jalanhijrah.com – Islam memiliki sejarah yang sangat panjang, tidak hanya berkaitan dengan aspek ibadah, tetapi juga mencakup dinamika politik, perbedaan pandangan, serta berbagai perkembangan lain yang ikut membentuk peradaban. Puncak dari periode awal tersebut terjadi ketika Rasulullah wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Sejak saat itu, umat Islam memasuki fase baru tanpa kehadiran langsung Nabi Muhammad sebagai pemimpin dan rujukan utama.
Kondisi ini kemudian memunculkan beragam perdebatan, perbedaan sudut pandang, serta tarik-menarik kepentingan yang sebelumnya tidak tampak pada masa hidup Rasulullah. Perbedaan tersebut tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi berkembang menjadi berbagai kelompok atau firqah dalam sejarah Islam. Salah satu kelompok yang kemudian muncul dan menjadi paling menonjol adalah Syiah. Untuk memahami sejarahnya secara lebih lengkap, akan diuraikan secara rinci dalam pembahasan berikut.
Syiah Itu Siapa Sebenarnya?
Mengutip penjelasan Syekh Ali Muhammad as-Shalabi, istilah Syiah tidak dapat dipahami secara terpisah dari perkembangan sejarahnya. Hal ini karena pemikiran dan keyakinan yang berkembang dalam tubuh Syiah mengalami perubahan dari masa ke masa, sehingga bentuk Syiah pada periode awal berbeda dengan apa yang dikenal pada periode-periode berikutnya hingga saat ini.
Pada masa awal Islam, khususnya di era kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan, istilah Syiah belum memiliki makna teologis seperti sekarang. Istilah ini hanya digunakan untuk menyebut kelompok yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib dibandingkan Utsman bin Affan. Dari situ muncul dua sebutan yang dikenal saat itu, yaitu “Syi’iyyun” dan “Utsmaniyyun”. Syi’i merujuk pada mereka yang mendahulukan Ali atas Utsman, sedangkan Utsmani sebaliknya.
Dengan demikian, pada fase awal kemunculannya, istilah Syiah hanya berfungsi sebagai penanda sikap preferensi politik, bukan sebagai sebuah doktrin keagamaan yang kompleks sebagaimana berkembang pada masa-masa selanjutnya.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa pada awal kemunculannya, Syiah hanyalah bentuk simpati politik kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, tanpa membawa kerangka teologis sebagaimana yang berkembang pada masa sekarang. Namun, seiring berjalannya waktu, kelompok ini mengalami transformasi yang signifikan hingga menjadi sebuah aliran dengan corak pemikiran dan doktrin tersendiri.
Macam-macam Syiah
Perkembangan Syiah dari masa ke masa menunjukkan bahwa ia tidak lagi sebatas preferensi politik antara Ali dan Utsman, melainkan berkembang menjadi sistem keyakinan yang lebih kompleks, seperti doktrin imamah, konsep kemaksuman imam, dan berbagai ajaran lainnya. Dari proses sejarah yang panjang tersebut, Syiah kemudian terbagi ke dalam beberapa aliran besar, yaitu: (1) Kaisaniyah; (2) Zaidiyah; (3) Imamiyah; (4) Ghulat; dan (5) Isma’iliyah. Penjelasannya sebagai berikut:
1. Syiah Kaisaniyah
Syiah Kaisaniyah dinisbatkan kepada tokoh bernama Kaisan, seorang mantan budak yang pernah dimerdekakan oleh Ali bin Abi Thalib. Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa ia merupakan pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah (14–80 H), putra Ali dari Khaulah binti Ja’far, bukan dari Fatimah az-Zahra.
Kelompok ini memiliki kecenderungan berlebih-lebihan dalam memuliakan Muhammad bin al-Hanafiyah, hingga meyakini bahwa ia menguasai seluruh ilmu, termasuk ilmu batin, takwil, serta pengetahuan tentang alam semesta dan jiwa. Menurut Abu Bakar as-Syahrastani, mereka berpandangan bahwa inti agama terletak pada ketaatan kepada imam, sehingga sebagian di antara mereka meninggalkan kewajiban syariat setelah merasa telah mencapai tingkat kepatuhan penuh kepada pemimpin tersebut.
Selain itu, mereka juga meyakini konsep reinkarnasi, hulul (penyatuan Tuhan dengan makhluk), raj’ah (kembali ke dunia setelah mati), serta meragukan hari kiamat. Dalam pandangan mereka, seseorang yang tidak memiliki imam dianggap tidak memiliki agama.
2. Syiah Zaidiyah
Syiah Zaidiyah dinisbatkan kepada Zaid bin Ali (76–122 H), putra Husain bin Ali. Kelompok ini meyakini bahwa imamah harus berada di kalangan keturunan Fatimah, namun tidak terbatas pada satu garis keturunan tertentu. Setiap keturunan Fatimah yang memenuhi syarat—seperti berilmu, zuhud, berani, dermawan, serta berjuang menegakkan kepemimpinan—dapat menjadi imam, baik dari jalur Hasan maupun Husain, bahkan bisa lebih dari satu imam dalam wilayah yang berbeda.
Dalam pemikirannya, Zaidiyah banyak dipengaruhi oleh Mu’tazilah karena Zaid bin Ali pernah berguru kepada Washil bin Atha, sehingga corak rasional cukup kuat dalam ajarannya. Dalam sikap terhadap sahabat, mereka tergolong moderat; Ali dipandang paling utama, tetapi kepemimpinan Abu Bakar dan Umar tetap diakui demi kemaslahatan umat. Mereka juga membolehkan kepemimpinan orang yang kurang utama meskipun masih ada yang lebih utama.
Sikap ini membuat sebagian Syiah Kufah menolak Zaid bin Ali karena ia tidak mencela Abu Bakar dan Umar. Penolakan tersebut kemudian melahirkan sebutan Rafidhah bagi kelompok yang menolaknya.
3. Syiah Imamiyah
Syiah Imamiyah meyakini bahwa imamah setelah Nabi Muhammad telah ditetapkan secara nash kepada Ali bin Abi Thalib, bukan melalui musyawarah umat. Dalam pandangan mereka, imamah merupakan prinsip dasar agama sehingga Nabi tidak mungkin meninggalkan umat tanpa penunjukan pemimpin.
Mereka juga berpendapat bahwa Nabi telah menunjuk Ali baik secara tersirat maupun tersurat. Secara tersirat, misalnya melalui beberapa peristiwa seperti penugasan Ali dalam menggantikan Abu Bakar untuk menyampaikan Surah Bara’ah, serta berbagai riwayat lain yang mereka tafsirkan sebagai isyarat keutamaan Ali. Secara tersurat, mereka mengutip riwayat baiat yang menyebut Ali sebagai washi dan wali setelah Nabi.
4. Syiah al-Ghaliyah
Syiah Ghaliyah dikenal sebagai kelompok yang bersikap ekstrem dalam mengagungkan para imam hingga mengangkat mereka ke derajat ketuhanan. Mereka juga menyamakan Tuhan dengan makhluk dan sebaliknya, sehingga terjebak dalam konsep tasybih yang berlebihan.
Pemikiran mereka dipengaruhi oleh berbagai ajaran seperti hulul, reinkarnasi, serta pengaruh tradisi Yahudi dan Nasrani. Dari sini lahir beberapa keyakinan khas seperti tasybih, bada’ (perubahan kehendak Tuhan), raj’ah, dan tanasukh (reinkarnasi).
5. Syiah Isma’iliyah
Syiah Isma’iliyah meyakini bahwa imamah berlanjut kepada Ismail bin Ja’far, putra tertua Ja’far ash-Shadiq. Kelompok ini berbeda pandangan mengenai nasib Ismail; sebagian meyakini ia wafat sebelum sempat menjadi imam, sementara yang lain berpendapat ia tidak wafat tetapi disembunyikan.
Salah satu keyakinan penting dalam aliran ini adalah bahwa seseorang yang meninggal tanpa mengenal imam zamannya dianggap mati dalam keadaan jahiliyah, begitu pula yang tidak berbaiat kepada imam.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah Syiah pada awalnya hanya merujuk pada kecenderungan politik dalam mendukung Ali bin Abi Thalib atas Utsman bin Affan, namun dalam perkembangannya mengalami perluasan makna hingga melahirkan berbagai doktrin dan terpecah menjadi sejumlah aliran besar sebagaimana telah dijelaskan. Wallahu a‘lam bisshawab.







