Menu

Mode Gelap

Perempuan · 21 Mar 2022 12:00 WIB ·

Ummu ‘Atiyyah; Perempuan Hebat Pakar Fikih Jenazah


					Ummu ‘Atiyyah; Perempuan Hebat Pakar Fikih Jenazah Perbesar

Jalanhijrah.com – Transfer keilmuan dalam Islam tidak hanya ditujukan pada kaum lelaki melainkan juga melibatkan peran perempuan. Imam al-Bukhari mencantumkan kisah beberapa wanita yang merasa iri kepada laki-laki karena bisa mendapatkan ilmu secara langsung dari Rasul. Sehingga mereka mengadu sekaligus meminta agar Nabi meluangkan waktu khusus untuk kaum hawa untuk mengajarkan ilmu.

Akhirnya Nabipun mengabulkan permintaan tersebut. (HR. Al-Bukhori, j; 9, h; 101). Akhirnya lahirlah cendikiawan-cendikiawan muslimah seperti Siti Aisyah, Ummu ad-Darda’ dan Ummu ‘Athiyyah. Sahabat yang terakhir ini terkenal dengan pakar fikih terutama persoalan jenazah.

Ummu ‘Athiyyah dikenal sebagai sahabat perempuan yang cukup populer baik dalam bidang perang maupun intelektual terutama hal-hal yang terkait fikih jenazah. Menurut Para penulis sejarah sahabat Nabi salah satunya Abi Nuaim al-Ashbahani menyebutkan nama lengkap Ummu ‘Athiyyah ialah Nasibah atau Nusaibah binti al-Haris al-Anshoriyyah. Namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau adalah Nasibah binti Ka’ab. (Ma’rifah as-Shohabah, j; 6, h; 3455).

Wanita yang tergolong sahabat senior ini memiliki jejak sejarah yang bagus dalam bidang perawatan dan medis di medan perang. Tercatat pula dalam sejarah bahwa beliau pernah mengikuti perang khaibar bersama 20 wanita dengan semangat mengharap pahala berperang. Beliau pernah berkata;

غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ – صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَبْعَ غَزَوَاتٍ أَخْلُفُهُمْ فِيْ رِحَالِهِمْ ، فَأَصْنَعُ لَهُمُ الطَّعَامَ ، وَأَدَاوِي الْجَرْحَى ، وَأَقُوْمَ عَلى الْمَرْضَى

Saya berperang bersama Nabi di 7 peperangan. Saya mengikuti rombongan mereka, saya yang menyiapkan makanan mereka, saya yang mengobati diantara mereka yang terluka, saya yang merawat orang sakit. (Qishoshun Min Hayah as-Shohabiyyat, j; 1, h; 38).

Baca Juga  BNPT Gandeng FPH Wasathiyah Cegah Intoleransi dan Radikalisme

Perempuan keturunan Anshor ini juga banyak meriwayatkan hadis-hadis yang sudah dicantumkan dalam kutubuss shittah. Tidak hanya itu para perawi hadis juga tidak sedikit yang meriwayatkan hadisnya.

Di antara ulama-ulama yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah Muhammad bin Sirrin, Saudarinya, Hafshah binti Sirrin, Ummu Syarahubail, Ali bin Al-Aqmar, Abdul Malik bin Umair, Ismail bin Abdurrahman, dan lainnya. (Ma’rifah as-Shohabah, j; 6, h; 3455).

Terkait pengetahuan dalam bidang ilmu fikih, Abi Anas Majid al-Bangkani mengatakan;

وَاسْتَفَادَ النَّاسُ مِنْ عِلْمِهَا وَفِقْهِهَا فَكَانَ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ يَأْخُذُوْنَ عَنْهَا غُسْلَ الْمَيِّتِ

Banyak para sahabat yang mengaji pada beliau terkait fikih terutama soal memandikan jenazah.

Tidak hanya itu, Dr. ‘athiyyah Abu an-Nur mencatumkan Ummu ‘Atiyyah sebagai ahli fikih yang ke 2 setelah Siti ‘Aisyah di abad pertama Hijriyyah. Dan beliau terkenal sebagai wanita yang memandikan Zainab binti Rasul. (Nisa’ fi Mauqib al-Fuqaha’, h; 11).

Berikut hadis-hadis yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyyah terkait fikih jenazah;

عَنْ أُمِّ عَطِيَّة رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : لَمَّا مَاتَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُوِلِ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ :” أغْسِلْنَهَا وِتْراً ثَلَاثاً  أَوْ خَمْساً وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُوْراً أَوْ شَيْئاً مِنْ كَافُوْرٍ ، فَإِذَا غَسَلْتُنَّهَا فَأعْلَمَنَّنِيْ”

Dari Ummu ‘Athiyyah, dia bercerita; setelah Zainab binti Rasul wafat, beliaubersabda; mandikanlah dia dengan ganjil; 3 kali atau 5 kali kemudian yang terakhir dicampur dengan kapur atau semacam kapur. Setelah memandikan tolong  kabari saya.

Dalam hadis yang lain dari Muhammad bin Sirrin, Ummu ‘Athiyyah mengatakan;

Baca Juga  Bisakah Perempuan Menjadi Qawwamah Seperti Laki-laki?

دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ

Rasulullah masuk ke ruangan tempat kami berkumpul mengelilingi jenazah putri beliau, Zainab. Beliau berkata; tolong kalian mandikan dia 3 kali atau 5 kali atau lebih dari itu dengan air dan daun bidara. Untuk basuhan terakhir tolong dicampur dengan kapur atau sesuatu yang terbuat dari kapur. Kalau sudah usai beritahu saya (HR. Al-Bukhori, j; 2, h; 73).

Nabi juga melarang menagis dengan menjerit, hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ummu ‘Athiyyah;

أَخَذَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ الْبَيْعَةِ أَنْ لاَ نَنُوحَ، فَمَا وَفَتْ مِنَّا امْرَأَةٌ غَيْرُ خَمْسِ نِسْوَةٍ: أُمُّ سُلَيْمٍ، وَأُمُّ الْعَلاَءِ، وَابْنَةُ أَبِي سَبْرَةَ امْرَأَةُ مُعَاذٍ، وَامْرَأَتَيْنِ؛ أَوِ ابْنَةُ أَبِي سَبْرَةَ، وَامْرَأَةُ مُعَاذٍ، وَامْرَأَةٌ أُخْرَى

Nabi pernah membaiat kita agar tidak menangis, namun ada 5 wanita yang tidak mematuhi baiat tersebut; Ummum Sulaim, Ummu al-‘Alla’, putri Subroh atau istri Mu’ad, dan 2 wanita lainnya atau putri Abi Subroh, istri Mu’ad, satu wanita lainya. (al-Lu’lu’ wa al-Marjan fi Ma Ittafaqa ‘Alaihi as-Syaikhon, h; 261).

حديث أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: لَمَّا غَسَّلْنَا بِنْتَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ لَنَا، وَنَحْنُ نَغْسِلُهَا: ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا

Baca Juga  Belajar Pada Konflik (Islam-Kristen) di Aceh: Bagaimana Hakikat Beragama?

Hadis dari ummu athiyyah, beliau berkata; di saat kami memandikan putri Nabi, Nabi bersabda; mulailah dengan anggota bagian kanannya dan area-area wudu’nya. (al-Lu’lu’ wa al-Marjan fi Ma Ittafaqa ‘Alaihi as-Syaikhon, h; 263).

Para sejawaran juga mengatakan bahwa beliau adalah satu-satunya sahabat yang mengatakan;

نُهَيْنَا عَنْ إتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

Kami dilarang oleh Nabi untuk mengikuti jenazah ke kuburan namun larangan itu tidak tegas pada kami. (HR. Al-Bukhori, j; 2, h; 87).

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani makna hadis ini adalah dimakruhkan bagi wanita untuk mengikuti jenazah ke kuburan. Dan beliau juga mengutip pendapat al-Qurtubi bahwa secara susunan redaksi hadis ini hanya menganduk makruh tanzih. Dan pendapat inilah yang dijadikan pedoman oleh mayoritas ulama. (Fath al-Bari Syarh Shohih al-Bukhori, j; 4, h; 320).

Di akhir hidupnya beliau menjadi imigran di kota Bashroh dan tak lama kemudian wafat di tempat yang sama dengan usia sekitar 70 tahun. (Dr. ‘athiyyah Abu an-Nur, Nisa’ fi Mauqib al-Fuqaha’, h; 11).

*Penulis: Asyrafkhan

Mahasiswa Pascasarjana Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo, Jawa Timur.

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan