Home / News / Pesantren dan Tantangan AI: Benteng Moral bagi Anak dan Perempuan

Pesantren dan Tantangan AI: Benteng Moral bagi Anak dan Perempuan

jalanhijrah.com – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. AI bahkan dipandang bukan lagi sekadar perangkat teknologi, melainkan telah membentuk tatanan sosial baru.

“AI bukan hanya inovasi teknologi semata, tetapi sudah menjadi struktur sosial baru,” ujar Anggia Ermarini dalam Seminar Nasional bertajuk Peran Pesantren dalam Perkembangan AI dan Perlindungan Anak dan Perempuan di Ruang Digital di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan AI memengaruhi pola komunikasi, hubungan sosial, hingga praktik manipulasi informasi melalui algoritma digital. Situasi tersebut juga memunculkan berbagai ancaman baru, mulai dari kekerasan digital, penipuan, sampai eksploitasi data pribadi yang kerap tidak disadari masyarakat.

Karena itu, Anggia Ermarini menekankan pentingnya penerapan maqashid syariah sebagai landasan dalam mengawal dan mengarahkan pemanfaatan teknologi AI agar tetap berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Pandangan serupa disampaikan Wijaya Kusumawardana selaku Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Budaya Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Ia mendorong pesantren untuk ikut berperan aktif dalam perkembangan teknologi AI.

“Kami mendorong keterlibatan pesantren, seluruh pihak, akademisi, termasuk para ahli di pesantren,” ujarnya.

Menurutnya, pengawasan terhadap teknologi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Peran keluarga dan lingkungan terdekat anak juga dinilai sangat penting. “Orang tua harus ikut bertanggung jawab dalam pengawasan. Pemerintah mengawasi platform, tetapi keluarga tetap perlu terlibat dalam mengawasi pengguna,” katanya.

Di sisi lain, Joko Adi Wibowo selaku VP IT Digital Strategy & Performance Telkom Indonesia menilai pesantren perlu dilibatkan untuk menjaga nilai moral di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Kita menyadari ada entitas yang perlu dirangkul sebagai jangkar moral sosial bangsa ini, dan itu adalah pesantren,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor guna membangun arsitektur kemanusiaan digital yang sehat dan beretika bagi Indonesia. “Diperlukan sinergi dan kerja sama agar tercipta arsitektur kemanusiaan digital yang tepat bagi bangsa ini,” lanjutnya.

Menurut Joko, pesantren memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem digital yang sehat, termasuk melalui penyediaan akses internet aman dan layanan digital yang menunjang kegiatan pendidikan. Ia mencontohkan pemanfaatan learning management system untuk pelaksanaan ujian berbasis digital maupun sistem pemantauan aktivitas guru dan santri yang lebih terstruktur.

Karena itu, ia memandang perlunya langkah bersama untuk memperkuat kolaborasi, mulai dari peningkatan kemampuan digital, inkubasi talenta, hingga pengembangan solusi AI yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam kesempatan yang sama, Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, KH Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa AI harus dipahami dan dikuasai sebagai sarana yang dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia.

“Manfaatnya sangat besar, tetapi kita juga harus menyadari adanya potensi mudarat yang besar. AI tidak perlu dimusuhi atau dihindari, melainkan harus diarahkan,” ujarnya.

Ketua Panitia Seminar Nasional, Sofwan Yahya, turut menyoroti pentingnya pemanfaatan AI untuk hal-hal positif. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis sebagai benteng moral dan etika di tengah pesatnya perkembangan media sosial serta ruang digital.

Ia menilai literasi AI perlu diperkenalkan kepada santri, wali santri, guru, dan masyarakat agar mereka lebih siap menghadapi ancaman hoaks, perundungan, eksploitasi, hingga kekerasan digital. “Ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah, pesantren, akademisi, dan masyarakat untuk menciptakan ruang digital yang aman bagi anak, perempuan, dan masyarakat,” tutupnya.

Tag: