Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 16 Jul 2022 12:00 WIB ·

Dua Surat Yang Dapat Memperlancar Rezeki Berdasarkan Sunnah Nabi


					Dua Surat Yang Dapat Memperlancar Rezeki Berdasarkan Sunnah Nabi Perbesar

Jalanhijrah.com-Termasuk amalan yang dapat membuka pintu-pintu rezeki adalah memperbanyak membaca al-Qur’an. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw. bersabda;

اَلْقُرْآنُ غِنًى لَا فَقْرَ بَعْدَهُ، وَلَا غِنًى دُوْنَهُ

“Al-Qur’an adalah kekayaan. Tidak ada kefakiran setelah (membaca)nya dan tidak ada kekayaan tanpanya”. (HR.Thabrȃni)

Dalam riwayat Anas bin Malik, Rasululullah Saw. bersabda;

أَنَّ الْبَيْتَ الَّذِيْ يُقْرَأُ فِيْهِ الْقُرْأَنُ يَكْثُرُ خَيْرُهُ وَالْبَيْتُ الَّذِيْ لَا يُقْرَأُ فِيْهِ الْقُرْأَنُ يَقِلُّ خَيْرُهُ

“Sesungguhnya rumah yang dibacakan al-Qur’an di dalamnya maka akan bertambah kebaikannya sementara rumah yang tidak dibacakan al-Qur’an di dalamnya akan berkurang kebaikannya.”

Meski demikian, ada dua surat tertentu yang apabila dibaca dapat mendatangkan kekayaan dan memperlancar rezeki. Yang mana dua surat ini secara tegas disabdakan nabi dalam hadisnya. Adapun dua surat tersebut adalah;

Pertama, Surat al-Waqi’ah.

Surat Waqi’ah juga disebut dengan Surat al-Ghina. Membaca surat ini secara rutin dapat menarik rezeki. Rasulullah Saw bersabda;

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

“Barangsiapa membaca surat al-waqi’ah di setiap malam maka ia tidak akan ditimpa kefakiran selamanya.”

Dalam kitab Kaifa Takūnu Ghȃniyan [13] diceritakan; Ketika Ibnu Mas’ud r.a sakit sebelum menjelang wafatnya Sayyidina Utsman datang menjenguk lalu beliau bertanya “Apa yang ingin engkau adukan?” Ibnu Mas’ud menjawab “dosaku”, Sayyidina Utsman bertanya lagi “apa yang engkau inginkan?” Ibnu Mas’ud menjawab “rahmat tuhanku”, “maukah aku panggilkan seorang tabib?” tanya Sayyidina Utsman lagi “tidak, (justru) dia yang membuatku sakit” jawab Ibnu Mas’ud.

Baca Juga  Anjuran Menjaga Kehormatan Sesama Manusia

Sayyidina Utsman pun bertanya kepada Ibnu Mas’ud untuk yang terakhir kalinya “bolehkah aku memberikan suatu pemberian?” Ibnu Mas’ud menolak “tidak perlu”, “bukan untukmu, tapi untuk anak-anakmu setelah engkau meninggal” terang Sayyidina Utsman, apa jawaban Ibnu Mas’ud? Beliau menjawab “apakah engkau khawatir anak-anakku jatuh fakir? Sesungguhnya aku memerintahkan mereka untuk membaca surat waqi’ah setiap malam karena aku mendengar Rasulullah Saw bersabda; “Barangsiapa membaca surat al-waqi’ah di setiap malam maka ia tidak akan ditimpa kefakiran selamanya.”

Yang kedua, Surat al-Ikhlas.

Membaca surat al-Ikhlas menjadi sebab datangnya rezeki. Membaca Surat al-Ikhlas satu kali ketika hendak masuk ke dalam rumah dapat menjadikan rezeki berimpah-ruah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Jarir bin Abdullah;

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ: “قَرَأَ قُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ عِنْدَ مَا يَدْخُلُ مَنْزِلَهُ نَفَتِ الْفَقْرَ عَنْ اَهْلِ ذَلِكَ الْمَنْزِلِ”

Rasulullah Saw bersabda; “barangsiapa membaca ‘qul huwallahu ahaad’(al-Ikhlas) ketika hendak masuk ke rumahnya maka bacaan surat al-ikhlas tersebut akan menghilangkan kefakiran dari seluruh penghuni rumahnya”

Dalam riwayat yang lain dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata;

“Suatu ketika seorang lelaki datang menemui nabi dan ia mengadukan kefakiran dan kemalaratan hidup yang dialaminya kepada nabi, maka nabi bersabda; “apabila kamu hendak masuk ke rumahmu, ucapkanlah salam jika didalamnya ada seseorang tetapi bila tidak ada seorangpun maka ucapkanlah salam kepadaku lalu bacalah surat al-Ikhlas satukali”.

Lelaki itupun mengamalkan apa yang diperintahkan nabi tersebut, maka Allah memberinya rezeki yang berlimpah-ruah. Saking melimpahnya, rezekinya mengalir kepada semua penghuni rumah dan tetangganya”.

Baca Juga  Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah

Demikianlah penjelasan terkait dua surat yang dapat meperlancar rezeki berdasarkan sunnah nabi. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Achmad Fawaid

Artikel ini telah dibaca 10 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian