Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 14 Feb 2022 16:00 WIB ·

Hukum Membayar Pajak Dalam Islam


					Hukum Membayar Pajak Dalam Islam Perbesar

Jalanhijrah.com – Dalam Islam salah satu kewajiban yang harus dibayarkan atas kepemilikan harta adalah membayar zakat. Seorang Muslim diwajibkan membayar zakat apabila telah memenuhi nisabnya (ukurannya). Namun demikian dalam konteks bernegara, tentunya seorang muslim yang juga merupakan warga suatu negara juga diwajibkan untuk membayar pajak. Pajak ini tentunya digunakan oleh negara untuk kemaslahatan dan pembangunan. Lantas bagaimana hukum membayar pajak dalam Islam?

Banyak tersebar meme dan informasi yang disebarkan oleh beberapa orang Islam tentang haramnya orang membayar pajak dan haram juga bekerja di kantor perpajakan. Dan untuk mengetahui hukum membayar pajak ini penulis sadurkan pendapat mufti Mesir, Prof. Dr. Syauqi Allam.

Prof. Dr. Syauqi Allam berpendapat sebagai warga negara tidak diperbolehkan lari dari kewajiban membayar pajak dan juga tidak diperbolehkan juga menyuap petugas pajak agar jumlah pajak yang harus dibayarkan tersebut berkurang.

Beliau menyatakan bahwa membayar pajak adalah bentuk ibadah kepada Allah sebagai wujud implementasi kepatuhan kepada pemimpin negara dalam hal kebenaran, kebaikan dan pembangunan. Beliau menuliskan, “Membayar pajak adalah bentuk ketaatan kepada undang-undang yang dirumuskan oleh waliyul amri (pemimpin negara) dan kita diperintahkan untuk menaatinya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulullah”

Membayar Pajak Dalam Islam Diperbolehkan

Prof. Dr. Syauqi Allam menyatakan bahwa Islam tidak melarang negara mewajibkan pajak kepada rakyat. Dalam Islam ditetapkan bahwa di dalam harta seorang muslim ada hak di luar zakat. Hal itu antara lain ditunjukkan oleh firman QS. Al-Baqarah ayat 177

Baca Juga  Imam Al-Ghozali Merespon Maraknya Gerakan Takfiri

Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan Shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Pada ayat di atas, disebutkan bahwa “memberikan harta yang dicintainya” dan “menunaikan zakat” sehingga ini membuktikan bahwa ada hak lain di luar zakat atas setiap harta kekayaan.

Dalam Islam sendiri, pemungutan pajak ini pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Umar bin Khattab adalah orang yang pertama kali berijtihad mengenakan pungutan dari harta selain zakat untuk tujuan mewujudkan kemaslahatan umum, seperti pajak tanah.

Pajak tanah wajib dibayarkan oleh setiap orang yang memiliki tanah wajib pajak yang berkembang, entah itu seorang muslim ataupun kafir, anak kecil atau orang dewasa, berakal atau orang gila, laki-laki ataupun perempuan. Yang demikian ini karena pajak merupakan beban tanah yang sifatnya berkembang. Dan perolehan mereka dari berkembangnya tanah itu dianggap sebanding.

Kewajiban pajak tanah yang dikenakan oleh Umar bin Khattab adalah untuk kemaslahatan umum. Seperti kebutuhan untuk menemukan sumber keuangan yang stabil bagi umat Islam lintas generasi dan pendistribusian kekayaan tidak terbatas pada kelompok tertentu, serta pengelolaan tanah dengan pertanian dan tidak menelantarkannya.

Baca Juga  Mencium Istri Saat Puasa, Batalkah?

Dari keterangan di atas menjadi jelas bahwa membayar pajak dalam Islam diperbolehkan. Wallahu A’lam Bishowab.

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian