Jalanhijrah.com- Rabi’ bin Khutsaim sejak kecil sudah dikenal sebagai anak yang takut berbuat dosa kepada Allah. Beliau juga dikenal sebagai anak yang cerdas dan pandai, serta mendurhakai Allah Taala.
Beliau adalah salah seorang ulama tabiin yang terkenal. Beliau adalah murid sahabat Rasulullah saw., yaitu Abdullah bin Mas’ud ra.. Beliau adalah seorang pembelajar yang setiap hari terbiasa salat malam, sering memuhasabahi dirinya, mengingat-ingat kesalahannya, dan menangis karena takut kepada Allah Taala.
Pernah suatu ketika ibunda beliau terbangun di tengah malam dan melihatnya masih berada di tempat salat. Ibundanya berkata, “Wahai anakku, tidakkah engkau tidur?” Beliau menjawab, “Bagaimana bisa tidur seseorang yang takut siksa?” Maka ibundanya menangis dan mendoakan putranya agar mendapatkan kebaikan.
Itulah kebiasaan baik dari seorang Rabi’ bin Khutsaim sejak kecil. Akhlak dan perilaku beliau setara dengan para sahabat Rasulullah Saw., hanya saja beliau tidak pernah bertemu dengan Baginda Rasulullah Saw.
Ibnu Mas’ud sangat menyayangi muridnya yang satu ini. Sampai beliau mengatakan, “Wahai Rabi’, seandainya Rasulullah saw. melihatmu tentulah beliau mencintaimu.” Selain itu, beliau juga berkata, “Setiap kali melihatmu aku teringat pada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah Taala.”
Rabi’ bin Khutsaim adalah ulama yang sangat takut terhadap neraka. Seorang temannya pernah menceritakan, “Suatu hari kami pergi bersama Abdullah bin Mas’ud ke suatu tempat bersama Rabi’ bin Khutsaim. Ketika perjalanan kami sampai di tepi sungai Eufrat, kami melewati suatu perapian besar tempat membakar batu bata. Apinya menyala berkobar-kobar. Terbayang akan kengeriannya, jilatan api yang berkobar dengan dahsyat, gemuruh suara percikan apinya dan gemertak batu bata yang sudah dimasukkan ke dalamnya, Rabi’ bin Khutsaim yang melihat perapian besar itu terpaku diam di tempatnya. Kemudian tubuhnya menggigil karena ingat neraka. Lalu Rabi’ bin Khutsaim membaca firman Allah Swt.:
إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ سَمِعُوا۟ لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا . وَإِذَآ أُلْقُوا۟ مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُّقَرَّنِينَ دَعَوْا۟ هُنَالِكَ ثُبُورًا
Artinya: “Jika neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan jika mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 12-13).
Suatu ketika Abdur Rahman bin Ajlan pernah menceritakan kesan pertemuannya dengan Rabi’ bin Khutsaim. ”Saya pernah bermalam dengan al-Rabi’, dan ketika ia yakin bahwa saya telah tidur, secara diam-diam ia bangun, melaksanakan salat tahajud. Dalam salatnya ia berulang-ulang membaca ayat:
أَمْ حَسِبَ ٱلَّذِينَ ٱجْتَرَحُوا۟ ٱلسَّيِّـَٔاتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَوَآءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ
Artinya: ”Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)
Sahabat muslimah, selayaknya kita juga takut terhadap Allah Swt., takut mengundurhakai-Nya dan takut jika kelak dimasukkan ke dalam neraka. Sudah semestinya kita tidak berbuat dosa dengan sengaja, menyakiti orang lain, sebagai tanda orang yang berilmu.
Satu pesan dari Rabi’ bin Khutsaim agar kita senantiasa ikhlas dalam beramal dan tidak mengharapkan pujian orang: “Setiap amal yang bukan karena wajah Allah maka akan lenyap (sia-sia).”










