Home / Milenial / Reaktualisasi Resolusi Jihad Santri di Era Digital

Reaktualisasi Resolusi Jihad Santri di Era Digital

Reaktualisasi Resolusi Jihad Santri di Era Digital

Jalanhijrah.com- Surabaya membara. Kiai dan santri bahu membahu menyingsingkan baju melawan pasukan Belanda yang memboceng Sekutu. Kematian Jendral Mallaby pada 30 Oktober 1945 di Surabaya memicu kemarahan tentara Sekutu. Kemarahan para penjajah itu disambut oleh pasukan kiai dan santri yang dikenal dengan nama Hizbullah dan Sabilillah.

Walau Hizbullah dan Sabilillah pada akhirnya kalah, hari itu membuktikan bahwa bangsa Indonesia masih ada dan siap mempertahankan kemerdekaan. Niat Belanda untuk menguasai kembali Indonesia disambut dengan perlawanan sengit para pahlawan bangsa. Dan sejarah kemudian mencatat, hari itu, tanggal 10 November 1945 dikemudian hari dikenal sebagai Hari Pahlawan Indonesia.

Beberapa hari sebelum pecahnya perang 10 November 2022, di Surabaya, KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama mengumpulkan para ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura tanggal 21-22 Oktober 1945. Pada pertemuan selama dua hari itu, disepakati poin-poin penting. Salah satunya maklumat tentang perang melawan penjajah berhukum wajib ain bagi jiwa-jiwa yang berada di radius 94 km dari lokasi penjajah.

Sementara jiwa-jiwa yang berada di luar radius itu, hukumnya wajib kifayah. Setelah resolusi jihad para ulama disebarkan, maka berduyun-duyunlah para kiai dan santri mengeruduk Surabaya tempat para penjajah mendarat. Dari sana, pecahlah perang 10 November yang melegenda itu. Dan tanggal 22 Oktober sebagai tanggal lahirnya resolusi jihad yang memicu perang 10 November dirayakan sebagai Hari Santri Nasional.

Dunia Maya Membara

Dunia maya dan media sosial membara. Narasi kebencian dan ideologi kekerasan tersebar luas di dunia maya dalam berbagai bentuk. Ada tulisan, video pendek, meme hingga infografis yang didesain sedemikian rupa. Melalui portal, media sosial, hingga aplikasi perpesanan, narasi itu disebarluaskan..

Dengan perkembangan teknologi yang demikian pesatnya, narasi itu masuk ke rumah-rumah melalui gadget dan sambungan internet dengan mudah. Narasi itu lalu merangsek ke pikiran, dan meracuni otak. Tak peduli siapa yang menerimanya, asal tidak memiliki benteng yang kuat, pada akhirnya akan teracuni juga.

Narasi-narasi kebencian, ideologi kekerasan, perpecahan hingga mudah mengkafirkan sesama membuat dunia maya panas. Hal itu melahirkan generasi muda yang mudah marah. Belum lagi banyak akun abal-abal yang terus menerus menyebarkan narasi itu hingga membuatnya trending di media sosial.

Alhasil, di sana sini, muncul keretakan karena saling berebut kebenaran. Perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa pun jadi santapan sehari-hari. Polarisasi akhirnya terjadi dan terus meruncing. Itu semua masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan narasi menegakkan khilafah yang demikian menggema di dunia maya.

Jika terus dibiarkan, semua itu akan menjadi bom waktu yang mengerikan. NKRI terancam!

Santri Bergerak

Atas semua fenomena itu, para santri memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi jangkar penjaga kapal bernama NKRI. Sejak dulu, para santri memiliki peran yang demikian besarnya dalam memerdekakan Indonesia. Maka, pada saat ini pula, para santri juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga NKRI dari para pemecah belah.

Tentu bukan itu perkara mudah. Di sinilah, diperlukan reaktualisasi resolusi jihad yang dikeluarkan oleh para ulama terdahulu. Penting kiranya untuk selalu memperbaharui resolusi jihad sesuai tantangan pada setiap zaman. Dengan begitu, resolusi jihad para santri akan selalu aktual karena diperbaharui menyesuaikan tantangan zamannya.

Jika dahulu para santri melawan para penjajah, maka di era saat ini, para santri juga melawan penjajah. Bedanya, penjajah yang dilawan para santri di era digital seperti ini adalah penjajah di dunia maya. Penjajah yang dilawan adalah mereka yang menyebarkan narasi kebencian, kekerasan, perpecahan dan juga narasi khilafah. Itu yang harus dilawan oleh para santri.

Jika dulu para santri menggunakan bambu runcing untuk mengusir penjajah, maka pada saat ini, HP dan perangkat teknologi canggih lainnya yang menjadi senjata untuk melawan para perusuh dunia maya.

Harapannya, perayaan Hari Santri Nasional di tahun 2022 ini tidak hanya semata dirayakan secara seremonial belaka. Jika selesai perayaan, lupa makna dan arti sebenarnya. Para santri harus bersatu dan bergerak bersama. NKRI sedang terancam dan sudah menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa, termasuk para santri untuk membelanya. Reaktualisasi resolusi jihad bisa terus digaungkan agar para santri tidak lupa akan jati dirinya.

Di sisi lain, produksi konten-konten yang menyejukkan dan mengeratkan persatuan harus diperbanyak. Konten-konten itu harus disebarluaskan dengan masif sebagai antitesis konten-konten kekerasan yang sudah tersebar terlebih dahulu. Akun-akun influencer para santri harus bergerak serentak mengedukasi followersnya untuk jangan berhenti menjadi jangkar penjaga NKRI.

Sudah barang tentu, itu tak semudah yang dipikirkan dan yang dikatakan. Perlu kerja sama yang kompak agar reaktualisasi resolusi jihad di era digital ini sukses menggerakkan para santri melawan kaum makar yang membahayakan keutuhan NKRI.

Penulis

Nur Rokhim

Tag: