Ummu ‘Atiyyah; Perempuan Hebat Pakar Fikih Jenazah

Jalanhijrah.com – Transfer keilmuan dalam Islam tidak hanya ditujukan pada kaum lelaki melainkan juga melibatkan peran perempuan. Imam al-Bukhari mencantumkan kisah beberapa wanita yang merasa iri kepada laki-laki karena bisa mendapatkan ilmu secara langsung dari Rasul. Sehingga mereka mengadu sekaligus meminta agar Nabi meluangkan waktu khusus untuk kaum hawa untuk mengajarkan ilmu.

Akhirnya Nabipun mengabulkan permintaan tersebut. (HR. Al-Bukhori, j; 9, h; 101). Akhirnya lahirlah cendikiawan-cendikiawan muslimah seperti Siti Aisyah, Ummu ad-Darda’ dan Ummu ‘Athiyyah. Sahabat yang terakhir ini terkenal dengan pakar fikih terutama persoalan jenazah.

Ummu ‘Athiyyah dikenal sebagai sahabat perempuan yang cukup populer baik dalam bidang perang maupun intelektual terutama hal-hal yang terkait fikih jenazah. Menurut Para penulis sejarah sahabat Nabi salah satunya Abi Nuaim al-Ashbahani menyebutkan nama lengkap Ummu ‘Athiyyah ialah Nasibah atau Nusaibah binti al-Haris al-Anshoriyyah. Namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau adalah Nasibah binti Ka’ab. (Ma’rifah as-Shohabah, j; 6, h; 3455).

Wanita yang tergolong sahabat senior ini memiliki jejak sejarah yang bagus dalam bidang perawatan dan medis di medan perang. Tercatat pula dalam sejarah bahwa beliau pernah mengikuti perang khaibar bersama 20 wanita dengan semangat mengharap pahala berperang. Beliau pernah berkata;

غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ – صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَبْعَ غَزَوَاتٍ أَخْلُفُهُمْ فِيْ رِحَالِهِمْ ، فَأَصْنَعُ لَهُمُ الطَّعَامَ ، وَأَدَاوِي الْجَرْحَى ، وَأَقُوْمَ عَلى الْمَرْضَى

Saya berperang bersama Nabi di 7 peperangan. Saya mengikuti rombongan mereka, saya yang menyiapkan makanan mereka, saya yang mengobati diantara mereka yang terluka, saya yang merawat orang sakit. (Qishoshun Min Hayah as-Shohabiyyat, j; 1, h; 38).

Baca Juga  Pentingnya Dukungan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Perempuan keturunan Anshor ini juga banyak meriwayatkan hadis-hadis yang sudah dicantumkan dalam kutubuss shittah. Tidak hanya itu para perawi hadis juga tidak sedikit yang meriwayatkan hadisnya.

Di antara ulama-ulama yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah Muhammad bin Sirrin, Saudarinya, Hafshah binti Sirrin, Ummu Syarahubail, Ali bin Al-Aqmar, Abdul Malik bin Umair, Ismail bin Abdurrahman, dan lainnya. (Ma’rifah as-Shohabah, j; 6, h; 3455).

Terkait pengetahuan dalam bidang ilmu fikih, Abi Anas Majid al-Bangkani mengatakan;

وَاسْتَفَادَ النَّاسُ مِنْ عِلْمِهَا وَفِقْهِهَا فَكَانَ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ يَأْخُذُوْنَ عَنْهَا غُسْلَ الْمَيِّتِ

Banyak para sahabat yang mengaji pada beliau terkait fikih terutama soal memandikan jenazah.

Tidak hanya itu, Dr. ‘athiyyah Abu an-Nur mencatumkan Ummu ‘Atiyyah sebagai ahli fikih yang ke 2 setelah Siti ‘Aisyah di abad pertama Hijriyyah. Dan beliau terkenal sebagai wanita yang memandikan Zainab binti Rasul. (Nisa’ fi Mauqib al-Fuqaha’, h; 11).

Berikut hadis-hadis yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyyah terkait fikih jenazah;

عَنْ أُمِّ عَطِيَّة رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : لَمَّا مَاتَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُوِلِ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ :” أغْسِلْنَهَا وِتْراً ثَلَاثاً  أَوْ خَمْساً وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُوْراً أَوْ شَيْئاً مِنْ كَافُوْرٍ ، فَإِذَا غَسَلْتُنَّهَا فَأعْلَمَنَّنِيْ”

Dari Ummu ‘Athiyyah, dia bercerita; setelah Zainab binti Rasul wafat, beliaubersabda; mandikanlah dia dengan ganjil; 3 kali atau 5 kali kemudian yang terakhir dicampur dengan kapur atau semacam kapur. Setelah memandikan tolong  kabari saya.

Dalam hadis yang lain dari Muhammad bin Sirrin, Ummu ‘Athiyyah mengatakan;

Baca Juga  Menjadi Bestie Salihah yang Siap Membela NKRI

دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ

Rasulullah masuk ke ruangan tempat kami berkumpul mengelilingi jenazah putri beliau, Zainab. Beliau berkata; tolong kalian mandikan dia 3 kali atau 5 kali atau lebih dari itu dengan air dan daun bidara. Untuk basuhan terakhir tolong dicampur dengan kapur atau sesuatu yang terbuat dari kapur. Kalau sudah usai beritahu saya (HR. Al-Bukhori, j; 2, h; 73).

Nabi juga melarang menagis dengan menjerit, hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ummu ‘Athiyyah;

أَخَذَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ الْبَيْعَةِ أَنْ لاَ نَنُوحَ، فَمَا وَفَتْ مِنَّا امْرَأَةٌ غَيْرُ خَمْسِ نِسْوَةٍ: أُمُّ سُلَيْمٍ، وَأُمُّ الْعَلاَءِ، وَابْنَةُ أَبِي سَبْرَةَ امْرَأَةُ مُعَاذٍ، وَامْرَأَتَيْنِ؛ أَوِ ابْنَةُ أَبِي سَبْرَةَ، وَامْرَأَةُ مُعَاذٍ، وَامْرَأَةٌ أُخْرَى

Nabi pernah membaiat kita agar tidak menangis, namun ada 5 wanita yang tidak mematuhi baiat tersebut; Ummum Sulaim, Ummu al-‘Alla’, putri Subroh atau istri Mu’ad, dan 2 wanita lainnya atau putri Abi Subroh, istri Mu’ad, satu wanita lainya. (al-Lu’lu’ wa al-Marjan fi Ma Ittafaqa ‘Alaihi as-Syaikhon, h; 261).

حديث أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: لَمَّا غَسَّلْنَا بِنْتَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ لَنَا، وَنَحْنُ نَغْسِلُهَا: ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا

Baca Juga  Ta’limul Muta’allim; Kitab Panduan Akhlak dalam Belajar

Hadis dari ummu athiyyah, beliau berkata; di saat kami memandikan putri Nabi, Nabi bersabda; mulailah dengan anggota bagian kanannya dan area-area wudu’nya. (al-Lu’lu’ wa al-Marjan fi Ma Ittafaqa ‘Alaihi as-Syaikhon, h; 263).

Para sejawaran juga mengatakan bahwa beliau adalah satu-satunya sahabat yang mengatakan;

نُهَيْنَا عَنْ إتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

Kami dilarang oleh Nabi untuk mengikuti jenazah ke kuburan namun larangan itu tidak tegas pada kami. (HR. Al-Bukhori, j; 2, h; 87).

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani makna hadis ini adalah dimakruhkan bagi wanita untuk mengikuti jenazah ke kuburan. Dan beliau juga mengutip pendapat al-Qurtubi bahwa secara susunan redaksi hadis ini hanya menganduk makruh tanzih. Dan pendapat inilah yang dijadikan pedoman oleh mayoritas ulama. (Fath al-Bari Syarh Shohih al-Bukhori, j; 4, h; 320).

Di akhir hidupnya beliau menjadi imigran di kota Bashroh dan tak lama kemudian wafat di tempat yang sama dengan usia sekitar 70 tahun. (Dr. ‘athiyyah Abu an-Nur, Nisa’ fi Mauqib al-Fuqaha’, h; 11).

*Penulis: Asyrafkhan

Mahasiswa Pascasarjana Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo, Jawa Timur.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *