Home / Taubat / Terowongan Silaturahmi: Keislaman dan Pemaknaan

Terowongan Silaturahmi: Keislaman dan Pemaknaan

terowongan

Pada 1955, Soekarno berusaha membuat pengertian masjid saat memberi pengantar untuk buku susunan H Aboebakar. Buku tebal dan besar berjudul Sedjarah Mesdjid dan Amal Ibadah Dalamnja. Soekarno memberi pengertian mungkin tak berbekal kamus-kamus: “Mesdjid adalah tempat sutji. Djagalah agar supaja segala perbuatan dan tingkah-laku, segala perkataan dan uraian didalam mesdjid bersifat sutji pula.”

Soekarno memiliki pengalaman bermakna dengan tempat ibadah. Selama di pengasingan (masa 1930-an), ia tak sekadar mengalamai ibadah dalam masjid. Ia pun mengamati keberadaan tempat ibadah untuk agama berbeda. Ia bersahabat dengan tokoh-tokoh berbeda agama. Kesadaran mengenai Indonesia itu “bhinneka”. Lakon tempat ibadah untuk pelbagai agama perlahan memberi “petunjuk” kebersamaan dan kerukunan.

Pengantar atas nama Presiden Republik Indonesia mencantumkan keinginan besar: “Kapan Indonesia mempunjai mesdjid-mesdjid jang hebat, jang sedikitnja sama dengan mesdjid-mesdjid jang terlukis dalam kitab ini. Bila mungkin malahan lebih hebat?” Tahun-tahun berlalu, Soekarno menunaikan misi mengadakan masjid besar. Pada suatu masa, masjid itu dinamakan “Istiqlal”, merujuk sejarah Indonesia. Soekarno tak meramalkan jika masjid megah itu bakal “berjalin” dengan tempat ibadah berbeda dalam pengertian “dialog” dan “kerukunan”. Dua tempat ibadah dimengerti dengan ‘Terowongan Silahturahim’, diresmikan oleh Prabowo Subianto, 12 Desember 2024. Peristiwa penting dan bersejarah kelak terbaca oleh anak-cucu kita.

Masa lalu terbaca dalam penjelasan Aboebakar (1955) bagi kita ingin membandingkan dengan Masjid Istiqlal abad XXI: “Di tanah air kita Indonesia, bangunan-bangunan mesdjid sedikit benar mempunjai bentuk jang dapat menarik perhatian dan pemandangan. Kebanjakan mesdjid-mesdjid itu diperbuat dari pada konstruksi kaju atau bambu sebagai bahan-bahan jang mudah dan banjak terdapat didaerah kita. Biasanja mesdjid terdjadi dari pada sebuah rumah jang bersegi empat dengan atap jang bertingkat-tingkat, jang diperbuat dari pada daun rumbia atau idjuk, ditopang oleh beberapa tiang kaju empat buah jang besar ditengah-tenganja mendjulang sampai keatap jang tertinggi. Dindingnja ada jang terbuka, ada jang diperbuat dari pada papan atau tembok…” Penjelasan itu berubah saat Soekarno menginginkan masjid beton dapat berusia 1000 tahun terwujud menjadi Masjid Istiqlal.

Peristiwa penting di Jakarta untuk dua tempat ibadah dipertemukan terowongan itu memerlukan ingatan silam. Kita disadarkan Jakarta sebagai kota pertumbuhan tempat ibadah, sejak ratusan tahun lalu. Persembahan mengingat sejarah masjid justru diberikan oleh sejarawan beragama Katolik. Kita ingin menilik dan menghormati ikhtiar “silahturahim” kesilaman melalui buku berjudul Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (2003) susunan Adolf Heuken. Di buku, pembaca tak menemukan Masjid Istiqlal, masjid masih teranggap baru di Jakarta (Indonesia).

Heuken menerangkan: “Pengarang menyadari bahwa rumah ibadah mana pun tidak lepas dari umat yang membangun, memelihara, dan memilikinya. Tempat berdiri, gaya bangunan, denah dasar, perlengkapan interior dan lingkungan sekitarnya, semua itu berbicara juga tentang umat yang memakai rumah ibadah ini. Perbedaan-perbedaan di antara rumah ibadah aneka agama maupun di antara rumah-rumah sakah satu agama yang sama pun dapat menyajikan pengertian berharga tentang umat yang bersangkutan pada masa yang silam.” Heuken memang tak cuma menulis masjid-masjid tua di Jakarta. Di edisi berbeda, ia menulis tentang klentheng tua dan gereja tua di Jakarta.

Buku bisa menjadi referensi bagi orang-orang ingin mengetahui “percakapan” pelbagai tempat ibadah di Jakarta, dari masa ke masa. “Percakapan” erat sedang dibuat melalui “Terowongan Silahturahim” meski belum memberi penjelasan lengkap mengenai kesilaman dan masa depan. Heuken telah memberi petunjuk untuk sejarah dan perkembangan masjid di Jakarta abad XVIII dan XIX. Referensi bisa digenapi dengan album kesejarahan masjid abad XX. Masjid Istiqlal dapat menjadi sumber atau pusat dalam pemaknaan tempat ibadah dan jalinan-silahturahmi.

Azyumardi Azra (2003) menanggapi kajian Heuken: “Masjid, lebih daripada sekadar tempat menunaikan ibadah shalat, bahkan dalam dinamikan sejarah kaum muslimin, merupakan salah satu pusat terpenting peradaban Islam.” Buku bertema bertema masjid disusun tokoh beragama Katolik mendapat pengantar dan tanggapan dari cendekiawan beragama Islam. Kita mula-mula mengerti buku itu sudah mengandung “silahturahim”, sebelum penguasa, tokoh agama, dan umat mengartikan terowongan.

Pada 2010, terbit buku besar berjudul Masjid-Masjid Bersejarah di Jakarta dengan direstui Gubernur DKI Jakarta (Fauzi Bowo). Buku terbitan Erlangga itu bisa dibaca “susulan” atau “melengkapi” buku telah disajikan Heuken. Di situ, kita membaca fragmen sejarah Masjid Istiqlal. Kita mengikuti jejak perbedaan pendapat dalam pilihan tempat: “Bung Hatta menyarankan Masjid Istiqlal sebaiknya dibangun di sekitar Jl M Husni Thamrin, di dekat Hotel Indonesia. Alasannya lokasi itu di tengah-tengah kota.” Soekarno memilih lokasi di daerah bekas Benteng Citadel. Kita membaca: “Benteng Citadel merupakan monumen kolonial dan lambang penjajahan sebaiknya dibongkar dan digantikan oleh monumen nasional.” Pendapat dari Soekarno diwujudkan: benteng dibongkar berganti pendirian Masjiq Istiqlal. Pilihan tempat itu pantas terbaca untuk mengetahui sejarah dan geografi sebelum pembuatan “Terowongan Silahturahim” mempertemukan dua tempat ibadah di Jakarta: Masjid Istiqlal-Gereja Katedral (2024).

Kini, kita menunggu pelbagai pihak membuat pemaknaan dua tempat ibadah dan “Terowongan Silahturahim”. Pemaknaan dan pengalaman memerlukan pengisahan bersifat dokumentasi agar membentuk masa depan. Kita mengandaikan pembentukan tim bersama Masjid Istiqlal-Gereja Katedral dalam mengiringi babak-babak awal tafsir bermekaran untuk “silahturahim” di Jakarta. Begitu.

 

 

Bandung Mawardi

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/mozaik/ar-9p7Tj/terowongan-silaturahim–kesilaman-dan-pemaknaan