Menu

Mode Gelap

Milenial · 1 Jun 2022 10:00 WIB ·

UAS dan Simpatisan Seharusnya Tidak Bersikap Begitu


					UAS dan Simpatisan Seharusnya Tidak Bersikap Begitu Perbesar

Jalanhijrah.com– Saya pikir kasus ini tidak perlu diperpanjang. Banyak narasi bertebaran yang mengafirmasi hal tersebut, dari argumen level alot hingga argumen yang berbobot dapat ditemukan dengan mudah. Sayang, simpatisan fanatik melihatnya dengan cara berbeda. Cara yang nampak tidak elegan yang tidak disertai dengan pikiran matang.

Cara bersikap mereka yang seperti itu agaknya tidak mengejutkan sama sekali, bahkan dengan mudah sudah bisa ditebak, termasuk endingnya. Karakteristik sikap mereka persis sama dengan simpatisan ulama garis kanan lainnya, keukeuh dan ngotot.

Tabiat demikian nampaknya bentukan dari lingkungan organisasi. Hal ini semacam sudah menjadi formula baku di kalangan mereka. Setelah ulama melakukan provokasi, maka para pengikut setia akan tanggap meresponsnya tanpa diskusi.

Hal yang seharusnya dilakukan

UAS, sebagai sumbu dalam persoalan ini, seharusnya tidak membiarkan para simpatisannya melakukan hal berlebihan. Tidak berlarut-larut dan berkepanjangan. Ia bertanggung jawab penuh atas ancaman-ancaman, hate speech, dan intimidasinyang bertebaran, baik di media sosial maupun di medan demonstrasi.

Ulama-ulama mereka juga seharusnya menjaga marwah dengan tidak turut nyemplung dalam persoalan ini, terlebih mengambil peran memprovakasi massa. Sebagai pihak yang diikuti oleh simpatisan fanatik, diharapkan para ulama ini dapat meredam emosi sosial dengan baik.

Tidak hanya ulama, para politisi pro-UAS pun seharusnya ikut mendamaikan, menenangkan, dan mendinginkan suasana, bukan sebaliknya. Justru, dengan setumpuk kepentingannya, mereka berkoar di berbagai panggung dan podium untuk mendapatkan simpati dari kalangan simpatisan.

Baca Juga  Kiai Said Aqil Sebut Terorisme dan Radikalisme Tantangan di Era 4.0

Momen ini, baik secara langsung maupun tidak, dijadikan kendaraan politik oleh para politisi nakal untuk mendulang suara pada perhelatan politik di tahun 2024. Tak heran, mereka gencar habis-habisan memikat massa dengan pembelaan-pembelaan yang memuat banyak intrik.

Tetapi bagaimana pun, pola mutlak itu akan tetap jadi panduan mereka dalam menghadapi persoalan serupa. Sekedar menebak, mengekalkan pola seperti itu sama sekali tidak akan membuat tujuan mereka tercapai. Masyarakat luas perlahan justru akan menghindar oleh sebab tindakan mereka yang tidak dewasa.

Masyarakat akan merasa risi, baik disebabkan karena sikap, pola pikir, maupun lingkungan yang penuh dengan gejolak. Masyarakat juga akan menyadari bahwa kecintaan terhadap agama tidak diukur dari seberapa fanatik mereka terhadap panutannya, melainkan sejauh mana mereka memberi kenyamanan dan keamanan bagi sesama, menghargai yang berbeda, dan menghormati hukum suatu negara.

Sikap simpatisan UAS yang seperti itu sejatinya bukan masalah jika hanya merugikan mereka. Tetapi akan menjadi persoalan jika sudah dikait-kaitkan dengan Islam. Terutama dari mereka yang berada di luar Islam. Dampaknya, Islam yang selama dipromosikan sebagai agama yang damai dan menghargai perbedaan, bisa hancur sebab segelintir umat yang mengatasnamakan pecinta ulama.

Alih-alih menyiarkan Islam ke seluruh belahan dunia, justru menyingkirkannya jauh-jauh tanpa rasa berdosa. Lalu letak dakwahnya di sebelah mana? Jujur, hal ini sangat disayangkan. Saya pikir, kalau saja terpaksa harus bersikap fanatik, seharusnya mereka mempertimbangkan dampaknya. Sekiranya akan berdampak buruk bagi agama, hindarilah. Kasus UAS ini sejatinya hanya antara dirinya dan pemerintah Singapura. Sudah.

Baca Juga  Kesalahan Pemahaman Amar Ma’ruf Nahi Munkar Kelompok Islam Ekstrem di Indonesia

Kita tahu bahwa UAS dan para simpatisannya, dalam konteks ini, sama sekali tidak berkaitan dengan Islam. UAS hanyalah calon pengunjung suatu negara yang tidak memenuhi kriteria dan karenanya ditolak. Sementara para pendukung akutnya menganggap bahwa yang demikian merupakan bentuk diskriminasi terhadap UAS. Menurut saya, Jaka Sembung bawa ember.

Penulis: Azis Arifin Mahasiswa Magister Pengkajian Islam SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Negara Islam Bukan Solusi, tapi Kelompok Khilafah Tetap Keukeuh Memperjuangkannya!

9 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Negara Islam Bukan Solusi, tapi Kelompok Khilafah Tetap Keukeuh Memperjuangkannya!

Cinta Pancasila dan NKRI sebagai Jimat Menangkal Intoleransi

9 Agustus 2022 - 12:30 WIB

Cinta Pancasila dan NKRI sebagai Jimat Menangkal Intoleransi

Bom JW Marriot, Kongo, dan Gaza: Apakah Tragedi Itu Akan Terjadi Lagi di Indonesia?

8 Agustus 2022 - 12:30 WIB

Bom JW Marriot, Kongo, dan Gaza: Apakah Tragedi Itu Akan Terjadi Lagi di Indonesia?

Urgensi Kerjasama NU dan Muhammadiyah Ciptakan Moderasi Islam Global

8 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Urgensi Kerjasama NU dan Muhammadiyah Ciptakan Moderasi Islam Global

Literasi Moderat, Kontra-Narasi, dan Upaya Melawan Khilafahisasi NKRI

7 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Literasi Moderat, Kontra-Narasi, dan Upaya Melawan Khilafahisasi NKRI

Rahasia Dibalik Tanggal, Bulan dan Tahun Kemerdekaan RI

7 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Rahasia Dibalik Tanggal, Bulan dan Tahun Kemerdekaan RI
Trending di Milenial