendahlah atau hinalah dia. Sungguh mulia cara pandangan Islam terhadap manusia terutama perempuan.

Adalah wajar, apabila pada zaman Rasulullah Saw banyak kaum perempuan telah memainkan peranan penting dengan turut andil dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, bahkan terlibat secara langsung menyukseskan dakwah Islam walaupun dengan cara mereka sendiri. Lihat misalnya, bagaimana kiprah Rufaydah al-Aslamiyah selaku seorang dokter perempuan pertama dalam sejarah Islam.

Di masa perang, Rufaydah, bersama perawat lain pergi ke medan perang untuk merawat yang terluka. Ia telah banyak berkecimpung dalam peperangan, baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, dll.

Pun dalam konteks kekinian, ada banyak kaum perempuan yang telah berkecimpung di ruang publik. Mereka memainkan peranan penting bahkan memiliki kedudukan cukup strategis dalam tatanan kehidupan kemasyarakatan. Wanita-wanita karier juga semakin merebak, baik di tingkat masyarakat pelosok-pedesaan maupun masyarakat urban atau perkotaan.

Demikian pula keterlibatannya di pentas perpolitikan dan pemerintahan tak bisa dimungkiri. Ini menjadi bukti bahwa perempuan mampu mengelola tatanan sosial laiknya seorang laki-laki.

Kendati demikian, masih ada sebagian – untuk tidak mengatakan tidak ada – terutama di kalangan umat Islam sendiri yang memiliki cara pandang sinis dan misoginis terhadap sosok seorang perempuan. Meski Islam sebagai agama memosisikan perempuan sangat mulia dan ditopang dengan fakta bahwa perempuan mampu berkiprah di ruang publik, hal ini tak membuat susut citra negatif pada perempuan.

Baca Juga  Liciknya Buzzer: Berlindung Di Bawah Demokrasi, Menyebarkan Ujaran Kebencian

Stereotip perempuan sebagai makhluk yang menjadi titik lemah keimanan, pelengkap penderitaan kaum laki-laki, dan ketidakpantasannya terlibat dalam urusan pemerintahan semakin menguat.

Tidaklah mengherankan apabila pandangan negatif ini acapkali dijadikan alat legitimasi kaum laki-laki terhadap perempuan bahwa: laki-laki superior sementara perempuan inferior. Akibatnya, mereka tak memiliki ruang sedikitpun. Nasib mereka seakan-akan tengah ditentukan oleh struktur dominasi kaum laki-laki.

Demikian juga dalam urusan rumah tangga. Perempuan tak memiliki peran apapun selain dapur (memasak), sumur (menyuci), dan kasur (menunaikan kewajiban suami-istri).

Jika demikian, pertanyaan yang muncul kemudian mengapa masih ada sebagian orang khususnya umat Islam memandang rendah kaum perempuan? Bukankah Islam sendiri memberi ruang dan kedudukan yang sangat mulia serta sejajar dengan kaum laki-laki? Atau sudah menjadi suratan takdir seorang perempuan untuk direndahkan, tidak dihargai, didiskriminasi, dan dipasung eksistensinya?

Menurut saya, mengakarnya stereotip negatif terhadap sosok perempuan sampai kiwari, sekurang-kurangnya disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kuatnya hegemoni sejarah perempuan dalam masyarakat pra-Islam. Mafhum, sebelum Islam datang kondisi perempuan cukup memilukan.

Eksistensinya tak dihargai, hak-haknya pasung, dan kebebasannya dibatasi bahkan dicabut. Apabila lahir seorang anak perempuan, ia dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai aib keluarga. Jangankan terlibat dalam urusan publik, keluar rumah pun mereka tak diperbolehkan. Sungguh kondisi yang sangat tragis dialami seorang perempuan kala itu.

Anehnya, catatan sejarah kelam masyarakat pra-Islam tentang perempuan ini diamini oleh sebagian umat Islam kiwari. Akibatnya, mereka seringkali berdalih dengan sejarah untuk memosisikan perempuan sebagai makhluk inferior yang pantas ditindas.

Padahal, mengutip M. Amin Abdullah seorang ilmuwan dan cendekiawan Muslim pakar hermeneutika asal Indonesia menyatakan, apa yang diyakini oleh kebanyakan masyarakat tak terkecuali umat Islam merupakan hegemoni dari kehidupan kaum jahiliyah yang gemar mendudukkan kaum perempuan dalam tatanan kehidupan sosial secara diskriminatif dan tidak adil. (Amin Abdullah, dkk., 2000: 27)

Kedua, kuatnya doktrin teologi (keagamaan). Pandangan teologi yang dianut selama ini oleh kebanyakan orang menganggap bahwasanya, kekuasaan hierarkis kaum laki-laki atas perempuan adalah keputusan Tuhan yang tak bisa diubah apalagi dikritisi. Misalnya, argumen yang kerap diajukan untuk melanggengkan sikap diskriminatif pada perempuan adalah Alquran Surat An-Nisa’ [4]:34, yaitu;

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوْا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Artinya: “Kamu laki-laki adalah pemimpin atas kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkah sebagian dari harta mereka”.

Menurut Gus Dur sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa para ulama (mufasir) klasik menafsirkan lafaz qawwamun, sebagai penanggungjawab, pemimpin, penguasa, pelindung dan sejenisnya. Hal ini didasarkan karena kaum laki-laki memiliki kelebihan ketimbang perempuan. Sehingga, kenyataan ini merupakan ketentuan yang pasti dan tak bisa diubah. (Abdurrahman Wahid, dkk., 1999: 206-207)

Baca Juga  Selama Umat Mendambakan Khilafah, Islam Tidak Akan Memasuki Kejayaan

Tak ayal, dengan corak penafsiran demikian berimplikasi pada kekalnya budaya patriarki. Dengan kalimat lain, peran seorang perempuan – baik di wilayah publik maupun domestik – acapkali mengalami diskriminatif dan selalu tersubordinasi oleh laki-laki. Bahkan, menurut Asghar Ali Engineer, hal ihwal menyebabkan sempitnya aktivitas perempuan yang dibatasi di dalam rumah dan penundukan perempuan di bawah struktur  kekuasaan laki-laki. (Asghar Ali Engineer, 2000: 63)

Ketiga, keliru memahami proses penciptaan perempuan. Tak bisa dimungkiri bahwa pemahaman yang dianut selama ini tentang terciptanya seorang perempuan (Hawa sebagai perempuan pertama di bumi), adalah berasal dari tulang rusuk laki-laki (Adam selaku laki-laki pertama di bumi). Pemahaman ini telah menjadi doktrin yang sangat kuat bahkan mengikat dalam benak setiap orang, tak terkecuali umat Islam. Mengapa demikian, karena hal ihwal ditopang oleh hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, yaitu;

عن أبى هريرة رضى الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإَنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِخَيْرًا.

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiaallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita dengan penuh kebijakan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadis inilah, akar superioritas kaum laki-laki dan inferioritas seorang perempuan semakin merebak dan tetap dipertahankan oleh sebagian orang Islam sampai kiwari. Akibatnya, seorang perempuan tak memiliki ruang dan peran untuk bereksistensi dengan bebas sebagai manusia. Memang secara tekstual, hadis di atas secara tegas dan lugas menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk seorang laki-laki.

Menurut Quraish Shihab, hadis di atas adalah sahih, karena itu kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Walau begitu, lanjut Quraish, redaksi hadis tersebut jangan dipahami secara tekstual karena bisa meninggalkan kesan bahwa perempuan itu adalah makhluk yang rendah derajat kemanusiaannya ketimbang laki-laki. Tetapi, “tulang rusuk yang bengkok” harus dipahami secara majasi (kiasan).

Baca Juga  Perempuan dalam Pusaran Terorisme, Kita Bisa Apa?

Maksudnya, sebagai peringatan kepada kaum Adam (laki-laki) ketika menghadapi kaum Hawa (perempuan) dengan sikap yang bijaksana, lemah lembut, dan santun. Pasalnya, ada sifat, karakter, dan kecenderungan yang dimilikinya berbeda dengan laki-laki. (M. Quraish Shihab, 2002: 271)

Berbeda dengan Quraish Shihab (yang agak lunak menafsirkan hadis tersebut), Riffat Hasan secara tegas menyatakan bahwa pemahaman tentang hadis penciptaan perempuan dari tulang rusuk yang selama ini diyakini dan diamini umat Islam khususnya, disebabkan adanya pengaruh dari kitab Injil. Untuk menguatkan argumennya, Hasan kemudian mengutip 4 rujukan dalam Genesis (kitab kejadian).

Menurutnya, kajian genesis, menyebutkan bahwa Adam berasal dari bahasa Ibrani yang berasal dari kata ‘adhamah’ berarti “tanah”. Sehingga tidak tepat dan tidak dapat diterima jika Hawa diciptakan dari tubuh Adam. Teks-teks Injil tersebutlah yang merasuki teks-teks hadis dengan pelbagai cara dan telah dijadikan instrumen untuk menafsirkan Alquran (Dony Arung Triantoro, 2018: 78-79).

Jadi, jelaslah bahwa pemahaman sebagian orang Islam tentang superioritas kaum laki-laki dan inferioritas kaum perempuan sangat keliru. Bahkan, perilaku demikian tak memiliki dasar atau legitimasi yang cukup memadai, baik dari sisi Alquran maupun hadis. Walau begitu, apakah cara pandang sinis dan misoginis terhadap sosok perempuan yang mengakar kuat ini akan tetap bertengger dalam pemikiran mereka? Yang pasti dikembalikan pada pribadi masing-masing.

Sebagai catatan tambahan: tulisan ini merupakan hasil refleksi dan kegelisahan saya khususnya dikarenakan masih ada sebagian orang yang memiliki cara pandang sinis dan miring terhadap perempuan: tak perlu memiliki pendidikan tinggi – toh pada akhirnya akan tetap menjadi ibu rumah tangga yang selalu mengurusi anak dll.

Pun tulisan ini, tentu saja, jauh dari alasan sebenarnya mengapa ada sebagian orang memandang rendah perempuan. Karena itu, kritik dan saran sangat terbuka bagi para pembaca. Sebab, tulisan ini bukan untuk menghakimi apalagi mengklaim. Wallahu A’lam

Referensi

Abdullah, Amin, dkk., Islam dan Problem Gender, (Yogyakarta: Aditya Media, 2000).

Engineer, Asghar Ali, Hak-hak Perempuan dalam Islam, (Yogyakarta: LPSA, 2000).

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2002).

Triantoro, Dony Arung, Pandangan Al-Quran tentang Perempuan: Kritik terhadap Tuduhan Feminisme, Jurnal Cakrawala: Jurnal Studi Islam 1, Vol. 13 (2018).

Wahid, Abdurrahman, Menakar “Harga” Perempuan: Eksplorasi Lanjut atas Hak-hak Reproduksi Perempuan dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1999).

Penulis: Saidun Fiddaraini

Penulis Lepas
Artikel ini telah dibaca 15 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan