Menu

Mode Gelap

Mujadalah · 20 Sep 2021 05:35 WIB ·

Fenomena Muhammad Kace dan Konsekuensi Logis Ruang Maya


					Fenomena Muhammad Kace dan Konsekuensi Logis Ruang Maya Perbesar

Jalanhijrah.com- Muhammad Kace, seorang youtuber yang sedang naik daun akibat postingannya melalui kanal youtube pribadinya. Kalimat yang dilontarkan olehnya menuai banyak kontroversi, dan dianggap menistakaan agama Islam. Respon berbagai pihakterus berdatangan. Ada banyak sekali kelompok melaporkan tindakan tersebut ke pihak kepolisian, mulai dari Muhammadiyah, NU, SI dan beberapa kelompok umat Islam yang merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad Kece ini tidak beradab dan biadab.

Jika kita melihat video yang tampil di beberapa ruang maya, ada beberapa yang bisa dilihat dari pernyataan Muhammad Kace dalam video yang berjudul “Kitab Kuning Membingungkan”, ia menyebut bahwa Muhammad bin Abdul pengikut Jin.  Pada video lain, ia juga menyebut bahwa Muhammad dikerumuni Jin serta Muhammad tidak ada ayatnya dekat dengan Allah.

“Islam ini hanya sebatas politik untuk cari makan, jangan jadi marketing Arab orang Indonesia. jangan menyebarluaskan membanga-banggakan alam. Tidak ada apa-apanya Muhammad bin Abdullah itu. Makanya di Al-Qur’an tidak tertulis Muhammad bin Abdullah. Karena Tuhan tahu, katanya Muhammad itu utusan Allah. Tapi kenapa tidak satupun wahyu yang turu kepada Muhammad”, begitulah cuplikan isi video singkat yang tersebar dari Muhammad Kace.

Apa yang dilakukan oleh Muhammad Kace ini sebenarnya sudah dilaporkan sejak April 2021 silam. Akan tetapi sampai saat ini belum mendapat respond dan penindakan secara tegas oleh pihak yang berwajib. Meskipun demikian, viralnya kalimat yang disampaikan oleh Muhammad Kace ini bisa memicu kemarahan publik, khususnya umat Islam yang selama ini berpegang teguh terhadap Al-Quran dan Hadis, serta menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role model, dalam kerosulan dan adab paling mulia disisi Allah sebagai kekasihNya.

Baca Juga  TNI Dalam Genggaman HTI

Ruang maya bebas berekspresi, bahkan orang gila sekalipun

Kita sepakat bahwa media sosial adalah ruang berekspresi manusia modern, dalam menyampaikan segala kegelisahan yang dialaminya. Menjadi ruang yang memberikan ilmu pengetahuan, informasi bahkan ruang dakwah untuk sebagian orang. Sebagian yang lain memanfaatkan sebagai sumber rezeki bagi dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta ruang eksis dan pegakuan diri menjadi manusia yang utuh.

Berdasarkan hal ini, maka konsekuensi logis dari ruang ekspresi ini juga diberikan kepada orang-orang  tanpa melihat jenis kelamin, kegalauan yang dialaminya bahkan orang gila sekalipun bisa mengakses media sosial dan membuat konten youtube. Fenomena ini sama seperti yang terjadi pada Muhammad Kace.

Jika melihat lebih jauh, apa yang dilakukan oleh Muhammad Kace sebenarnya salah satu alasannya agar dia bisa eksis dan dikenal publik secara luas. Pernyataan yang kontroversial, bahkan menghina agama, sekalipun ia berpeci dan berpenampilan seperti layaknya orang Islam, tidak lantas membuat seseorang berperilaku sama seperti yang diajarkan oleh Allah dan Rosulullah.

Apalagi jika melihat postingan melalui kanal youtubenya, sejak postingannya muncul dari tahun 2020, ia mencantumkan nomor rekening yang bisa digunakan oleh para penonton youtube untuk memberikan donasi atas apa yang sudah diberikan oleh Muhammad Kace berupa video yang sangat tidak beradab tersebut.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Banyak sekali orang-orang sejenis dengan Muhammad Kace ini seperti ingin diperhatikan, ia butuh perhatian, akan tetapi menggunakan cara yang berbeda. Ia butuh pengakuan publik, dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh para youtuber muslim lainnya. Akhirnya melalui kasus ini, rating youtubenya akan naik, namanya akan dikenal banyak orang dan bisa menjadi ajang eksistensi yang utuh bagi dirinya.

Baca Juga  Agung Wisnu Wardana: Aktivis 98 dengan Ide Gila Proposal Khilafah

Umat Islam yang kemudian agresif semakin kesal dengan perilaku orang gila semacam ini, meskipun pada dasarnya apa yang disampaikan oleh Muhammad Kace ini tidak akan diterima publik, bukan berarti kita memberikan ruang aman dan kebebasan untuk dia bersuara dan terus menghidupkan virus masyarakat semacam itu.

Kita tidak bisa mentolerir perbuatan Muhammad Kace yang berbuat semaunya, bahkan dianggap wajar sebagai kebebasan. Ada nilai yang dilabrak oleh Muhammad Kace, mulai dari tidak menghargai agama Islam, menghina, menistakan, mencaci maki serta ujaran kebencial lainnya.

Akan tetapi media sosial tidak membatasi orang semacam ini. Ruang media sosial sangat moderat dengan tetap memberikan ruang bagi siapapun untuk berekspresi, termasuk orang gila seperti Muhammad Kace ini.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Pesantren; Masihkah Jadi Benteng Pendidikan Bangsa?

7 Februari 2023 - 15:00 WIB

Pesantren; Masihkah Jadi Benteng Pendidikan Bangsa?

Kebohongan Aktivis Khilafah tentang Tegaknya Negara Islam 2024

30 Januari 2023 - 12:00 WIB

Kebohongan Aktivis Khilafah tentang Tegaknya Negara Islam 2024

Pembakaran Al-Qur’an: Islamofobia atau Politik Dendam?

25 Januari 2023 - 12:00 WIB

Pembakaran Al-Qur’an: Islamofobia atau Politik Dendam?

Fiqih Media Sosial: Ijtihad Mencegah Anak Menjadi Brutal dan Radikal

23 Januari 2023 - 12:00 WIB

Fiqih Media Sosial: Ijtihad Mencegah Anak Menjadi Brutal dan Radikal

Islam dan Demokrasi di Indonesia: Mencari Titik Temu yang Seimbang

20 Januari 2023 - 15:00 WIB

Islam dan Demokrasi di Indonesia: Mencari Titik Temu yang Seimbang

Semakin Islami, Semakin Kritis Pada NKRI?

19 Januari 2023 - 12:00 WIB

Semakin Islami, Semakin Kritis Pada NKRI?
Trending di Mujadalah