Beranda / Live / Gus Dur dan ‘Goes Door’

Gus Dur dan ‘Goes Door’

Para pembaca majalah masa Orde Baru dan setelah kejatuhan rezim Orde Baru (1998) dapat kewalahan bila membuat kliping bertema Gus Dur. Sumber-sumber kliping mudah ditemukan dalam majalah Tempo, Panji Masyarakat, Femina, Amanah, Kartini, Gatra, Matra,  Zaman, Horison, Humor, dan lain-lain. Halaman-halaman majalah memuat tulisan, berita, atau wawancara bersama Gus Dur dapat menjadi koleksi besar bagi pihak-pihak yang ingin mengadakan “museum”, “pusat dokumentasi”, atau “perpustakaan”.

Usaha membuat kliping memerlukan kecermatan dan keberuntungan. Pembaca kadang memberikan tatapan mata untuk majalah-majalah tak terduga demi lengkap dalam “membaca” dan “menghormati” Gus Dur. Ikhtiar membuat kliping memerlukan “pasukan” dan pendanaan besar dalam pengumpulan ribuan edisi majalah di seantero Indonesia.

Kita bakal membuat konklusi belum baku: Gus Dur besar dalam majalah-majalah. Gus Dur mendapat perhatian selama puluhan tahun untuk beragam kepentingan: dakwah, politik, seni, pendidikan, dan lain-lain. Gus Dur terus menjadi “alamat” menggairahkan bagi majalah-majalah dalam meninggikan ketegangan atau hiburan. Dulu, para pemaca terbiasa melihat foto-foto Gus Dur atau nama Gus Dur di halaman sampul ratusan majalah.

Di majalah Matra edisi Maret 1992, kita melihat foto perempuan tampak sedang mendarat dalam imajinasi terjun dari langit. Matra memang majalah memiliki gereget dalam garapan sampul. Para redaksi pun mahir dalam mengadakan rubrik-rubrik memikat para pembaca, terutama kaum pria. Di situ, kita membaca pencantuman kata-kata berhuruf besar: “Wawancara Abdurrahman Wahid: Pemilu & Apel Akbar 2 Juta Umat”. Kita diajak memikirkan situasi demokrasi masa Orde Baru.

Judul wawancara mengejutkan: “Saya Ini Makelar Akhirat”. Orang-orang sudah terbiasa dengan omongan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) itu unik, lucu, dan “gawat”. Pada masa 1990-an, Gus Dur moncer sebagai “pendekar demokrasi” meski mula-mula ia terbaca melalui kolom-kolom di beragam majalah. Pihak majalah Matra dalam pengantar memberi definisi Gus Dur: “Cuek, ramah, terbuka, terkadang hati-hati, dan sedikit urakan.” Kesan-kesan itu boleh diterima atau dibantah para pembaca.

Gus Dur memberi kalimat-kalimat jawaban mengandung “ramalan”. Ia dipancing menjawab masalah suksesi 1998. Kita simak jawaban Gus Dur sedang sibuk mengajak umat berdemokrasi: “Jadi, nantinya pengganti Pak Harto ada kemungkinan bukan militer. Tapi, sekarang di atas kertas, kekuatan yang efisien, efektif, dan teroganisir adalah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).” Gus Dur mengatakan itu sambil “memastikan” Soeharto tetap berkuasa sampai 1998.

Omongan itu terbukti. Pengganti di panggung kekuasaan setelah ambruk rezim Orde Baru: BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri. Militer mulai tampil lagi dengan kemonceran SBY. Kini, latar militer menentukan corak demokrasi Indonesia: Prabowo Subianto. Kita membaca lagi wawancara itu saat kesibukan akbar bertema demokrasi di seantero Indonesia. Desember: bulan mengetahui kalah-menang bagi orang-orang ingin berkuasa dan bulan bagi kita mengenang (kepergian) Gus Dur.

Di situ, kita masih menemukan penjelasan Gus Dur sebagai pembaca novel. Kalimat terbukti penting bagi umat sastra mau mengadakan peringatan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer dan pihak-pihak ingin mengajukan YB Mangunwijaya sebagai pahlawan. Gus Dur mengatakan: “Mangun dan Pram sama-sama bicara tentang keinginan membentuk masyarakat baru. Mangun berhenti pada gagasan-gagasan itu, sementara Pram melanjutkannya dengan mencoba memberikan jalan untuk mewujudkan gagasan itu. Dua-duanya sama memikat.”

Album kliping kadang membuat kita sadar “kesaktian” Gus Dur berdasarkan kejadian, latar zaman, dan derajat majalah. Matra itu sumber penting bagi usaha besar membuat kliping lengkap bertema Gus Dur. Kita tentu tak boleh abai dengan majalah-majalah lain untuk mengetahui Gus Dur.

Pada masa 2000-an, bermunculan majalah-majalah akibat kebijakan “baru” dalam pers. Dampak besar demokratisasi tampak dalam persaingan majalah-majalah dalam memikat para pelanggan dan pembaca. Sekian majalah baru berharap laris dan awet. Impian besar susah terwujud. Majalah-majalah itu cepat rampung tapi meninggalkan warisan tak bisa diabaikan.

Kita berhadapan dengan X! Magazine. Majalah itu menjadi sumber kliping bagi para penggemar tulisan-tulisan Ayu Utami, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, dan Dewi Lestari. Keinginan mengumpulkan tulisan mereka mengharukan membuka halaman atau rubrik sesuai selera zaman. Kita mengikuti dulu penjelasan redaksi tercantum dalam X! Magazine edisi Juni 2006: “… kami banyak sekali menerima surat pembaca yang bernada protes. Mereka rata-rata sangat menyayangkan dan mempertanyakan kenapa penampilan foto-foto X! jadi berubah? Kini, menurut mereka, X! sudah tidak seseksi dulu lagi. X! sudah tidak menggoda lagi. X! sudah kehilangan kenakalannya.”

Di situ, kita memang keseringan melihat foto-foto. Pembaca tetap bakal bergembira saat menemukan kliping-kliping bertema Gus Dur. Di halaman 47, sehalaman tulisan dalam rubrik dinamakan “Goes Door”. Penulisan itu diharapkan dibaca untuk mengarah kepada “Gus Dur”. Keterangan resmi: “Goes Door adalah rubrik khusus tentang Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang diasuh oleh Adhie M Massardi, juru bicara Gus Dur semasa ia masih menjabat Presiden RI dan setelahnya.” Kita pastikan rubrik “Goes Door” wajib masuk dalam album kliping Gus Dur.

Kita menemukan kutipan apik: “Gus Dur memang satu-satunya tokoh di negeri ini yang tak pernah berhenti bicara. Soal apa saja. Karena ia memang bisa bicara soal apa saja.” Ada hal dirindukan para wartawan dan pembaca. Kutipan lanjutan: “Cuma sejak gangguan pada penglihatannya semakin parah, ia berhenti bicara soal sepak bola. Itulah sebabnya setiap wartawan olahraga mencoba meminta pandangan Gus Dur soal bola, termasuk pentas akbar Piala Dunia yang sedang digelar di Jerman sekarang ini, ia menolaknya. ‘Karena saya sudah tidak mengikuti sepak bola,’ katanya. Jadi, kalau memang tidak menguasai masalahnya, Gus Dur memilih diam. Artinya, apa saja apa yang selama ini diucapkan Gus Dur pasti sudah dikuasainya.” Kita tetap saja mengenang Gus Dur dan sepak bola meski dalam episode tak panjang.

Di X! Magazine edisi Juli 2006, kita bertemu lagi rubrik “Goes Door”. Di situ, kita membaca pembelaan Adhie M Massardhi atas beragam bantahan atas sikap dan perkataan Gus Dur. Adhie secara santun balik menuntut pembuktian: “Coba sekarang terangkan kepada saya. Siapa yang menyangsikan keislaman Gus Dur itu? Sejak kapan dan di mana mereka belajar mengaji Islam? Berapa puluh buku keagamaan (Islam) yang pernah mereka baca? Apakah mereka itu kiai? Apakah bapaknya kiai? Apakah kakeknya juga kiai?” Kita malah tergoda menggunakan tulisan itu untuk turut menanggapi gegeran “gus” dan “habib” di Indonesia.

Pada tahun depan, kita menanti kerja mengumpulkan kliping bertema Gus Dur menghasilkan belasan jilid buku. Semua hasil wawancara di ratusan majalah, koran, dan tabloid penting mendapat pengutamaan disusun menjadi buku. Warisan bakal terbaca tanpa kedaluwarsa jika pembaca bermain tafsir dan menaruh dalam kecamuk zaman. Begitu.

 

Bandung Mawardi

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/mozaik/ar-HRJj3/gus-dur-dan–goes-door-