Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 18 Mar 2022 12:00 WIB ·

Ragu Batal Wudhu’ atau Tidak, Haruskah Wudhu’ Lagi?


					Ragu Batal Wudhu’ atau Tidak, Haruskah Wudhu’ Lagi? Perbesar

Jalanhijrah.com– Salah-satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadas kecil. Untuk bisa suci dari hadas kecil caranya adalah dengan berwudhu’. Satukali wudhu’ bisa digunakan untuk melakukan shalat berkali-kali. Tentu saja ketentuan ini berlaku bila tidak ada hal-hal yang membatalkan wudhu’. Namun tak jarang timbul keraguan dalam benak seseorang, apakah wudhu’nya telah batal atau tidak. Sementara posisinya hendak menunaikan shalat. Lantas haruskah ia berwudhu’ lagi?

Jika seseorang ragu apakah wudhu’nya batal atau tidak maka wudhu’nya dihukumi tidak batal sehingga ia tidak perlu wudhu’ lagi ketika hendak menunaikan shalat. Sebab, pada dasarnya wudhu’ yang ia punya tidak batal dan tetapnya wudhu’ tidak bisa dirusak oleh keraguan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw;

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخْرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Apabila salah seorang dari kalian mendapati sesuatu dalam perutnya lalu ragu apakah keluar sesuatu (semisal kentut) atau tidak maka janganlah keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau. (HR. Muslim)

Hadis ini memberikan pemahaman bahwa wudhu’ tidak batal lantaran keraguan yang tidak beralasan. Wudhu’ baru dihukumi batal jika diyakini telah terjadi hal-hal yang membatalkan wudhu’. (Murā’atu al-Mafātih [Juz II hal: 25])

Syekh Abu al-‘Alā menukil pendapat Imam Nawawi dalam kitabnya Tuhfatu al-Ahwadzi Juz I halaman 208 mengatakan;

Baca Juga  Perempuan Yang Bercerai Pada Pernikahan Dini, Apakah Harus Iddah?

مَنْ تَيَقَّنَ الطَّهَارَةَ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ حُكِمَ بِبَقَائِهِ عَلَى الطَّهَارَةِ ولا فرق بين حصول هذا الشَّكِّ فِي نَفْسِ الصَّلَاةِ وَحُصُولِهِ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ

“Barangsiapa meyakini dirinya telah berwudhu sebelumnya lalu ragu apakah wudhu’nya batal atau tidak, maka wudhu’nya dihukumi tidak batal. Baik keraguan ini muncul dalam shalat atau di luar shalat. Ini merupakan pendapat Mazhab Syafi’i dan Mayoritas Ulama baik dari generasi Salaf maupun Khalaf.”

Sampai disini bisa ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang punya wudhu’ lalu ragu apakah wudhu’nya batal atau tidak, tetap dihukumi punya wudhu’. Oleh-karenanya ia tidak perlu berwudhu’ lagi bila hendak menunaikan shalat.

Sebagai penutup, seyogyanya dalam menjalankan ibadah seorang muslim jangan sampai terjebak ke dalam keraguan yang tak berasalasan. Sebab keraguan yang tak beralasan adalah bisikan setan. Rasulullah Saw. bersabda;

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَأْتِي أَحَدَكُمْ فَيَنْفُخُ بَيْنَ إِلْيَتَيْهِ، وَيقُولُ: أَحْدَثْتَ، أَحْدَثتَ، فَلاَ يَنْصَرِفَنَّ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً، أَوْ يَجِدَ رِيحاً

“Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian lalu meniup di antara pantatnya seraya berbisik “Engkau telah berhadas, engkau telah berhadas”. Maka jangan sekali-sekali beranjak (untuk berwudhu’ lagi) sampai ia mendengar suara atau mencium bau”. (HR. Bukhari)

Wallahu a’lam bi-shawab.

Artikel ini telah dibaca 24 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian