Beranda / Uncategorized / Jangan Asal Sebarkan Informasi, Al-Qur’an Ingatkan Setiap Kabar Akan Dipertanggungjawabkan

Jangan Asal Sebarkan Informasi, Al-Qur’an Ingatkan Setiap Kabar Akan Dipertanggungjawabkan

jalanhijrah.com – Kemudahan mengakses media sosial membuat setiap orang tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat menjadi penyebarnya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat diteruskan kepada ratusan bahkan ribuan orang. Namun, kecepatan tersebut juga menghadirkan risiko ketika informasi dibagikan tanpa memastikan terlebih dahulu kebenarannya.

Islam sejak jauh hari telah mengajarkan pentingnya kehati-hatian dalam menerima maupun menyampaikan informasi. Salah satu pengingat tersebut terdapat dalam QS. Al-Isra ayat 36 yang melarang manusia mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar pengetahuan.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT juga menegaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan bagian yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pesan ini menunjukkan bahwa apa yang didengar, dilihat, kemudian dipercaya hingga disampaikan kepada orang lain bukanlah perkara tanpa konsekuensi.

Jangan Jadikan Dugaan sebagai Fakta

Di era digital, seseorang dapat dengan mudah menerima potongan video, tangkapan layar, pesan berantai, maupun unggahan yang belum diketahui asal-usulnya. Persoalan muncul ketika informasi tersebut langsung dianggap benar hanya karena telah beredar luas atau berasal dari orang yang dikenal. Padahal, banyaknya orang yang menyebarkan suatu informasi tidak otomatis menjadikannya benar.

Karena itu, seorang Muslim dituntut memiliki dasar yang jelas sebelum menyampaikan sebuah kabar. Apa yang belum diketahui kebenarannya sebaiknya tidak disampaikan sebagai fakta. Prinsip tersebut sekaligus mengajarkan pentingnya melakukan verifikasi atau tabayyun sebelum mempercayai dan meneruskan informasi.

Sikap ini menjadi semakin penting ketika sebuah kabar berkaitan dengan nama baik seseorang, tuduhan, konflik, maupun isu yang dapat memicu keresahan di tengah masyarakat.

Telinga, Mata, dan Hati Memiliki Tanggung Jawab

QS. Al-Isra ayat 36 secara khusus menyebut tiga hal, yakni pendengaran, penglihatan, dan hati. Ketiganya menjadi jalur utama manusia dalam menerima dan mengolah informasi.

Pendengaran mengingatkan manusia agar tidak mengaku mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah didengar. Penglihatan menuntut seseorang tidak mengklaim menyaksikan sesuatu yang tidak benar-benar dilihat. Sementara hati berkaitan dengan bagaimana manusia menilai, meyakini, dan mengambil sikap terhadap informasi yang diterimanya.

Dengan demikian, tanggung jawab terhadap informasi tidak hanya dimulai saat seseorang menekan tombol “bagikan”. Tanggung jawab tersebut telah dimulai sejak informasi diterima, diperiksa, kemudian diyakini.

Bijak Bermedia Sosial Menjadi Bagian dari Akhlak

Pesan Al-Qur’an tersebut memiliki relevansi kuat dengan kehidupan masyarakat saat ini. Media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan kebaikan, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi ruang berkembangnya fitnah, prasangka, maupun kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, kemampuan menahan diri untuk tidak langsung menyebarkan informasi merupakan salah satu bentuk kehati-hatian yang penting. Sebelum membagikan sebuah kabar, setidaknya perlu dipastikan dari mana informasi berasal, apakah sumbernya dapat dipercaya, apakah informasi tersebut benar, serta apa dampak yang mungkin muncul setelah disebarkan.

Pada akhirnya, Islam mengajarkan bahwa kebebasan menerima dan menyampaikan informasi selalu berjalan bersama tanggung jawab. Tidak semua hal yang didengar harus diceritakan, tidak semua yang terlihat harus langsung disimpulkan, dan tidak setiap informasi yang muncul di layar harus segera dibagikan.

Sebab, apa yang didengar, dilihat, diyakini, dan disampaikan manusia pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Tag: